Bambang Ekalaya

0

Ekalaya adalah putra Prabu Hiranyadanu dari Negeri Nisada yang kemudian mewarisi takhta ayahnya. Prabu Ekalaya juga dikenal dengan nama Palgunadi. Ia dikenal sebagai raja yang tampan, sakti dan beristri cantik dan setia yang bernama Anggraini. Dalam Wayang Purwa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Ekalaya bukan raja Nisada melainkan raja Paranggelung.

Ketika mendengar tentang adanya seorang guru pandai yang bernama Resi Drona, ia datang ke Kerajaan Astina dan melamar untuk menjadi muridnya. Namun keinginannya itu tidak terlaksana, sebab Begawan Drona telah berjanji hanya akan mengajarkan ilmunya pada para Kurawa dan Pandawa saja. Karena tidak diterima menjadi murid, Ekalaya lalu mencuri dengar setiap kata-kata Drona, sewaktu guru besar itu sedang mengajar. Setelah itu, ia pun tekun berlatih mempraktekkan ajaran Drona, karena ketekunannya, lama kelamaan, ilmu yang dimiliki Ekalaya sebanding dengan Arjuna, terutama dalam ilmu memanah.

Suatu hari ketika Ekalaya alias Palgunadi sedang berlatih memanah di hutan, seekor anjing pemburur datang mendekat lalu menggonggongnginya.Ekalaya mencoba mengusir, tetapi binatang itu tetap saja menggonggong. Lama-lama, habislah kesabaran Ekalaya. Diambilnya tujuh buah anak panah, dipasang pada busurnya, dan dengan sekali bidik, ketujug anak panah itu melesat dan menancap tepat ke moncong anjing itu.

Tidak lama kemudian, datanglah pemilik anjing itu, yang ternyata adalah Arjuna. Waktu itu Arjuna sedang berburu dengan ditemani anjingnya. Ketika melihat anjingnya mati dengan tujuh buah anak panah menancap sekaligus di moncongnya,ia marah. Namun selain marah karena kematian anjingnya, Arjuna juga merasa kagum sekaligus cemburu karena keahliannya dalam hal ilmu memanah kini ada yang menyainginya.

Sebagai orang yang selama ini dikenal paling ahli memanah, Arjuna merasa tidak akan sanggup membidik sasaran dengan sekaligus dengan tujuh buah anak panah seperti yang dilakukan oleh pembunuh anjingnya. Dengan hati amat penasaran, Arjuna mencari orang yang telah membunuh anjingnya tersebut.
Akhirnya, Arjuna bertemu dengan Ekalaya dari negeri Paranggelung. Kepada Arjuna, Ekalaya juga mengaku bahwa keahliannya memanah didapat dari Begawan Drona, yang dianggap sebagai gurunya.

Setelah mendengar keterangan itu, Arjua buru-buru kembali ke Istana Astina. Hatinya marah karena merasa dikhianati oleh gurunya, Begawan Drona.  Arjuna menuduh Begawan Drona telah menyalahi janjinya untuk memberikan seluruh ilmunya hanya pada Arjuna.

Drona yang merasa tidak mengingkari janjinya, membantah jika telah mengajarkan ilmu memanah pada orang lain. Begawan Drona juga membantah jika ia kenal dengan seorang pria yang bernama Ekalaya. Untuk meyakinkan Arjuna bahwa Ekalaya bukan muridnya, Drona lalu minta dipertemukan dengan pria bernama Ekalaya itu. Arjuna lalu membawa gurunya itu ke pertapaan kecil tempat dimana tempat Ekalaya.

Di Pertapaan itu, Begawan Drona melihat sebah patung yang menyerupai dirinya. Sementara itu, ekalaya begitu bahagia melihat kedatangan Begawan Drona. Segera ia menghaturkan sembah hormat, layaknya seorang murid menyambut kedatangan gurunya.

Setelah saling memperkenalkan diri, Drona bertanya : “ Ekalaya, siapa yang telah mengajarkan kepadamu keahlian memanah?”

Ekalaya : “ Paduka Guru yang hamba hormati.”
Drona : “ Apakah engkau belajar atas izinku?”
Ekalaya : “ Tidak, Paduka Guru. Karena kelancangan ini, hamba mohon beribu-ribu maaf..”
Drona  : “ Aku maafkan, tapi.. aku sebagai gurumu menuntut kesetiaan dan kepatuhanmu selaku sebagai seorang murid.”
Ekalaya : “ Hamba akan selalu setia dan patih, Paduka Guru.”
Drona : “ Sebagai bukti kesetiaan dan kepatuhanmu, aku minta engkau memberikan ibu jari tangan kananmu. Apakah kau bersedia memberikannya?”

Ekalaya berpikir sejenak. Hatinya ragu. Pada ibu jari tangan kanan Ekalaya sejak lahir terpasang cincin Mustika Ampal pemberian dewa. Cincin itu telah ada sejak ia lahir. Namun, karena Ekalaya memang ingin sekali berbakti pada Resi Drona, permintaan itu akhirnya dipenuhi. Ibu Jari tangan kanannya segera dipotong sendiri dan diserahkan pada Drona.

Dengan demikian, Ekalaya tidak dapat memanah dengan baik, karena tangan kanannya kini tinggal memiliki empat jari saja.

Sesudah menerima ibu jari tangan Ekalaya, Begawan Drona lalu memberikannya pada Arjuna. Terjadilah keajaiban, jari tangan Ekalaya seketika menempel ke tangan kanan Arjuna, sehingga sejak saat itu, tangan kanan Arjuna berjari enam.

Suatu saat, secara kebetulan Arjuna dengan Dewi Anggraini yang sedang berjalan seorang diri. Arjuna terpikat akan kecantikan istri Ekalaya itu. Dengan berbagai cara Arjuna berusaha agar Anggraini mau menjadi istrinya, walaupun ia tahu bahwa wanita itu telah bersuami.

Namun, sedikitpun Anggraini tidak tergoda. Akhirnya Arjuan menggunakan cara kekerasan. Akibatnya, untuk menyelamatkan kehormatannya, Anggraini bunuh diri dengan cara terjun ke dalam jurang.

Peristiwa ini membuat Ekalaya marah dan menuntut perang tanding dengan Arjuna. Ekalya tahu, sejak ia kehilangan Mustika Ampal di ibu jarinya, ia tidak sanggup membidik sasaran dengan baik. Namun demi kehormatan istrinya dan kebanggaan dirinya, ia terpaksa menantang Arjuna. Akhirnya Ekalaya memang kalah. Ia gugur terkena panah Arjuna.

Menjelang ajalnya, Ekalaya sadar bahwa Begawan Drona telah menipunya dengan meinta ibu jari tangan kanannya. Maka, ia pun mengucapkan kutukannya akan membalas dendam pada saat Baratayuda pecah. Arwahnya akan menyusup ke tubuh seorang ksatria muda yang pernah berguru kepada Drona. Ternyata kutukan itu  terbukti. Dalam Baratayuda, Drona akhirnya mati di tangan Drestajumena, putra Prabu Drupada yang disusupi arwah Bambang Ekalaya.

Waktu itu, ketika Begawan Drona sedang bingung dan kehilangan kesdaran sesudah mendengar berita kematian Aswatama. Drestajumena membabat leher Drona dengan pedang.

Dalam pewayangan kisah kematian Bambang Ekalaya dikisahkan sebagai berikut.
Ketika Arjuna mengejar-negjar Dewi Anggraini, perbuatannya dipergoki oleh ASwatama, putra Begawan Drona. Aswatama segera menegur Arjuna serta mengingatkan bahwa perbuatan semacam itu tidak pantas bagi seorang ksatria bangsawan semacam Arjuna. Namun, Arjuna tidak pedulli dan bahkan mereka pun berkelahi.

Kesempatan itu digunakan Dewi Anggraini untuk lari pulang ke Paranggelung dan mengadu perbuatan Arjuna kepada suaminya, Prabu Ekalaya. Namun Palgunadi tidak mempercayai laporan istrinya itu. Sepengetahuannya Arjuna adalah ksatria utama, tidak mungkin melakukan perbuatan nista seperti itu. Palgunadi justru menuduh Anggraini sengaja mengadu-adu dirinya agar bermusuhan dengan Arjuna, dan bilamana ia mati, aka nada alasan bagi Dewi Anggraini untuk bisa diperistri Arjuna. Prasangka buruk Palgunadi terhadap Anggraini ini akhirnya lenyap, setelah Aswatama datang dan membenarkan semua pengaduan Dewi Anggraini.

Ekalaya menjadi marah, kemudian mendatangi Arjuna dan menantangnya. Tantangan itu pun dilayani Arjuna, walaupun dalam hatinya ia merasa bersalah. Ekalaya akhirnya gugur dalam perang tanding itu dan Dewi Anggraini bunuh diri setelah mendengar berita kematian suaminya.

 

sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia-Sena Wangi

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply