Batara Baruna

0

Batara Baruna atau Saghyang Baruna dalam serat Paramayoga adalah putera Dewi Gangga, cucu sanghyang Heramaya. Namun menurut Mahabharata, Batara Baruna adalah putera maharesi Kasyapa yang lahir dari Dewi Aditi, puteri Sanghyang Daksa, cucu Batara Brahma.

Dalam serat Uttarakanda menyebutkan, Batara Baruna adalah dewa yang termasuk “Catur Lokapala”. (Lokapala 4 : Indra, Yama, baruna, Kuwer).

Batara Brama menguasai alam air dan seisinya. Kahyangannya ada di dasar samudra. Istrinya yang terkenal adalah Dewi Diwi dan Dewi Mitra. Sanghyang Baruna hanya memiliki satu putera yaitu maharsi Agastya.

Batara Baruna senang memberikan pertolongan dan nasihat kepada manusia di bumi seperti; Saat Maharsi Ricika (Ayah dari Maharsi jamagdani atau eyangnya Ramaparasu) ingin melamar Dewi Setyawati, Puteri Prabu Gandi raja negara Kanyakawya. Saat itu Maharsi Ricika dimintai syarat berupa kuda berjumlah seribu, dengan ules merah dan telinga sebelah warnanya harus sama yaitu hitam. Dengan bantuan Batara Baruna lah, Sang Maharsi bisa memenuhi persyaratan itu.

Saat Prabu Ramawijaya memimpin wadyabala/pasukan kera untuk menyerang ke negeri Alengka, perjalanan mereka terhalang oleh lautan. Batara Baruna mendatangi Ramawijaya dan memberikan nasihat agar membuat bendungan/tambak. Dengan nasihat Batara Baruna, ia pun meminta pasukan kera yang dipimpinnya untuk membuat bendungan/tambak samudra tersebut hingga akhirnya mereka bisa sampai ke negeri Alengka.

Batara Baruna juga memiliki seorang puteri yang bernama Dewi Urangayu yang menjadi istri Anoman, dan memiliki seorang putera bernama Tringangga. Namun sebelum menjadi istri Anoman, Dewi Urangayu adalah selir Prabu Dasamuka dan memiliki seorang putera bernama Pratalamariyam (Kuntalamariyam) atau Bukbis. Tringangga sejak kecil ikut ibunya di Kandabumi bersama Pratalamariyam.

Kepada Trigangga dan Pratalamariyam, Dewi Urangayu menjelaskan bahwa keduanya adalah putera Prabu Dasamuka. Trigangga pun percaya dengan apa yang dikatakan ibunya. Oleh karena itu setiap Pratalamariyam mengunjungi ayahnya, Pabu Dasamuka di Alengka, Trigangga selalu ikut.Dengan begitu ia semakin yakin bahwa Prabu Dasamuka adalah ayahnya, tanpa ia sadari bahwa ayahnya yang sebenarnya berada di pertapaan Kendhalisada.

Batara Baruna memiliki watak yang penuh cinta dan kasih sayang kepada semua makhluk. Ia sangat sayang kepada kedua cucunya. Keduanya diajarkan ilmu keutamaan,kepemimpinan, kekuatan, peperangan dan ilmu ajian.

Keduanya mewarisi ilmu dari eyangnya, Batara Baruna. Untuk menambah kesaktiannya, Kuntalamariyam/Bukbis meminta kepada eyangnya agar diberi kesaktian sehingga ia tak akan terkalahkan oleh putera Prabu Dasamuka yang lain. Maka Batara Baruna memberinya ajian “Guntur Dahana” yang berpusat di matanya. Siapapun yang menatap matanya akan gosong.

Sedangkan Trigangga diberi kesaktian bisa memasuki alam jin, semua jin takhluk dan tunduk kepada Trigangga.

Oleh karena itu, Prabu Dasamuka sangat sayang kepada Kuntalamariyam dan Trigangga, meskipun ia tahu bahwa salah satu dari mereka bukanlah lah keturunannya.

Di ksatrian Kandhabumi, Kuntalamariyam dan Tringgangga dihormati dan disayangi oleh rakyatnya karena kebijaksanaan dan kasih sayang mereka kepada rakyatnya. Itu semua tidak lepas dari ajaran yang diberikan eyangnya, Batara Baruna.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply