Batara Guru Krama

0

Seorang saudagar bernama Omaran (Umaran) , yang tidak punya tempat tingal tetap, karena selalu berkeliling dari kerajaan yang satu ke kerajaan lainnya. Isterinya bernama Dewi Nurweni, adalah anak raja Gandarwa (jin). Mereka mempunyai seorang puteri bernama Uma.

Saat Uma lahir dari rahim ibunya, ia bukan berupa bayi biasa, melainkan berwujud segumpal cahaya merah yang saat lahir segera melesat ke angkasa. Cahaya itu melayang kesana-kemari. Sang ayah segera mengejarnya dan mencoba menangkapnya, namun selalu gagal.

Akhirnya, cahaya itu hinggap di puncak Gunung Tengguru, suatu tempat yang dikuasai para gandarwa. Di tempat itu, Umaran lalu bersemadi, mohon pada Yang Maha Kuasa agar anaknya yang berwujud cahaya itu dapat diwujudkan menjadi bayi biasa.

Do’anya terkabul, cahaya ajaib itu menjelma menjadi seorang bayi, tetapi memiliki kelainan. Bayi itu berkelamin  ganda. Setelah berujud bayi, Umaran membawa anaknya ke Kerajaan Merut dan memberi nama bayi itu, Umayi. Umaran dan istrinya memelihara anaknya  dengan penuh kasih sayang.

Umayi ternyata tumbuh menjadi seorang gadis yang amat cantik, walaupun ia tetap berkelamin ganda. Sejak remaja, Umayi  atau Uma, gemar menuntut ilmu, gemar bertapa, sehingga akhirnya ia memiliki kesaktian yang sulit dicari tandingannya.

Berita dan cerita mengenai kesaktian dan kecantikan Dewi Uma terdengar oleh Batara Guru, penguasa kahyangan. Pemuka dewa itu mendatangi Dewi Uma untuk menyaksikan sendiri gadis cantik yang didengarnya dari orang-orang. Namun, kedatangan Batara Guru ternyata sudah diketahui oleh Dewi Uma.

Untuk menguji kesaktian Batara Guru, gadis itu mengubah wujudnya menjadi seekor ikan turbah dan terjun ke dasar samudra. Pada awalnya, Batara Guru bingung karena tidak dapat segera menemukan gadis yang dicarinya. Namun setelah mengamalkan kesaktiannya, ia tahu bahwa Dewi Uma sengaja mempermainkan dirinya dengan mengubah ujudnya menjadi ikan di dasar samudra.

Batara Guru segera memburu ikan jelmaan Dewi Uma itu di lautan, saat nyaris tertangkap, ikan itu menjelma kembali menjadi seorang gadis yang segera melesat ke angkasa. Batara Guru menyusulnya, terjadi kejar-menegjar di angkasa. Namun, setiap kali hendak tertangkap, Dewi Uma selalu saja dapat meloloskan diri. Dengan begitu, usaha Batara Guru untuk meringkus gadis cantik yang lincah dan sakti itu selalu gagal.

Karena kesal dan penasaran, Batara Guru lalu memohon kepada Sang Hyang Wenang, agar diberi tambahan sepasang tangan supaya dapat menangkap Dewi Uma. Permohonannya terkabul. Seketika itu juga tumbuh dua tangan baru di bahu Batara Guru, sehingga sejak itu, dewa itu bertangan empat. Setelah bertangan empat, barulah Dewi Uma dapat ditangkap.

Sebagai hukuman, karena merasa kesal, Batara Guru mencabut semua kesaktian yang dimiliki Dewi Uma. Batara Guru kemudian meruwat Uma sehingga alat kelamin prianya hilang. Sesudah menjadi wanita yang sempurna, Batara Guru kemudian memperistrinya.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply