Batara Surya Krama

0

Batara Surya yang bertempat tinggal di Kahyangan Ekacakra menerima dua bidadari kakak beradik sebagai istrinya yang bernama Dewi Ngruna dan Dewi Ngruni. Sementara puteri Batara Wisnu yang  bernama Dewi Kastapi dalam perkawinannya dengan burung Brihawan membuahkan dua telur. Kemudian atas perintah Bathara Guru, dua telur itu diberikan kepada Dewa Ngruna dan Dewi Ngruni.

Telur milik Dewa Ngruna setelah dierami seekor ular, menetas menjadi dua ekor burung yang diberi nama Sempati dan Jatayu. Sedangkan telur milik Dewi Ngruni menetas seekor ular besar yang diberi  nama Naga Gombang, dan yang kecil diberi nama Sawer Wisa.

Anak-anak yang berupa burung dan ular itu ternyata sangat sulit untuk diawasi. Mereka semua nakal. Kedua bidadari itu lalu mengadakan teka-teki ,barangsiapa yang kalah akan menjaga anak-anak itu, Dewi Ngruni memberikan pernyataan, “ Apakah yang terlihat di sana itu? Sapi jantan atau sapi betina?”.

Ternyata Dewi Ngruni tidak bisa menebaknya , dan ia merasa malu karena kebodohannya. Ketika itu juga, ular-ular datang dan membela ibunya dan segera burung itu mematuk ular-ular sampai mati.

Karena marah oleh peristiwa itu, Dewi Ngruna mengutuk Ngruni, katanya : “Dinda Ngruni bertindak seperti raseksi, jika akan menolong anak-anaknya”.

Seketika itu juga,ia berubah ujudnya menjadi raseksi dan setelah ia sadar apa yang terjadi, ia segera lari menemui Bathara Surya agar dapat mengatasi masalah yang dihadapinya itu. Atas saran suaminya,ia diminta menemui Bathara Wisnu yang merupakan kakeknya dari telur-telur tadi, agar dapat meruwatnya.

Setelah peristiwa itu, Sempati yang disertai Jatayu pergi bertapa di Gunung Windu, sedangkan ular-ular sangat terkejut melihat ibunya menjadi raseksi, mereka melarikan diri terjun ke samudera.

Sementara di kahyangan, kehidupan para dewa tidak tentram karena menerima ancaman Prabu Sengkan Turunan dari Kerajaan Parangsari yang menginginkan Dewi Ngruna dan Ngruni untuk dijadikan permaisurinya. Prabu Sengkan Turunan dengan bala tentara raksasa menyerang Kahyangan Suralaya. Para dewa tidak dapat menandingi kesaktian para raksasa itu.

Dewi Ngruni atas saran suaminya menemui  Batara Wisnu. Batara Wisnu menyatakan bahwa ia bersedia meruwatnya. Tetapi syaratnya, ia harus menculik putri Prabu Sengkan Turunan yang bernama Retna Jatawati. Dibantu oleh garuda Jatayu, Dewi Ngruni akhirnya berhasil membawa Dewi Jatawati.

Sementara itu, Jatayu juga berhasil menghancurkan para tentara raksasa. Prabu Sengkan Turunan sangat marah setelah mengetahui bahwa pasukannya hancur. Ia segera menyerang Suralaya dengan membabi buta. Prabu Sengkan Turunan berhadapan dengan Jatayu. Pertempuran berlangsung sengit, namun akhirnya Jatayu berhasil mengalahkan Prabu Sengkan Turunan.

Batara Wisnu sangat gembira atas kemenangan Jatayu, sebagai pernyataan terimakasih, Batara Wisnu menganugerahkan Retna Jatawati sebagai istri Jatayu.

Sesuai dengan janjinya, Dewi Ngruni diruwat sehingga ujudnya berubah menjadi bidadari yang cantik seperti semula dan tetap tinggal di Nguntarasegara. Setelah melihat isterinya menjadi bidadari kembali, Batara Surya membujuk untuk kembali ke pangkuannya, tetapi Dewi Ngruni menolak. Ia bersedia kembali kepada Batara Surya setelah diperintahkan oleh raja para dewa, Batara Guru.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply