Bathara Kamajaya Lambang Pria Sempurna

0

Bathara Kamajaya adalah putera Sanghyang Ismaya dengan Dewi Sanggani, puteri Sanghyang Wenang yang kesembilan. Bathara Kamajaya dikenal berwajah tampan dan sempurna.

Bathara Kamajaya menjadi lambang laki-laki yang sempurna di kahyangan, seperti halnya Arjuna yang menjadi kesempurnaan lelaki di dunia.

Bathara Kamajaya berkedudukan di kahyangan Cakrakembang, permaisurinya bernama Dewi Ratih, puteri Bathara Soma.

Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih sering menjadi lambang kerukunan suami-istri karena mereka sangat rukun, tidak pernah bertengkar, saling percaya dan saling mencintai.

Bathara Kamajaya sangat sayang dengan Arjuna, dan selalu bersedia membela dan membantu Arjuna. Dalam lakon Cekel Indralaya, Bathara Kamajaya menjaga kesucian Dewi Wara Sumbadra, karena Arjuna sedang menjalani tapa brata di padhepokan Banjarmelati.

Dengan tidak adanya Arjuna di samping Dewi Wara Sumbadra, dimanfaatkan oleh para Korawa untuk menggoda istri Arjuna tersebut yang tinggal di Banoncinawi.

Dalam lakon Partadewa saat Pandawa murca dan Arjuna sedang bertakhta di kahyangan Batahara Indra, Bathara Kamajaya membela kerajaan Amarta dari penguasaan Korawa.

Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih sangat dikenal terutama di tanah Jawa. Sehingga jika ada seorang calon ibu yang mengandung bayi pertamanya, dalam acara tujuh bulanan atau “mitoni” ada syarat berupa buah kelapa gadhing yang masih muda atau cengkir gading yang digambari bathara Kamajaya dan Dewi Ratih.

Harapannya, jika nanti bayi yang lahir adalah laki-laki bisa memiliki wajah yang tampan seperti Bathara Kamajaya dan jika lahir perempuan bisa memiliki wajah dan watak yang cantik seperti Dewi Ratih.

Bathara Kamajaya memiliki pusaka berupa panah Cakrakembang, yaitu panah yang wujudnya seperti Bungan Pancawisaya.

Dalam lakon Cakrakembang, Bathara Kamajaya dapat tugas untuk membangunkan Bathara Guru yang sedang bertapa karena Kahyangan saat itu diserang wadyabala raksasa Kala Nilarurdaka yang membuat kerusuhan dan kerusakan di Suralaya.

Dengan panah sakti Kemayan Bunga Pancawisaya, Bathara Kamajaya berhasil membangunkan Bathara Guru.

Bathara Kamajaya sering turun ke Arcapada untuk membantu Arjuna dan memberikan petunjuk pada Arjuna saat satria Pandawa sedang menghadapi masalah.

Saat turun ke bumi, bathara Kamajaya menyamar menjadi raksasa hutan yang diiringi permaisurinya yang berwujud raseksi. Namun terkadang, Bathara kamajaya beralih wujud menjadi macan kumbang (harimau kumbang).

Dalam lakon partadewa, saat Arjuna menjadi raja untuk para bidadari di kahyangan Tinjamaya, bergelar Prabu Kiritin,  membuat praja Amarta tidak ada yang memimpin.

Dengan bertakhtanya Arjuna di kahyangan Tinjamaya menyebabkan Puntadewa, Werkudara, Nakula dan Sadewa meninggalkan keraton Amarta untuk mencari Arjuna.

Melihat kerajaan Amarta tidak ada yang memimpin, Bathara Kamajaya tidak tega, akibatnya Bathara Kamajaya turun ke Bumi dan menduduki takhta kerajaan Amarta, memimpin Amarta dan bergelar Prabu Partadewa. Tujuannya hanya ingin menjaga Amarta agar tidak dikuasai  oleh para Korawa.

Setelah Puntadewa, Werkudara, Nakula dan Sadewa berhasil menemukan Arjuna dan semua sudah kembali lagi ke Amarta, Bathara Kamajaya kemudian menyerahkan kerajaan kepada Prabu Puntadewa kembali.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply