Bersatunya Bima dan Arimbi

0

Pada suatu haru saat Bima sedang asyik menebang pohon untuk membuka hutan, datanglah seorang Dewi dari sebuah kerajaan. Dewi itu adalah seorang raksasa, putri kerajaan Pringgodani yang bernama Arimbi, dia sedang melintas di hutan Amarta. Dewi itu mendekati Bima, dan dia terpesona dan jatuh cinta kepada Bima. Namun dia sadar bahwa ia adalah seorang raksasi, sedangkan Bima adalah seorang ksatria yang gagah, ia mulai berkecil hati. Tetapi karena begitu terpesonanya dia dengan Bima, dia menghampiri Bima dan memeluk kaki Bima secara tiba-tiba dan seolah tidak ingin melepasnya.

Bima tentu saja tidak suka dengan perbuatan Dewi itu, karena mengganggu pekerjaannya. Ia mengibaskan kaki yang dipeluk Arimbi hingga ia terjatuh. Dewi Kunti, ibu Bima ternyata melihat kejadian itu. Dia tahu bahwa Dewi itu menyukai putranya. Maka dia datang menolong Dewi Arimbi sambil berkata, “Kasihan sekali Dewi yang cantik ini terjatuh di hutan seperti ini.” Kemudian dilihatnya anaknya Bima, dan berkata, “Lihatlah anakku, alangkah cantiknya Dewi ini!”

Mendengar apa yang dikatakan ibunya, Bima mencoba untuk melihat wajah Dewi Arimbi. Dan memang Dewi itu cantik juga, tetapi tubuhnya saja yang besar sekali tidak seperti wanita pada umumnya. Namun Bima berpikir, bahwa Dewi itu cocok dengan badannya yang juga tinggi besar.

Dewi Kunti kemudian mengajak Dewi Arimbi kearah tempat tinggal Pandawa di hutan Amarta. Sambil berjalan, Dewi Arimbi mulai memperkenalkan dirinya, dia memperkenalkan siapa namanya dan darimana asalnya. Tidak lama kemudian Bima menyusul pulang ke rumah. Sesampai di rumah, didapatinya kakaknya Puntadewa (Yudistira) sedang bercakap-cakap dengan Dewi Arimbi. Yudistira memanggilnya, “ Adikku Bima, kemarilah, putri ini berasal dari Pringgodani, namanya Dewi Arimbi. Dia ingin melanjutkan perjalanan pulang ke Pringgodani, Apakah kamu bersedia mengantarkannya?”.

 “Apapun perintah kakang akan aku laksanakan” demikian Bima menjawab. Tidak lama kemudian, Dewi Kunti keluar membawa sebungkus bekal dan memberikannya kepada anaknya, Bima, sambil berkata “ Ini anakku, bawa bekal ini, antarkan Dewi ini ke Pringgodani.”

Berangakatlah Bima dan Dewi Arimbi ke istana kerajaan Pringgodani.Sesampai di istana, Dewi Arimbi langsung menghampiri ayahnya dan menceritakan semua yang terjadi. Dia juga  mengatakan bahwa ia menyukai ksatria yang mengantarnya, yang tak lain adalah Bima. Ayah Arimbi kemudian menanyakan asal-usul Bima dan menanyakan mengapa ia tinggal di hutan. Bima menceritakan semua hal tentang asal-usulnya dan kejadian sejak mereka dikhianati saudara , Korawa dan keluar dari sumur Jatalunda serta mendapatkan hadiah dari raja Wirata.

Mendengar jawaban Bima, Ayahanda Arimbi tidak keberatan apabila putrinya akan menikah dengan Ksatria Pandawa itu. Kemudian ia bertanya kepada Bima, apakah benar ia mau memperistri anaknya. Bima tertegun sejenak, dan ia menjawab bersedia. Dewi Arimbi yang memang sangat terpesona dan mencintai Bima, tentu saja girang hatinya. Mendengar jawaban Bima, Ayah Arimbi kemudian meminta agar Bima segera memberitahukan hal itu kepada ibu dan saudara-saudaranya. Bima kemudian meminta diri untuk pulang ke hutan Amarta.

Sementara di Hutan Amarta, tidak lama setelah Bima pergi mengantar Dewi Arimbi,datanglah Patih Nirbata,  utusan Raja Wirata Prabu Matswapati, bersama dengan rombongannya, ikut pula para putera raja Raden Seta, Raden Utara dan Raden Wratsangka. Raden Seta menanyakan kepada Yudistira, dimana gerangan Bima. Yudistira kemudian menceritakan kejadian sehari kemarin. Raden Seta tersenyum mendengar apa yang diceritakan Yudistira, dia kagum dengan kekuatan dan kesaktian yang dimiliki Bima, yang mampu mengalahkan Rajamala yang sangat ditakuti seluruh rakyat Wirata.

Pekerjaan membuka hutan menjadi cepat selesai dengan datangnya Patih Nirbata. Dan terbukalah sebuah daerah yang cukup luas untuk didirikan sebuah tempat tinggal, yang mungkin bisa berkembang menjadi desa, kota bahkan kerajaan.

Bratasena sejak kedatangannya langsung memberitahukan kepada ibunya, bahwa raja kerajaan Pronggodani telah berkenan mengambilnya sebagai mantu. Dewi Kunti bahagia mendengar kabar itu dan langsung memberitahukan kabar tersebut kepada anak-anaknya yang lain dan juga rombongan Patih Nirbita, para pangeran kerajaan Wirata, dan para prajurit.

Mendengar kabar yang disampaikan Dewi Kunti, Patih Nirbata mengatakan bahwa semua senang dan berkenan untuk ikut mengantarkan Bima ke negeri Pringgodani untuk menghadiri pesta perkawinan Bima dengan Dewi Arimbi. Maka bersiaplah mereka ke negeri Pringgodani. Tidak lama kemudian berangkatlah mereka ke istana kerajaan Pringgodani.

Selang satu hari setelah kedatangan rombongan Pandawa, pernikahan segera dilangsungkan, dan raja mengumumkan hal itu kepada rakyatnya. Setelah itu diadakan pesta untuk menyambutnya. Semua rakyat Pringgodani berduyun-duyun ingin melihat wajah Ksatria yang menjadi suami Dewi Arimbi itu.

Setelah pernikahan dan pesta dilangsungkan, Bima memboyong istrinya ke hutan Amarta, tentu dengan seijin ayah dan ibunda Dewi Arimbi. Sesampainya di hutan Amarta rombongan Patih Nirbata meminta diri untuk langsung pulang ke kerajaan Wirata. Tinggalah Pandawa dan ibunya serta Dewi Arimbi di Hutan Amarta.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply