Bima Kacep

0

Dewi Arimbi merasa kesal hatinya, karena sudah lama suaminya, Arya Werkudara belum kembali. Ia pun merencanakan akan mencari suaminya dengan adiknya, Kalabendana. Adiknya menyarankan agar ditanyakan dulu kepada Betara Guru, untuk mengetahui apakah Werkudara masih hidup atau mati. Namun, Kalabendana menolak ketika disuruh menghadap Betara Guru sendirian, ia meminta agar Dewi Arimbi juga ikut serta. Maka terbanglah Dewi Arimbi dan Kalabendana  untuk menghadap Bathara Guru.

Di kahyangan Dewi Uma dihadap oleh Emban Suntul Kenyut, ia sedang bermuram durja karena sedang jatuh cinta kepada satria Jodipati, Arya Werkudara. Ia bingung bagaimana jika hal itu sampai diketahui oleh Hyang Girinata.

Dalam pembicaraan itu diketahui, Arya Werkudara sedang tidak ada di Jodipati. Ia sedang bertapa dengan cara tidur Pucang Sewu. Pelayanannya menyarankan Dewi Uma untuk menggoda Arya Werkudara. Dewi Uma merasa lega dan meminta pelayanannya ikut untuk menunjukkan jalan ke Pucung Sewu.

Keduanya pun berangkat dengan memperhatikan keempat penjuru angin dan pusatnya, demikian pula diperhatikan barangkali terlihat sinar (teja) yang berasal dari tubuh Bima. Setelah diketahui tempat pertapaan Bima, pelayanannya menyarankan agar dapat cepat sampai ke tujuan, Dewi Uma akan didukung saja oleh Emban Suntul dan dibawanya terbang.

Sementara di kahyangan Junggring Saloka, Bathara Guru yang dihadap oleh Hyang Kanekaputra dan para dewata merasa terpukul dan heran atas kepergian Dewi Uma tanpa izin. Batara Guru menanyakan kepada Bathara Narada dimana Dewi Uma berada. Bathara Narada memberitahu agar permaisuri Bathara Guru itu dicari ke Pucang Sewu. Batharqa Guru dan Bathara Narada pun segera menuju Pucang Sewu.

Di Pucang Sewu, Arya Werkudara sedang bertapa dengan jalan tidur. Ia bertapa agar pada perang besar nanti dapat memenangkan peperangan. Ia sudah bertapa selama lima belas hari dan tidak akan berhenti sebelum keinginannya terkabul. Karena merasa sudah cukup lama namun belum ada tanda-tanda bahwa permohonannya akan terkabul, ia merasa sedih. Karena kuatnya bertapa, kahyangan sampai bergetar yang berakibat Dewi Uma dan para Bidadari lainnya terpengaruh.

Dewi Uma yang didukung oleh Emban Suntul Kenyut telah sampai di atas Pucang Sewu dan melihat sinar (teja) yang keluar dari tubuh Bima. Dewi Uma pun memberanikan diri menuju tempat Bima bertapa. Dewi Uma memegang kaki Bima untuk membangunkannya. Bima terkejut karena merasa kakinya dipegang oleh seorang wanita. Bima pun bertanya apa yang dikehendaki Dewi Uma.

Demi Uma menjawab bahwa ia ingin membantu terlaksananya keinginan Bima. Dewi Uma kemudian balik bertanya kepada Werkudara, apa yang diinginkannya sehingga ia melakukan tapa tidur itu. Bima menjawab agar ia dapat memenangkan perang yang akan terjadi.

Dewi Uma sanggup membantu terlaksananya hal itu dengan disaksikan oleh embannya. Mendengar jawaban Dewi Uma, Bima merasa tertarik kepada Dewi Uma karena Dewi Uma sengaja menggodanya. Hingga keduanya pun lupa diri.

Bathara Guru marah besar ketika sampai di Pucang Sewu ketika menjumpai isterinya dan Werkudara sedang memadu kasih. Dengan membawa pusaka Kyai Cis Jaludara Bathara Guru mendekati mereka agar berpisah, namun keduanya tidak dapat dipisahkan. Maka pusaka itu kemudian dikenakan antara keduanya, dengan tak disangka-sangka senjata itu memotong phallus Bima yang karena mantra Bathara Guru berubah menjadi senjata Angking Gobel.

Bima merasa malu sekali, demikian dengan Dewi Uma. Bima pun meminta ampun kepada Bathara Guru. Bima kemudian disuruh kembali ke negaranya oleh Bathara Guru. Demikian pula Dewi Uma kembali ke Suralaya, ia hamil dan nanti melahirkan anak yang dinamakan Bimadari, anak inilah yang menolong Bima dalam perang besar Barata.

Bathara Guru menjelaskan kepada bathara Narada bahwa Angking Gobel itu nanti dapat dipakai untuk membasmi hama padi Ginjah Klepon.

Setelah Bima dan Dewi Uma pergi, Bathara Guru menanyakan kepada Bathara Narada bagaimana caranya dapat membalas dendam. Bathara Narada menyarankan agar Bathara Guru menggoda Dewi Arimbi, apalagi Bima sudah tidak mempunyai kejantanan lagi.

Bathara Guru pun menuruti nasihat Bathara Narada. Namun ia bingung dimana dia dapat menemui Dewi Arimbi. Bathara Narada mengatakan bahwa Dewi Arimbi sedang mencari Bima bersama Kalabendana. Bathara Guru harus mencarinya dan agar keinginannya dapat terlaksana, ia harus mengubah diri menjadi Bima.

Bathara Guru yang telah menyamar menjadi Bima bertemu dengan Dewi Arimbi, Kalabendana girang sekali ketika melihat Bima. Demikian juga dengan Bima (gadungan) yang bertemu dengan isteri yang telah cukup lama ia tinggalkan. Ia kemudian meminta agar Kalabendana memisahkan diri. Dewi Arimbi yang merasa rindu karena telah lama tidak bertemu dengan suaminya, tidak menolak ketika diajak memadu kasih oleh Bima, tanpa mengetahui bahwa itu Bima (palsu).

Saat mereka berdua sedang memadu kasih, Bima (asli) lewat tempat itu. Ia marah sekali melihat Dewi Arimbi bersama Bima (gadungan). Dewi Arimbi menjadi bingung, kenapa ada dua Bima. Lama kelamaan Bima (gadungan) tidak dapat menghadapi Bima (asli), sehingga ia berubah kembali menjadi Batara Guru. Bima terkejut dan bertanya mengapa Batara Guru menginginkan isterinya. Dijawab oleh Batara Guru bahwa perbuatannya itu hanya untuk membalas dendam. Setelah jelas persoalannya, mereka pun kembali ke asal masing-masing.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply