Dewi Sinta

0

Sita atau Shinta adalah salah satu tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana. Ia adalah istri dari Sri Rama yang merupakan tokoh utama dalam kisah tersebut. Dalam bahasa Sansekerta kata Sita memiliki makna “kerut”, “kerut” merupakan istilah puitis pada zaman India Kuno, yang menggambarkan aroma kesuburan. Selain Sita, ia juga memiliki banyak nama, antara lain, Sebagai puteri raja Janaka, maka ia dipanggil Janaki. Sebagai puteri Mithila, ia dipanggil Mathili, dan sebagai istri dari Raama, ia dipanggil Ramaa. Sita juga dikenal dengan nama Waidehi, hal itu karena ia berasal dari kerajaan Wideha. Menurut pandangan Hindu, Sita atau Shinta merupakan reinkarnasi dari Laksmi, dewi keberuntungan, istri Dewa Wisnu.

Dalam Ramayana, Sita adalah puteri Janaka, raja Kerajaan Wideha. Dikisahkan, suatu ketika kerajaan Wideha dilanda kelaparan. Sebagai raja, janaka kemudian melakukan upacara atau yadnya di suatu area ladang, diantaranya yaitu dengan cara membajak tanahnya. Tiba-tiba mata bajak Raja Janaka membentur sebuah peti dan ternyata berisi seorang bayi perempuan. Bayi itu lalu dipungutnya dan diangkat menjadi anak.

Sita dibesarkan di istana Mithila, ibu kota Wideha oleh Janaka dan Sunayana, permaisurinya. Setelah Sita menginjak usia dewasa, Janaka mengadakan sayembara untuk menemukan pasangan yang tepat bagi putrinya. Barang siapa yang berhasil membentangkan busur pusaka anugerah Dewa Siwa, yang maha beratnya, dialah yang berhak mendapatkan putrinya. Sayembara itu akhirnya dimenangkan oleh Sri Rama, seorang pangeran dari Ayodhya. Setelah menikah, Sita pun dibawa suaminya ke Ayodhya dan tinggal disana.

Dasarata sudah tua dan ingin mengangkat Sri Rama menjadi penggantinya. Tetapi keinginan sang raja ditentang oleh istri keduanya, Kaikeyi yang menginginkan Bathara, puteranya yang menjadi raja Ayodhya penerus ayahnya. Kaikeyi pun meminta agar Dasarata membuang Rama ke hutan selama 14 tahun.

Dasarata terpaksa menuruti keinginan sang istri, karena ia sudah terkikat sumpah. Sebagai putera yang berbakti, Rama pun menerima dan menjalani keputusan sang ayahanda dengan ikhlas. Akhirnya ia pergi mengembara ke hutan, Sita dengan setia menemani suaminya. Begitu juga dengan Laksmana, adik Sri Rama lain ibu.

Selama hidup di hutan, mereka banyak bergaul dengan para pendeta dan brahmana, sehingga menambah ilmu dan pengetahuan mereka. Tetapi mereka juga sering bertemu dengan pasukan raksasa dari Alengka yang bertugas di Janastana. Rama dan Laksmana pun tidak segan-segan menghabisi para raksasa itu karena sering mengganggu kaum Brahmana.

Suatu saat, mereka juga bertemu dengan seorang reksasi yang menyamar menjadi seorang puteri yang cantik. Raksasi itu bernama Surpanaka, ia ingin menjadikan Rama sebagai suaminya. Namun Rama menolak, sang raksasi kemudian merayu Laksmana, tetapi Laksmana juga menolak. Karena terus menganggu, akhirnya Laksmana kesal dan mengarahkan pedangnya kepada Surpanaka yang menyebabkan hidung Surpanaka terluka.

Surpanaka dengan penuh rasa malu mengadu kepada kakaknya, Rahwana, raja bangsa Raksasa dari kerajaan Alengka. Rahwana pun marah dan ingin menuntut balas kepada Rama. Dengan bantuan Marica, ia melancarkan rencana pembalasannya.

Marica menyamar menjadi seekor kijang berbulu keemasan dan menampakkan diri di sekitar pondokan Rama. Sita tertarik dengan kijang itu dan ingin memilikinya. Maka ia meminta kepada Rama untuk menangkapnya. Awalnya Rama tidak mau, karena ia tahu bahwa itu bukanlah kijang biasa, tetapi karena terus didesak istrinya, maka ia pun mengejar dan berusaha menangkap kijang jelmaan itu.

Rama mengejar kijang itu sampai ke tengah hutan,ia kemudian memanahnya, namun seketika kijang itu berubah wujud menjadi Marica. Saat Marica sekarat, ia mengerang keras dengan menirukan suara Rama. Mendengar suara itu,Dewi Sita merasa ada sesuatu yang buruk menimpa suaminya, maka ia pun meminta Laksmana untuk menyusul Rama.

Awalnya Laksmana menolak, karena ia yakin kalau kijang tersebut adalah jelmaan raksasa yang sekaligus meniru suara jeritan Rama. Sita marah mendengar jawaban Laksmana dan menuduh adik iparnya itu berkhianat dan memiliki maksud kurang baik. Laksmana tersinggung mendengar tuduhan kakak iparnya itu, maka ia terpaksa menuruti apa yang menjadi perintah Sita.Tapi sebelum Laksmana pergi, ia membuat lingkaran pelindung agar tidak ada orang jahat yang mampu menculik Sita.

Sementara Rahwana menyamar menjadi seorang brahmana tua yang sedang kehausan dan meminta minum. Ia mencoba untuk masuk ke dalam pondok untuk mendekati Sita, tetapi ia tidak bisa karena terhalang pagar gaib Laksmana.

Sita yang merasa kasihan, mengulurkan tangannya untuk memberi minum sang brahmana tua. Namun, tiba-tiba sang brahmana menarik lengan Sita dan membawanya kabur. Brahmana tua itu kemudian berubah ke wujud aslinya yaitu Rahwana, dan membawa Sita terbang di udara.

Suara tangisan Sita terdengar oleh seekor burung tua bernama Jatayu, ia adalah sahabat baik Dasarata ayah Rama. Jatayu berusaha menyelamatkan Sita tetapi ia justru kalah dan terluka parah. Sita dibawa kabur oleh Rahwana, namun Sita sempat menjatuhkan perhiasannya ke tanah sebagai petunjuk untuk Rama.

Sesampainya di istana kerajaan Alengka, Sita ditawan di dalam sebuah taman yang sangat indah, bernama Taman Asoka.Sebenarnya selama di tawan, Sita selalu mendapat perlakuan baik dari Rahwana. Namun, sebagai seorang istri yang setia, Sita selalu berdoa dan berharap agar Rama segera datang menolongnya.

Pada suatu hari, munculah seekor wanara datang menemui Sita di Taman Asoka. Wanara itu bernama Hanoman, dia mengaku sebagai utusan Rama. Awalnya Sita tidak percaya, namun Hanoman lalu menyerahkan cincin milik Sita yang dulu dibuang ketika diculik Rahwana. Cincin itu telah ditemukan Rama.

Saat itu, Hanoman juga mengajak Sita untuk meninggalkan Alengka bersama dirinya. Namun Sita menolak, karena ia ingin Rama yang datang sendiri ke Alengka untuk merebutnya dari tangan Rahwana dengan gagah berani. Hanoman pun tidak bisa memaksa Sita, ia kembali  dan menyampaikan hal itu kepada Rama.

Dengan bantuan Sugriwa, raja bangsa wanara di Kiskenda, serta Wibisana adik Rahwana, Rama berhasil mengalahkan kerajaan Alengka. Setelah kematian Rahwana, Rama pun menyuruh Hanoman untuk masuk ke dalam istana menjemput Sita. Hal ini sempat membuat Sita kecewa karena sebenarnya ia berharap Rama yang datang sendiri menjemputnya.

Setelah mandi dan bersuci, Sita akhirnya menemui Rama. Ternyata Rama merasa sangsi terhadap kesucian Sita, karena istrinya itu sudah tinggal di dalam istana musuh dalam waktu yang cukup lama. Menyadari hal itu, Sita pun menyuruh Laksmana untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya dan membuat api unggun.Sita kemudian melompat ke dalam api tersebut. Dari dalam api tiba-tiba  muncul Dewa Brahma dan Dewa Agni mengangkat tubuh Sita dalam keadaan hidup. Hal itu membuktikan bahwa Sita masih Suci sehingga Rama pun dengan lega menerima kembali Sita.

Rama, Sita dan Laksmana lalu kembali ke Ayodhya, mereka disambut oleh Bharata dengan upacara kebesaran. Bharata kemudian menyerahkan takhta kepada Rama, kakaknya, sebagai raja. Dalam pemerintahannya, terdengar desas-desus di kalangan rakyat yang meragukan kesucian Sita.

Rama merasa tertekan mendengar berita itu, maka ia memutuskan untuk membuang Sita yang sedang mengandung ke dalam hutan. Semasa pembuangan, Sita ditolong seorang resi bernama Walmiki dan ia diberi tempat tinggal.

Setelah usia kandungannya cukup, Sita melahirkan sepasang anak kembar dan diberi nama Lawa Kusa. Keduanya dibesarkan dalam asrama resi Walmiki dan diajari nyanyian yang mengangungkan nama Ramacandra, ayah mereka.

Suatu saat, Rama mengadakan upacara Aswamedha. Ia melihat dua pemuda kembar yang muncul dan menyanyikan sebuah lagu indah yang menceritakan tentang kisah perjalanan dirinya dulu. Rama pun akhirnya menyadari kalau kedua pemuda itu adalah Lawa dan Kusa, puteranya sendiri.Rama pun meminta Lawa dan Kusa untuk membawa ibunda mereka , Sita untuk kembali ke Ayodhya.

Dalam pewayangan Jawa, Sita disebut dengan gelar Rakyan Wara Sinta, dan ia lebih dikenal dengan nama Sinta. Ia disebutkan sebagai puteri kandung Rahwana.

Dikisahkan, Rahwana jatuh cinta kepada seorang pendeta bernama Widawati. Namun Widawati menolak cintanya dan memilih bunuh diri. Rahwana pun bertekad untuk mencari dan menikahi reinkarnasi Widawati.

Atas petunjuk gurunya yang bernama Resi Maruta, Rahwana mengetahui kalau Widawati akan menitis sebagai puterinya sendiri. Namun saat istrinya yang bernama Dewi Kanung melahirkan, Rahwama pergi untuk memperluas jajaham. Akhirnya bayi perempuan yang dilahirkan Kanung, diambil Wibisana, dan dibuang di sungai dalam sebuah peti. Wibisana kemudian menciptakan seorang bayi laki-laki dari mega di langit. Maka bayi itu kemudian diberi nama Megananda atau terkenal dengan nama Indrajit.

Sementara, bayi perempuan yang dibuang Wibisana terbawa aliran sungai dan sampi ke wilayah kerajaan Mantili. Bayi itu kemudian ditemukan dan diangkat anak oleh Janaka, raja kerajaan Mantili, dan diberi nama Sinta. Sinta menikah dengan Rama, pangeran kerajaan Ayodhya.


Dalam pewayangan Jawa, setelah berhasil mengalahkan Rahwana dan menyelamatkan Sinta, Rama tidak menjadi raja di Ayodhya, tetapi ia membangun kerajaan baru bernama Pancawati.

Dari perkawinannya dengan Rama, Sinta melahirkan dua orang putera bernama Ramabatwala dan Ramakusiya. Ramabatlawa menurunkan raja-raja kerajaan Mandura, anatara lain basudewa dan Kresna.

Kresna versi Jawa disebut sebagai reinkarnasi Rama, sedangkan adiknya yang bernama Subadra disebut sebagai reinkarnasi Sinta.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply