Jagal Abilawa

0

Prabu Matswapati memanggil Raden Utara dan Wratsangka untuk menghadap. Ia menanyakan mengapa Patih Kencakarupa dan Rupakenca tidak datang menghadap dirinya. Raden Utara menjawab bahwa Patih Kencakarupa sedang mengadakan pertandingan adu jago. Kencakarupa memiliki jago Rajamala. Utara juga mengatakan bahwa ia sudah maju berkali-kali dan bahkan mengeroyok Rajalama, namun tidak ada satu pun yang bisa menaklukannya.

Prabu Matswapati kemudian berkata  bahwa dikeroyok seberapapun orangnya, Rajamala tidak akan terkalahkan karena mereka bukan tandingannya. Ia lalu meminta Utara dan Wratsangka untuk menanyakan kepada Wijakangka (Yudhistira) di Ketandan, apakah ia memiliki jago terbaik yang bisa menandingi Rajamala.

Setelah menghaturkan sembah kepada Prabu matswapati, Raden Utara dan Wratsangka mohon undur diri dan berangkat ke Ketandan untuk menemui Wijakangka.

Setibanya di Ketandan, mereka berjumpa dengan Wijakangka dan langsung menyampaikan apa maksud kedatangannya. Wijakangka pun  menyanggupi dan mencarikan jago yang pas untuk melawan Rajamala, yaitu Jagal Abilawa (Werkudara). Mereka bertiga kemudian segera menuju Jagal Walakas.

Namun yang dicari ternyata tidak ada dan mendengar bahwa adiknya berada di hutan, segera mereka mencarinya. Tetapi begitu sampai di tempat, ternyata Abilawa sedang tidur. Mereka mencoba untuk membangunkan Abilawa namun tetap saja tidak bergeming. Wijakangka kemudian mencabut buluk kaki Abilawa sehingga Abilawa terbangun dan marah-marah. Ia hendak menangkap dan membanting Wijakangka. Namun Wijakangka kemudian mengingatkan bahwa ia adalah kakaknya. Kemarahan Abilawa pun mereda.

Setelah suasana tenang, Raden Utara mengutarakan maksud kedatangan mereka bertiga yaitu untuk meminta kesanggupan Abilawa untuk menjadi jago melawan Rajamala. Abilawa menyanggupi permintaan Raden Utara dan kemudian mereka pergi bersama-sama ke kepatihan untuk bertarung dengan Rajamala.

Sementara Pamadi ( Arjuna) yang diikuti Punakawan yang berada di hutan bertemu dengan sepasang raksasa yang akan memangsanya. Arjuna melepaskan anak panahnya dan kedua raksasa itu berubah ujud menjadi Dewa Brahma dan istrinya,Rarasati.

Batara Brahma memerintahkan Arjuna agar pergi ke alun-alun Wirata dan menghadiahkan senjta Bramasta untuk membunuh Rajamala. Namun Pamadi harus menyamar menjadi wanita dengan nama Kandi Wrahatnala.

Di alun-alun Wirata prang tanding Rajamala melawan Abilawa dimulai. Jagal Abilawa berhasil melemparkan musuhnya sehingga tidak bergerak. Namun ketika tubuh Rajamala dilemparkan ke dalam kolam, Rajamala akan kembali segar bugar dan menyerang Abilawa. Berulangkali Abilawa berhasil membunuh Rajamala, tetapi berkali-kali pula, Rajamala kembali hidup.

Kandi Wrahatnala yang melihat hal itu, segera menyuruh Semar untuk memasukan senjata Bramasta ke dalam kolam dimana tubuh Rajamala dilemparkan. Namun ternyata kolam tersebut dijaga ketat oleh para prajurit, punakawan mencoba mencari akal dengan menjadi penjual nasi. Para prajurit yang merasa lapar langsung membeli nasi kepada para Punakawan. Sementara Ki Lurah Semar mengatakan kepada prajurit tersebut bahwa ia ingin minum di kolam tersebut, dan ia pun diizinkan. Setelah berhasil masuk dan mendekati kolam, Semar diam-diam memasukkan panah Brahmastra ke dalam kolam tersebut.

Pertarungan antara Abilawa dan Rajamala masih terus berlanjut, hingga akhirnya Rajamala mati lagi. Segera jasadnya dimasukkan ke dalam kolam, kini Rajamala tidak bisa bangkit lagi bahkan badannya menjadi kaku kemudian hancur.

Kencakarupa yang melihat hal itu sangat marah, ia segera menyerang Abilawa. Terjadilah perang antara Jagal Abilawa dan Kencakarupa, tetapi Wijakangka memanggil adiknya dari kejauhan agar segera lari. Patih Kencakarupa mengejarnya Abilawa. Dalam pengejaran itu, Kencakarupa bertemu dengan Kandi Wrahatnala, ia pun jatuh cinta daningin mengawininya.

Selanjutnya, Kandi Wrahatnala mengabdi kepada Dewi Utari. Pada suatu hari, ia diutus Utari untuk membawa surat untuk Kencakarupa. Kesempatan itu pun digunakan Kencakarupa untuk merayunya tetapi Wrahatnala lari ke tempat lurah Pasar Wijakangka. Kencaka terus mengejarnya, namun Wrahatnala terus menghindar dan pergi ke tempat Abilawa di pejagalan. Kencaka mengejar Wrahatnala sampi ke Jagal Walaks dan meminta Wrahatnala. Namun Abilawa menolak, terjadilah perang tanding antara kedua ksatria itu.

Dengan senjata kuku Pancanaka, Kencakarupa dan Rupakenca terbunuh oleh Abilawa dan jenazahnya dibakar.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply