Kalabendana Lena

0

Prabu Duryudana punya keinginan menyerang Kerajaan Wirata untuk melebarkan kekuasaannya. Untuk itu, ia meminta bantuan Prabu Baladewa dan Prabu Kresna. Prabu Baladewa menyanggupi permintaan Duryudana.  Bersama dengan Adipati Karna dan Kurawa, Prabu Baladewa mendatangi Kerajaan Dwarawati, tetapi Prabu Kresna tidak ada di tempat dan hanya dapat menemui Samba dan Setyaki.

Kedua ksatria itu menolak ajakan Kurawa, maka keduanya dilucuti senjatanya serta ditawan. Sementara Angkawijaya yang sedang berada di Istana Dwarawati bersama Siti Sundari melihat kekacauan negeri itu, segera memutuskan meninggalkan istana.

Walaupun istrinya tidak setuju, Angkawijaya tetap pergi ke Wirata untuk melamar Dewi Utari, sebab puteri itu yang nantinya akan menjadi ibu dari raja-raja besar. Di perjalanan, Angkawijaya bertemu dengan raksasa brahala jelmaan Prabu Kresna yang membantu mengusir para Kurawa.

Setelah sampi di Wirata, Angkawijaya diterima dan dipekerjakan di taman bersama Gendreh Kemasan, yakni Arjuna yang sedang menyamar.

Setibanya di taman, Angkawijaya bertemu dengan Utari dan segera membawa sang dewi ke Bale Wewangunan. Tindakannya menimbulkan kecurigaan para dayang-dayang, sehingga silaporkan kepada raja.

Sang raja pun memerintahkan untuk membunuh Angkawijaya, namun setelah dijelaskan bahwa para ksatria yang menyamar adalah Arjuna dan Angkawijaya , Sang raja pun memberi ampun kepada Abimanyu dan mengangkatnya sebagai Pangeran Adipati dengan gelar Prabu Anom Wirabadana.

Sementara, Siti Sundari yang berada di istana Dwarawati, sangat cemask dan khawatir akan keselamatan suaminya. Maka ia memutuskan untuk pergi ke Pringgodani dan meminta bantuan Gatotkaca agar mencarikan Abimanyu.

Untuk memenuhi permintaan Siti Sundari, Gatotkaca meminta bantuan pamannya yakni Kalabendana untuk pergi ke Wirata dengan secara rahasia untuk menyelidiki keberadaan Abimanyu. Kalabendana pergi ke Wirata. Setibanya di Wirata, ia memang bertemu dengan Abimanyu yang saat itu sedang bersama dengan Dewi Utari. Ia pun langsung mengatakan bahwa Abimanyu ditunggu istrinya, Dewi Siti Sundari di Pringgodani. Mendengar ucapan raksasa itu, Abimanyu tersinggung dan marah. Ia pun melukai Kalabendana dan mengusirnya.

Setelah kepergian Kalabendana, Dewi Utari kemudian menanyakan kebenaran mengenai apa yang dikatakan raksasa itu kepaa suaminya, Angkawijaya. Abimanyu kesulitan menjawab pertanyaan istrinya itu, ia pun akhirnya bersumpah bahwa ia belum beristri dan bila berdusta, kelak dalam perang Baratayuda badannya akan terluka oleh berbagai macam senjata.

Kalabendana telah kembali ke Pringgodani dan melaporkan apa yang terjadi di Wirata. Siti Sundari meminta agar Kalabendana menjelaskannya sekali lagi agar lebih jelas, namun keinginan sang puteri bertentangan dengan keinginan Gatotkaca. Sebab, jika Siti Sundari mengetahui masalah yang sebenarnya, akibatnya bisa fatal. Maka ia member isyarat kepada Kalabendana agar tidak menjelaskan peristiwa itu sebenarnya.

Namun Kalabendana seorang ksatria yang jujur, ia menerangkan keadaan Angkawijaya yang sebenarnya di Wirata. Hal itu membuat marah Gatotkaca sehingga ia memukul pamannya hingga tewas.

Hati Dewi Siti Sundari sangat terkejut dan cemas. Maka ia meminta Gatotkaca untuk mengantarkannya pergi ke Wirata. Setelah sampai di Wirata, mereka bertemu dengan Angkawijaya dan Utari. Setelah melihat keduanya, Utari segera masuk ke istana dan menduga bencana akan datang.

Abimanyu yang melihat Gatotkaca membawa Siti Sundari, marah dan menusukkan kerisnya ke badan Gatotkaca. Perkelahian pun terjadi antara keduanya.

Melihat perkelahian itu, Semar bingung dan langsung mengadu kepada Arjuna. Arjuna yang mendengar berita itu, segera melerai kedua ksatria itu dan memberikan pernjelasan mengenai hal dan kewajibannya menjadi seorang ksatria.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply