Karna Tanding

0

Prabu Matswapati, Prabu Puntadewa, Prabu Kresna dihadap oleh Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Drestajumna dan Setyaki. Mereka masih bersedih dengan gugurnya Gatotkaca oleh senjata Kunta milik Adipati Karna.

Prabu Matswapati menasihati keluarga Pandawa agar mereka tidak terlalu larut dalam keedihan, sebab Bharatayudha belum selesai. Selanjutnya, yang harus dipikirkan adalah menetapkan siapa yang akan diangkat menjadi senopati perang Pandawa menghadapi Adipati Karna besok. Prabu Kresna kemudian mengusulkan Arjuna sebagai senopati perang Pandawa menggantikan Gatotkaca.

Arjuna pun menerima pengangkatannya sebagai senapati perang dan tetap akan menggunakan gelar perang Garuda Nglayang dengan senopati pendamping Bima dan Drestajumna.

Dewi Drupadi menyambut kedatangan Prabu Puntadewa, ia menanyakan apa hasil pertemuan hari itu kepada suaminya. Prabu Puntadewa menjawab, keluarga Pandawa telah menetapkan Arjuna sebagai senopati perang menggantikan Gatotkaca yang telah gugur di tangan Adipati Karna. Mereka kemudian masuk ke sanggar pemujaan untuk memohon anugerah Dewata agar keluarga Pandawa menang dalam perang Bharatayudha.

Sadewa mengadakan pertemuan dengan Setyaki, Udawa dan Pragota. Sadewa meminta agar mereka tetap meningkatkan kewaspadaan, sebab mendekati saat-saat yang menentukan dalam perang Bharatayudha. Tidak menutup kemungkinan lawan menggunakan cara-cara yang tidak baik untuk bisa memenangkan peperangan.

Prabu Ajibanjaran mengadakan pertemuan dengan patih Kalagupita dan para punggawa lainnya. Prabu Ajibanjaran mengemukakan niatnya untuk membantu pihak Kurawa, sebagai balas dendam atas kematian saudara seperguruannya, Dursala, putera Dursasana yang mati dalam peperangan melawan Gatotkaca.

Prabu Ajibanjaran kemudian memerintakan patih Kalagupita untuk mengerahkan pasukan Goabarong menyerang perkemahan Pandawa di malam hari, karena baginya, pihaknya tidak terikat dengan aturan peperangan.

Malam hari itu, pasukan Goabarong menyerang perkemahan Pandawa. Setyaki, Udawa dan Pragotha maku untuk menghadapi prajurit Goabarong yang dipimpin patih Kalagupita. Namun pasukan Goabarong banyak yang mati, sehingga mereka memutuskan untuk mundur.

Prabu Biswarna yang dihadap oleh Patih Tribasata dan para punggawa lainnya, mengungkapkan penyesalannya karena baru sekarang ia mendengar kabar bahwa perang Bharatayudha antara Pandawa dan kurawa telah berlangsung lama di Kurukhsetra. Ia berniat untuk membatu Pandawa. Prabu Biswarna kemudian memerintahkan patih Tribasata menyiapkan prajurit untuk menyertainya ke Kurukhsetra bergabung dengan Pandawa.

Prabu Duryadana,Prabu Salya dihadap patih Sengkuni dan Adipati Karna. Prabu Salya berusaha menghibur Prabu Duryudana yang masih larut dalam kesedihan akibat gugurnya Dursasana dan Wikataboma serta beberapa anak-anak Kurawa lainnya.

Namun Kurawa cukup sedikit lega, karena dengan kematian Gatotkaca, maka kekuatan Pandawa mengalami kerugian yang cukup besar. Pada kesempatan itu, Prabu Duryudana juga menanyakakan mengapa Adipati Karna membuang kesempatan untuk membunuh Bima. Padahal dengan matinya Bima, berarti mati semua keluarga Pandawa sesuai sumpah mereka.

Adipati Karna menjelaskan, bahwa sebagai satria apalagi Senapati perang, ia harus taat pada peraturan perang. Saat itu ia tidak langsung membunuh BIma, karena ia telah mendengar suara sangkakala tanda perang selesai. Namun Adipati Karna berjanji akan menghabisi keluarga Pandawa dalam peperangan berikutnya.

Adipati Karna memanggil patihnya, Adimanggala, dan menyuruhnya kembali ke Awangga mememui Dewi Surtikanti  untuk memintakan sedah (sirih) sebagai bekal dalam peperangan melawan Arjuna besok.

Dewi Surtikanti menerima kedatangan Adimanggala yang menyampaikan pesan Adipati Karna. Namun celakan, Adimanggala salah ucap. Seharusnya ia mengucapkan,  “Adipati Karna minta sedah (sirih)” tapi yang terucap “Adipati Karna minta pejah (mati)”. Akibatnya, Dewi Surtikanti mengira Adipati Karna suaminya telah gugur di medan perang, tanpa pikir panjang lagi langsung bela pati, bunuh diri dengan menancapkan keris pusakanya ke dalam perutnya. Kejadian itu mengejutkan Adimanggala yang segera kembali ke Astina menemui Adipati Karna.

Adimanggala langsung menemui Adipati Karna dan menceritakan kejadian yang menimpa Dewi Surtikanti. Adipati Karna yang marah dan menganggap kematian istrinya akibat kesalahan Adimanggala. Ia langsung  menghunus keris Kiai Jalak dan menancapkan langsung ke perut Adimanggala yang mati seketika.

Di kahyangan, Batara Guru dihadap Bathara narada, Indra, Yamadipati dan dewa lainnya. Mereka sedang membicarakan kedua satria tangguh kesayangan dewa yang akan bertarung di padang Kurukhsetra.

Batara Guru kemudian memerintahkan Batara Narada untuk memerintah  para dewa dan bidadari menyaksikan pertandingan kedua satria tersebut sambil membawa air setaman dan bunga-bunga sorga untuk pengormatan mereka yang gugur.

Prabu Biswarna yang akan menuju perkemahan Pandawa bertemu dengan Adipati Karna. Terjadi peperangan yang berakhir dengan tewasnya Prabu Biswarna.

Keesokan harinya, peperangan antara pasukan Kurawa dan pasukan Pandawa dilanjutkan. Puncaknya, Adipati Karna yang naik kereta perang dengan sais Prabu Salya, berhadapan dengan Arjuna yang naik kereta perang dengan sais Prabu Kresna.

Perang antara keduanya berlangsung seru dan lama. Keduanya salaing mengeluarkan ilmu andalannya masing-masing. Adipati Karna mengeluarkan Aji Kalakupa, maka muncullah raksasa ganas yang langsung menyerang Arjuna. Arjuna menghadapinya dengan Aji Mayabumi, sehingga raksasa itu menjadi lemas tak bertenaga.
Adipati Karna mengeluarkan aji Naracabala, arjuna membalasnya dengan Aji Tunggengmaya, yang meluluhkan semua daya kekuatan Aji Naracahala.

Akhirnya, Adipati Karna mengeluarkan panah Wijayacapa yang diimbangi Arjuna dengan panah Pasopati. Keadaan menjadi semakin seru dan menegangkan. Mereka yang menyaksikan pertarungan dua saudara kandung itu hampir tidak bisa membedakan antara keduanya. Karena mereka memang memiliki sangat mirip.

Keadaan menjadi sangat tegang karena baik Adipati Karna maupun Arjuna telah siap untuk membunuh lawannya. Pada saat itu, Adipati Karna sudah siap melepaskan anak panahnya, namun tiba-tiba kereta perangnya terperosok, sehingga panahnya meleset dari sasaran dan hanya menyerempet mahkota Arjuna. Pada saat yang menentukan itu, berlakulah kutukan Resi Parasurama terhadap Adipati Karna. Adipati Karna mendadak lupa dengan bacaan mantranya dan bersamaan dengan lepasnya panah  pasopati Arjuna yang melesat cepat, tepat menebas putus leher Adipati Karna. Gugurlah Senapati perang Kurawa.

Prabu Matswapati, Prabu Puntadewa, Prabu Kresna dihadap keluarga Pandawa serta Dewi Drupadi. Prabu Puntadewa mengemukakan rasa duka citanya atas gugurnya Adipati Karna, Karena meski ia berperang untuk Kurawa, namun ia masih saudara tua Pandawa. Prabu Matswapati kemudian mengajak mereka semua untuk berdoa bersama, memohon kepada Dewata agar kejayaan selalu menyertai keluarga Pandawa.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply