Karna

0

Karna atau Basukarno  adalah salah satu tokoh yang berada di pihak Korawa dalam wiracarita Mahabharata. Dia adalah putera Dewi Kunti , yang berarti ia adalah kakak sulung dari Yudhistira, Bima,dan Arjuna. Meskipun dia saudara kandung Pandawa tetapi ia berada di pihak Korawa dan pada bagian akhir perang Bharatayudha, Karna diangkat menjadi senopati perang Korawa. Karna memiliki sifat angkuh, sombong, suka membanggakan diri sendiri, tetapi juga dermawan dan murah hati kepada siapa saja. Dia memiliki kesaktian yang luar biasa dan dia dikenal sebagai seorang yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria.

Dalam kitab Adiparwa atau Mahabharata bagian pertama dikisahkan, seorang puteri yang bernama Kunti mendapat ilmu kesaktian dari Resi Duwarsa yaitu Mantra Adityahredaya. Dengan mantra itu, Kunti bisa memanggil dewa dan mendapat anugerah putera darinya.

Suatu hari Kunti ingin mencoba mantra tersebut sambil memandang matahari terbit. Datanglah Dewa Surya (matahari), dan siap untuk memberinya seorang putera. Namun Kunti menolak karena sebenarnya ia hanya ingin mencoba ilmu Adityahredaya. Namun, mantra itu bukanlah ilmu biasa yang bisa dibuat mainan, Dewa Surya pun memberi anugerah seorang putera kepada Kunti, sehingga ia mengandung. Dewa Surya pun membantu Kunti agar segera melahirkan bayi tersebut.

Karena tidak menginginkan kehadiran bayi tersebut dan untuk menjaga nama baik negaranya, Kunti terpaksa membuang bayi yang baru dilahirkannya di sungai Aswa dalam sebuah keranjang. Bayi Kunti terbawa arus sampai ditemukan Adirata, seorang kusir kereta di Kerajaan Hastinapura. Adirata mengambil bayi itu dan mengangkatnya sebagai anak. Adirata memberi nama bayi tersebut Basusena, karena saat ditemukan, Basusena sudah berpakaian perang lengkap dengan kalung dan anting-anting.

Basusena kecil diasuh dan dibesarkan dalam keluarga Adirata, ia juga dikenal dengan julukan Sutaputra (anak kusir) dan Radheya (anak Randha), istri Adirata. Meski ia dibesarkan dilingkungan keluarga kusir, Basusena mempunyai keinginan menjadi seorang prewira kerajaan. Ayahnya, Adirata pun mendaftarkannya ke dalam perguruan Resi Drona yang saat itu sedang mendidik Pandawa dan Korawa.

Resi Drona menolak menjadikan Basusena menjadi muridnya karena ia hanya mau mengajar kaum ksatria saja. Namun tekad Radheya untuk menjadi seorang prewira kerajaan sudah bulat, meskipun ia harus belajar ilmu perang secara diam-diam. Ia pun sering mengintip Resi Drona saat ia mengajar para Pandawa dan Korawa, terutama dalam ilmu memanah dan Danurweda.

Ilmu perang Radheya tidak kalah dengan murid-murid Drona, terutama dalam ilmu memanah. Kemampuannya hampir menyamai kemampuan Arjuna yang hampir sempurna dalam menguasai ilmu memanah. Dengan bakat keterampilannya inilah, ia dijuluki Karna.

Suatu saat ketika Drona mempertunjukkan hasil pendidikan para Pandawa dan Korawa di hadapan bangsawan Hastinapura, setelah melalui beberapa tahap, Drona menetapakan bahwa Arjuna adalah murid terbaiknya, terutama dalam ilmu memanah. Tiba-tiba Karna muncul dan menantang Arjuna sambil memamerkan kesaktiannya. Resi Krepa, pendeta istana meminta agar Karna memperkenalkan diri terlebih dahulu karena untuk menghadapi Arjuna haruslah dari golongan yang sederajat. Karna pun tertunduk malu.

Doryudana , yang terkesan dengan kesaktian Karna, maju dan membelanya. Ia kemudian mendesak ayahnya, Dretarastra raja Hastinapura supaya mengangkat Karna sebagai raja bawahan di Angga. Dretarastra tidak bisa menolak permintaan putera kesayangannya tersebut, maka diangkatlah Karna menjadi raja Angga pada hari itu juga.

Adirata muncul menyambut penobatan Karna, sehingga semua orang tahu kalau Karna adalah anak seorang kusir. Bima (Werkudara) mengejek Karna sebagai anak kusir sehingga tidak pantas bertanding melawan Arjuna. Di lain sisi, Kunti pingsan melihat kehadiran Karna, yang langsung mengenali putera yang dibuangnya, dari pakaian perang dan perhiasan pemberian Surya yang melekat di tubuh Karna.

Suatu saat Drupada, raja di kerajaan Pancala mengumumkan sayembara, ksatria yang bisa memanah ikan kayu yang diletakkan di atas kubah balairung, dengan hanya melihat pantulannya di kolam berhak mendapatkan puterinya Dropadi.

Banyak ksatria yang mengikuti sayembara tersebut, tidak terkecuali Doryudana. Namun, jangankan memanah, mengangkat busur pusaka Kerajaan pancala saja tidak ada yang sanggup, termasuk Doryudana. Karna kemudian maju,dan ia berhasil mengangkat busur pusaka dan siap untuk membidik sasaran sayembara. Namun Dropadai menolak karna, ia tidak mau nenikah dengan anak seorang kusir.  Karna sakit hati mendengar apa yang dikatakan Dropadi, ia menyebut Driopadi sebagai wanita sombong dan pasti menjadi perwan tua karena tidak aka nada lagi peserta sayembar ayang mampu memenangkan sayembar itu selain dirinya.

Drupada, cemas mendengar apa yang diucapkan Karna, maka ia kemudian membuka pendaftaran baru untuk siapa saja yang berhasil memanah boneka ikan itu berhak memperistri puterinya, Dropadi, tidak harus dari golongan ksatria. Arjuna yang saat itu sedang menyamar sebagai brahmana maju mendaftarkan diri, dan ia berhasil memenangkan sayembara itu.

Para Pandawa kemudian membawa pulang Dropadi dan mempersembahkannya kepada ibunya, Kunti sebagai oleh-oleh terbaik. Namun tanpa melihat yang sebenarnya, Kunti lalu berkata agar oleh-oleh dibagi rata berlima. Demi melaksanakan amanat sang ibu, Dropadi menikah dengan kelima Pandawa.

Pandawa pun akhirnya berhasil membangun sebuah kerajaan yang bernama Indraprastha. Kerajaan itu sangat indah sehingga membuat Korawa merasa iri, terutama Doryudana. Timbul keinginan Doryudana untuk merebut Indraprastha dari Pandawa, melalui permainan dadu, Korawa berbuat licik sehingga Indraparastha berhasil direbut oleh Korawa, dan termasuk kemerdekaan kelima Pandawa. Pada puncaknya, Yudhistira diminta untuk mempertaruhkan Dropadi untuk melanjutkan permainan.

Dursasana dengan kasar, menyeret Dropadi menuju arena permainan. Karna yang masih sakit hati mengatakan bahwa seorang wanita yang bersuami lima tidak pantas disebut sebagai istri, melainkan pelacur. Mendengar apa yang dikatakan karna, Arjuna bersumpah kelak akan membunuh Karna. Doryudana memerintahkan Dursasana untuk menelanjangi Dropadi di depan umum, namun berkat pertolongan Sri Kresna, kain Dropadi yang ditarik Dursusana tidak habis tapi justru semakin panjang.

Karna juga pernah berguru kepada Parasurama , yang memiliki pengalaman buruk dengan kaum ksatriya. Oleh karena itu, agar diterima menjadi murid Parasurama, Karna menyamar menjadi brahmana.

Suatu hari, Parasurama tidur di pangkuan Karna. Tiba-tiba ada seekor serangga menggigit paha Karna. Karna tidak bergerak sedikitpun dan membiarkan pahanya terluka demi menjaga gurunya agar tidak terbangun. Ketika Parasurama bangun, dia terkejut melihat muridnya tersebut seudah berlumuran darah. Kemampuan Karna menahan rasa sakit membuat Parasurama sadar bahwa Karna muridnya bukan dari golongan brahmana melainkan seorang ksatriya asli.

Karena merasa tertipu, Pasurama mengutuk Karna, kelak saat pertarungan antara hidup dan mati melawan seorang musuh terhebat, Karna akan lupa pada senua ilmu yang telah ia ajarkan.

Karna juga mendapat kutukan kedua dari brahmana. Suatu saat ketika ia mengendarai keretanya, ia menabrak sapi seorang brahmana. Brahmana sang pemilik sapi muncul dan mengutuk karna, kelak roda keretanya akan terbenam lumpur ketika ia berperang melawan musuh terhebat.

Selanjutnya :Terbuka jati diri Karna

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply