Pandawa Gubah (Bag I)

0

Jelang pecahnya perang Bharatayudha, Prabu Matswapati dari Kerajaan Wirata berusaha untuk mengupayakan jalan damai untuk kedua belah pihak yaitu Pandawa dan Korawa. Ia kemudian memberi isyarat bahwa barang siapa yang berhasil menemukan Bale Kencana yang bertiang delapan ratus dan berhasil memasangnya di medan Kurukhsetra, maka ia akan menjadi raja direja. Bale tersebut dulunya adalah takhta Sri Ramawijaya .

Prabu Matswapati kemudian memerintahkan Raden Seta, putera sulung Wirata untuk memberitahukan hal tersebut kepada Pandawa dan Korawa sekaligus memeriksa pembagian wilayah , medan perang Kurukhsetra.Raden Seta pun kemudian berangkat ke Alengka dan Amarta untuk memberitahukan isyarat dari Prabu Matswapati.

Di Alengka, Prabu Duryudana di hadapan Resi Durna, Adipati Karna, Patih Sengkuni dan Para Kurawa serta para raja sekutu Korawa sedang merundingkan mengenai perintah raja Wirata yang telah mereka terima yaitu untuk mencari Bale Kencana.

Duryudana meminta petunjuk kepada Guru Durna, kemana Bale Kencana tersebut harus dicari. Guru Durna kemudian menjelaskan bahwa Bale Kencana masih ada dan kelak yang akan menemukannya adalah Raden Werkudara. Namun para Kurawa tetap bertekad untuk mencari Bale Kencana tersebut. Dursasana, jayadrata, Kartamarma dan Aswatama pun diperintahkan untuk mencarinya.


Mereka harus menempuh jalan lurus ke barat dan jangan sampai menyimpang dan keberangkatannya harus menunggu masa kartika.


Sementara, di Amarta, Yudhistira duduk di singgasananya dengan didampingi Sri Kresna dan dihadapan Raden Werkudara, Raden Arjuna, Nakula, Sadewa, Pancawala, Angkawijaya dan Gatutkaca juga membhasan tentang isyarat yang bisa mengurungkan Bharatayudha yaitu Bale Kencana.


Yudhistira menjadi gelisah dan sedih, karena ia tidak tahu bagaimana Bale Kencana harus dicari. Ia kemudian menyerahkan persoalan ini kepada Sri Kresna. Sri Kresna kemudian memberi nasihat kepada Yudhistira agar tidak cemas, ia pun kemudian menugaskan Werkudara untuk mencari Bale Kencana tersebut. Namun, Werkudara harus diiringi oleh Ki Lurah Semar dan anak-anaknya, karena para punakawan tersebut memiliki tuah masing-masing yang nantinya akan membantu perjalanannya. Sri Kresna juga berpesan agar Werkudara berjalan lurus kea rah barat dan kelak ia akan mendapat petunjuk tentang tempat Bale Kencana tersebut.


Werkudara  berpamitan dan segera berangkat ke karang Kadempel untuk menemui Ki Lurah Semar dan anak-anaknya. Kedatangan Werkudara disambut gembira oleh Ki Lurah Semar dan anak-anaknya yaitu Petruk dan gareng. Setelah saling menanyakan kabar, Werkudara menyampaikan maksud kedatangannya.

Semar pun kemudian menjelaskan mengapa dalam menjalan tugas yang sangat berat tersebut yang diperintahkan adalah Raden Werkudara. Penjelasan Ki Lurah Semar, membuat hati Werkudara menjadi lega. Setelah bercakap-cakap sejenak, mereka segera meninggalkan karang Kadempel untuk mencari Bale Kencana. Werkudara berjalan di depan dan diiringi oleh Ki Lurah Semar, gareng dan Petruk.

Dalam perjalanan mereka, di suatu puncak gunung yang akan dilalui oleh Raden Werkudara, berdiamlah dua raksasa yang sangat besar dan mengerikan. Mereka adalah Kalamurka dan Kalasengsara. Keduanya sebenarnya adalah dewa yang sedang mendapat kutukan. Werkudara pun menjadi ragu untuk melewatinya, namun semar kemudian memberi petunjuk bahwa dengan melewati gunung tersebut, ia akan memperoleh petunjuk perjalanan selanjutnya.

Raden Werkudara kemudian berjalan melintasi puncak gunung dan sampailah di gua yang dihuni kedua raksasa tersebut. Dua raksasa yang memang sedang lapar, senang dengan kedatangannya, Werkudara hendak dimakan mereka. Namun Werkudara segera melawan dan terjadilah perkelahian diantara mereka. Setelah kedua raksasa itu lengah, Werkudara menangkap keduanya dan menghantamkan tubuh mereka ke sebuah pohon. Hancur leburlah tubuh kedua raksasa tersebut, namun jasadnya entah hilang kemana.

Namun, tak lama kemudian muncullah dua orang dewa, yaitu Sanghyang Bayu dan Sambu. Keduanya memberi petunjuk kepada Werkudara bahwa apa yang sedang ia cari sudah tidak ada di pulau Jawa melainkan di negeri Singgela. Untuk mencapai kesana, Werkudara harus melalui lautan yang sangat luas. Werkudara pun dibantu oleh kedua dewa tersebut untuk melewati lautan tersebut agar bisa sampai ke negeri Singgela.

 

Pandawa Gubah Bag II

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply