Rajamala

0

Rajamala adalah putera angkat dari Resi Palasara dengan Dewi Durgandini. Rajamala tercipta dari mala penyakit Dewi Durgandini (Dewi Satyawati)  yang tertelan seekor ikan betina. Rajamala terjadi bersamaan dengan saudaranya yang lain yaitu Kencakarupa, Rupakenca, Setatama, Gandawana dan Dewi Ni Yutisnawati. Selain itu ia juga mempunyai tiga saudara angkat yaitu Abiyasa, putera Resi Palasara dengan Dewi Durgandini, Wicitrawirya dan Citragada putera Dewi Durgandini dengan Prabu Santanu.

Rajamala berwatak keras hati, berani, ingin menangnya sendiri dan selalu menuruti kata hatinya sendiri. Ia sangat sakti, dan tidak bisa mati selama ia masih terkena air. Menurut ketentuan dewata, hanya ada lima orang satria yang bisa mengalahkan dan membunuhnya, mereka adalah Resi Bisma, Adipati Karna, Prabu Baladewa, Duryudana dan Bima.

Dalam pewayangan, Rajamala adalah putera Begawan Palasara dengan Dewi Watari. Ia adalah ksatria yang sakti dan tak terkalahkan. Oleh karena itu ia menantang Jagal Abilawa (bima). Ia pun membuka gelanggang untuk bertarung dan ia mengajukan dirinya sendiri sebagai jago.

Jagal Abilawa pun menerima tantangan Rajamala. Terjadilan perang tanding antara keduanya. Berkali-kali Abilawa berhasil membunuhnya, namun setelah Rajamala dimandikan air kolam yang merupakan jadian ibunya, ia hidup kembali.

Diam-diam Permadi (Arjuna) menyaksikan pertarungan antara kakaknya dan Rajamala. Ia sengaja bersembunyi dan tidak menampakkan diri kepada saudara-saudaranya agar ia tidak diketahui oleh musuh. Begitu pula dengan Punokawan, Permadi meminta kepada Punokawan untuk menyamar menjadi rakyat biasa.

Suatu ketika, setelah Abilawa berhasil mengalahkan Rajamala untuk yang kesekian kalinya, ia merobek perutnya dan usunya dihamburkan keluar. Permadi diam-diam mengamati mayat Rajamala dan ternyata oleh Raden Rupakenca dan Kencakarupa, semua usus dan jeroan yang sudah terburai itu dikumpulkam dam dibawa lari ke suatu tempat.

Permadi pun segera mengikuti kemana perginya Raden Rupakenca dan Kencakarupa. Tibalah si suatu rumah, mereka berdua menuju halaman belakang rumah, Permadi pun mengikutinya. Dilihatnya sebuah kolam kecil di balik rerimbunan daun. Permadi melihat Kencakarupa dan Rupakenca menggotong tubuh Rajamala dan kemudian perlahan-lahan tubuhnya diletakkan ke dalam kolam.

Permadi terkejut begitu melihat bahwa tubuhnya dengan isi perut yang telah keluar itu kembali menyatu dan sembuh seperti semula. Permadi menjadi paham bahwa yang menghidupkan kembali Rajamala adalah kolam itu. Ia kemudian mencari akal bagaimana cara untuk membantu kakaknya.

Permadi pun kemudian menemui kakak-kakaknya dan adik-adiknya. Permadi dan Punakawan kemudian diperkenalkan dengan Raja Prabu Matswapati dan anggota keluarganya. Pandawa lalu membuka samaran mereka. Puntadewa akhirnya mengaku bahwa mereka sebenarnya adalah Pandawa putera Pandu dari Astina.

Prabu Matswapati terkejut dan memohon maaf karena tidak memperlakukan merela dengan baik. Permadi pun kemudian menjelaskan tentang kolam yang mampu menghidupkan kembali Rajamala.

Puntadewa meminta diri untuk bersemedi untuk memohon petunjuk kepada Dewa. Permohonan Puntadewa dikabulkan Dewa Brama. Ia diberi petunjuk agar setelah Rajamala mati oleh Bratsena, Permadi harus memasukkan panah sakti Bramastra yang pernah diberikan Dewa Brama kepadanya ke dalam kolam tersebut. 

Pertandingan antara Bratasena dan Rajamala pun berlanjut. Setelah mendapat petunjuk dari Dewa Brama, Abilawa menjadi semangata menghadapi pertandingannya kali ini. Akhirnya, Rajamala pun berhasil dikalahkan, Bratasena kemudian merobek perut Rajamala. Setelah Rajamala tewas, diam-diam Bratasena dan permadi mundur dari arena permainan dan memberikan kesempatan bagi Kencakarupa dan Rupakenca untuk mengumpulkan ceceran tubuh Rajamala. Abilawa dan Permadi mendahului mereka ke kolam keramat milik Rajamala.

Tepat pada saat Rupakenca dan Kencakarupa merendam tubuh Rajamala ke dalam kolam, Dari jauh permadi memanah kola itu dengan panah Bramastra. Dan saat itu kolam menjadi mendidih sangat panas. Tubuh Rajamala tidak menyatu tetapi justru hancul luluh hingga tak terbentuk lagi. Rupakenca dan Kencakarupa terkejut menyaksikan hal itu, mereka bingung bagaimana caranya menghadapi jagal Abilawa yang sangat kuat itu.

Tiba-tiba muncul si Jagal Abilawa yang membuyarkan lamunan mereka.  Mereka terpaksa harus maju menghadapi kedua satria Pandawa tersebut. Terjadilah pertarungan sengit diantara mereka, tidak butuh waktu lama bagi Bratasena untuk mengalahkan Rupakenca, sementara Permadi masih kejar-kejaran dengan Kencakarupa. Namun akhirnya, kencakarupa berhasil dibunuh oleh Permadi dengan panahnya.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply