Sakuntala

0

Dalam Wiracarita Mahabharata, Sakuntala adalah permaisuri Raja Duswanta yang merupakan leluhur para Pandawa dan Korawa. Ia adalah ibu dari Raja Bharata yang kemudian menurunkan keluarga Bharata. Sakuntala adalah anak angkat dari Begawan Kanwa.

Diceritakan,ada seorang pertapa bernama Wiswamitra, ia dulunya adalah seorang raja namun kemudian meninggalkan kehidupan istananya demi mendapatkan kejayaan seperti Begawan Wasistha. Ia kemudian bertapa dengan sangat khusuk dan tak tegoyahkan. Oleh karena itu, Dewa INdra ingin menguji kekhusukan Sang Wiswamitra dengna mengutus Bidadari Menaka supaya menggodanya. Dengan diiringi Dewa Bayu dan Semaara, Bidadari Menaka turun ke tempat Wiswamitra bertapa.

Sesampainya di tempat tujuan, Bidadari Menaka menjalankan tugasnya. Ia menggoda Wiswamitra sehingga nafsu birahinya mucul. Hingga pada akhirnya, Bidadari Menaka mengandung , hasil hubungannya dengan Wiswamitra.

Bidadari Menaka kemudian meninggalkan Wiswamitra kemudian melahirkan seorang bayi perempuan di tepi Sungai Malini. Karena merasa bahwa tugasnya sudah selesai, ia pun terbang kembali ke kahyangan dan meninggalkan bayinya. Sang Wiswamitra pun kemudian pergi meninggalkan tempat pertapaannya karena gagal.

Bayi perempuan yang ditinggalkan itu, kemudian dirawat oleh seekor burung yang bernama Sakuni. Suatu saat Bagawan Kanwa sedang mencari kembang di sekitar sungai Malini. Ia terkejut begitu melihat ada seorang bayi yang dirawat oleh burung Sakuni. Oleh Begawan Kanwa, bayi perempuan itu kemudian dipungut, diberkahi, dirawat dan diberi nama Sakuntala.

Suatu ketika, Prabu Duswanta pergi berburu hingga sampai ke tengah hutan di kaki gunung Himawan. Ia menemukan sebuah pertapaan yang sangat indah, yang ternyata kediaman Begawan Kanwa. Sesampainya di pertapaan, ia disambut dengan ramah oleh puteri yang cantik jelita yaitu Sakuntala.

Prabu Duswanta pun terpesona dengan kecantikan sang puteri, dan timbul keinginannya untuk menikahi Sakuntala. Pada awalnya Sakuntala menolak, namun Sang raja terus merayunya agar bersedia menjadi isterinya. Akhirnya, Sakuntala pun bersedia menikah dengan sang Raja namun dengan syarat bahwaa kelak anak yang dilahirkannya harus menjadi pewaris tahta Sang Raja. Prabu Duswanta pun tidakĀ  keberatan dengan permohonan Sakuntala.

Keduanya pun kemudian saling memadu kasih. Namun setelah itu, Sang Raja meninggalkan Sakuntala di pertapaan karena terikat kewajibannya sebagai seorang Raja. Sebelum kembali ke kerajaan, Ia berjanji bahwa ia akan kembali lagi ke pertapaan untuk menjemput Sakuntala dan juga anaknya yang kelak akan lahir.

Setelah kepergian Prabu Duswanta, Bagawan Kanwa pulang dari hutan dengan membawa bunga dan kayu bakar. Sakuntala hanya diam karena merasa sangat bersalah. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Begawan Kanwa pun sudah mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi. Ia pun tidak memarahi puteri angkatya tersebut, ia justru membesarkan hati Sakuntala dengan mengatakan bahwa ini memang sudah menjadi kehendak dewata, dan anak yang kelak akan dilahirkan Sakuntala, memang akan menjadi seorang raja yang besar.

Setelah usia kandungannya cukup, lahirlah seorang putera yang rupawan yang kemudian diberi nama Sarwadarmana. Tanda-tanda bahwa ia adalah calon penguasa dunia tampak dari gambar cakra yang ada di telapak tangannya. Setelah kelahiran puteranya, dengan penuh kasih sayang ia merawatnya. Sakuntala dengan setia menunggu kedatangan Raja Duswanta yang berjanji akan menjemputnya. Namun hati Sakuntala menjadi sedih karena ternyata Prabu Duswanta tak kunjung datang menjemputnya.

Bagawan Kanwa tahu akan kegelisahan yang dirasakan oleh puterinya, maka ia pun menyuruh Sakuntala beserta puteranya untuk pergi menghadap Sang Raja. Sakuntala pun menuruti nasihat Begawan Kanwa demi masa depan putera yang sangat dikasihinya.

Sesampainya di kerajaan kerajaan, Sakuntala menghadap Sang Raja yang sedang bersidang di istana kerajaan. Di depan umum, Sakuntala menjelaskan maksud kedatangannya untuk menaguh janji Sang Raja. Mendengar pengakuan tersebut, Prabu Duswanta menolak perkataan Sakuntala. Bahkan ia tidak mau mengakui bahwa ia telah menikah dan memiliki seorang putera dari Sakuntala. Bahkan Sang raja menghina dan mencela Sakuntala.

Namun, tiba-tiba terdengar suara dari dewata yang membenarkan perkataan Sakuntala. Sang Raja pun tidak dapat mengelak, ia pun akhirnya menerima dan memeluk Sakuntala dan putera mereka. Sang Raja pun mengangkat Sarwadarmana sebagai raja menggantikan dirinya danĀ  mengganti nama Sarwadarmana menjadi Bharata.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply