Satyaki

0

Satyaki adalah salah satu tokoh yang muncul dalam wiracarita Mahabharata. Ia berada di pihak Pandawa dalam perang Bharatayudha. Satyaki juga merupakan satu-satunya sekutu Pandawa selain Kresna yang masih hidup setelah Bharatayudha berakhir.

Dalam versi Mahabharata Satyaki adalah putera Satyaka, putera Sini. Sini adalah pemuka bangsa Wresni yang melamar Dewaki untuk Basudewa yang tak lain adalah ayah dari Kresna.

Setyaki memiliki sepuluh orang putera yang semuanya gugur di tangan Burisrawa saat perang Bharatayudha.

Sedangkan dalam versi pewayangan Jawa, Satyaki adalah putera Satyajit raja kerajaan Lesanpura dengan Warsini. Satyajit adalah adik termuda dari Basudewa dan Kunti. Dan ini berarti, Setyaki adalah sepupu dari Kresna dan para Pandawa.

Dalam pewayangan Jawa dikisahkan saat Warsini mengandung, ia mengidam ingin bertamasya dengan menunggang macan putih. Untuk menuruti keinginan istrinya, Satyajit mendatangkan keponakknya, yaitu Kresna, Baladewa dan para Pandawa untuk membantu. Dari semua keponakannya yang dipanggil, yang berhasil menangkap macan putih adalah Kresna.

Namun, ternyata macan putih itu adalah penjelmaan dari Singamulangjaya, patih kerajaan Swalabumi. Ia diutus Prabu Satyasa untuk menculik Warsini, macan putih jelmaan Singamulangjya itu pun segera membawa Warsini lari setelah istri Satyaki tersebut naik ke punggungnya.Sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas kejadian itu, Kresna langsung mengejar Singamulangjaya.

Sementara itu, di tengah perjalanan, Singamulangjaya mencoba untuk mengeluarkan isi di kandungan Warsini dengan paksa. Bayi yang dilahirkan Warsini bukannya mati seperti yang Singamulangjaya harapkan, namun bayi itu justru bertambah besar setelah dihajarnya. Bayi warsini tersebut lalu berubah menjadi seorang pemudan dan membunuh Singamulangjaya. Arwah Singamulangjaya pun menyatu ke dalam diri pemuda tersebut.

Bayi yang telah menjadi seorang pemuda dalam waktu sekejap itu siberi nama Satyaki oleh ibunya, Warsini.

Kresna yang mencari Warsini yang dibawa kabur macan putih jelmaan Singamulangjaya, akhirnya menemukan ibu dan anak itu, Warsini dan Satyaki. Kresna dan Satyaki kemudian bersama-sama memyerang dan berhasil membunuh Prabu Satyasa. Satyaki kemudian menduduki kerajaan Swalabumi sebagai daerah kekuasaannya.

Satyaki memiliki kakak perempuan bernama Satyaboma. Suatu ketika Satyaboma dilamar oleh Drona dengan dukungan para Korawa. Tujuan dari lamarn ini adalah untuk menjadikan Kerajaan Lesanpura sebagai sekutu kerajaan Hastina.

Namun sebelumnya,  Satyaki mengumumkan bahwa jika ingin menikahi kakaknya harus bisa mengalahkan dirinya terlebih dahulu.


Satu persatu Korawa maju namun tak satupun yang berhasil mengalahkan Satyaki, begitu juga dengan Drona. Arjuna pun akhirnya maju atas nama gurunya, Drona. Untuk melawan Arjuna, Satyaki meminta bantuan Kresna. Kresna meminjamkan Kembang Wijayakusuma kepada Satyaki.

Dengan pusaka yang dipinjamkan oleh Kresna, Saatayaki berhasuk menangkal serangan Arjuna dan berhasil mengalahkannya.

Ternyata Kresna sendiri memiliki rasa dengan Setyaboma dan ia ikut melamar kakak Satyaki tersebut. Pertarungan Kresna dan Satyak pun tetap dilakukan dan akhirnya kemenangan menjadi milik Kresna, dan itu berarti ia berhak mempersunting Setyaboma. Dari pernikahan Kresna dan Setyaboma, lahirlah seorang putera yang diberi nama Satyaka.

Satyaki memiliki seorang putera bernama Sangasanga, hasil perkawinannya dengan Trirasa.Sangasanga   juga masih hidup seusai perang Bharatayudha. Sangsanga kemudian menggantikan kedudukan ayahnya menjadi raja kerajaan Lesanpura sepeninggal Satyajit dan Satyaki. Ia juga mengabdi sebagai panglima kerajaan hastina pada masa pemerintahan Parikesit, cucu Arjuna dari puteranya Abimanyu.

Dalam Bharatayudha, Satyaki memihak Pandawa. Peran Satyaki tampak menonjol pada hari ke-14 saat ia ditugasu Arjuna untuk menjaga Yudhistira dari serangan Drona.

Pada hari ke-14 Arjuan maju mencari jayadrata yang pada hari ke-13menyebabkan, putera kesayangannya Abimanyu gugur di medan Kurukhsetra. Sementara Satyaki sesuai amanat Arjuna, melindungi Yudhistira dari Drona yang hendak menangkap sulung Pandawa tersebut sebagai sandera.

Namun, Yudhistira kemudian justru menyuruh Satayaki untuk menyusul membantu Arjuna. Satyaki pun menerobos barisan Korawa hingga tak terhitung jumlahnya yang mati. Satyaki kemudian berhadapan dengan Burisrawa. Semakin lama, Satyaki semakin letih hingga akhirnya ia pingsan. Dalam keadaan pingsan, Burisrawa dengan pedang di tangganya siap menghabisi nyawa Satyaki.

Arjuna yang mengendarai kereta dengan Kresna sebagai kusir sudah mendekati tempat persembunyian Jayadrata. Namun, Kresna memintanya untuk berbalik membantu Satyaki. Pada awalnya Arjuna menolak karena hal itu melanggar peraturan. Namun, Kresna berhasil meyakinkan Arjuna bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk menolong Satyaki yang sudah bersusah payah datang membantunya.

Arjuna akhirnya memanah lengan Burisrawa sampai putus. Burisrawa terkejut dan menuduh Arjuna berbuat curang. Arjuna membantah karena Burisrawa sendiri hendak membunuh Satyaki  dalam keadaan pingsan serta ia juga ikut serta mengeroyok Abimanyu.

Mendengar hal itu, Burisrawa menyadari atas kesalahannya. Ia pun duduk bermeditasi namun tiba-tiba Satyaki sadar dan langsung membunuh Burisrawa dengan potongan lengan Burisrawa yang masih memegang pedang.

Namun dalam versi-versi yang lain disebutkan, bahwa Satyaki membunuh Burisrawa menggunakan pedang Mangekabhama, Panah Nagabanda dan gada Wesikuning.

36 tahun setelah Bharatayudha berakhir, bangsa Wresni dan Yadawa mengadakan upacara di tepi pantai Pramanakoti. Mereka pun berpesta mabuk-mabukan. Dalam keadaan tidak sadar, Satyaki mengejek Kretawarma yang dulu memihak Korawa , yang menyerang perkemahan Pandawa pada waktu malam. Sebaliknya, Kretawarma juga mengejek Satyaki yang membunuh Burisrawa secara licik.

Dalam keadaan yang sangat mabuk, Satyaki membunuh Kretawarma. Akibatnya, orang-orang dalam pesta itu pun terbagi menjadi dua ,yang akhirnya saling membunuh.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply