Semar

0

Semar atau Kyai Lurah Badrayana merupakan tokoh Punokawan yang paling utama. Badrayana artinya Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia. Dalam kisah pewayangan Jawa, Semar adalah pengasuh sekaligus penasihat para ksatria utama.

Dalam cerita Mahabharata dan Ramayana, tokoh Semar sebenarnya tidak pernah ada. Semar muncul karena ciptaan asli parapu jangga Jawa. Asal-usul Semar pun berbeda-beda.

Dalam naskah serat Kanda, Semar adalah putera penguasa kahyangan, yaitu Sanghyang Nurarasa yang bernama Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal memiliki saudara bernama Sanghyang Wenang, yang kemudian mewarisi takhta Sanghyang Nurarasa. Sanghyang Wenang memiliki putera yang dikenal sebagai Bathara Guru. Semar menjadi pengasuh para ksatria keturunan Bathara Guru.

Dalam naskah Paramayoga, Sanghyang Tunggal adalah putera Sanghyang Wenang, yang kemudian menikah dengan Dewi Rakti, puteri raja jin kepiting, Sanghyang Yuyut. Dewi Rakti melahirkan sebutir telur mustika yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam dan
Manikmaya untuk yang berkulit putih.

Manikmaya kemudian mewarsisi takhta kahyangan dengan bergelar Bathara Guru. Sedangkan Ismaya  diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri (tempat tinggal golongan makhluk halus).Ismaya memiliki putera bernama Bathara Wungkuhan. Bathara Wungkuhan memiliki anak yang berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta atau Semar. Semar kemudian menjadi pengasuh keturunan Bathara Guru.

Dalam naskah Purwakanda, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putera yang masing-masing bernama Bathara Puguh, Bathara Punggung, Bathara Manan dan Bathara Samba. Suatu hari terdengar berita bahwa takhta akan diberikan kepada  Bathara Samba. Karena merasa iri, ketiga kakaknya ini pun menculik Samba dan menyiksanya, namun perbuatan mereka diketahui oleh Sanghyang Tunggal.

Sanghyang Tunggal kemudian mengutuk ketiga puteranya menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog, sedangkan Punggung berubah menjadi Semar dan menjadi pengasuh keturunan Samba, yang bergelar Batara Guru. Sedangkan Manan mendapat pengampunan dan bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.

Dalam naskah Purwacarita , Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putri Sanghyang Rekatatama. Dewi Rekatawati melahirkan sebutir telur yang bercahaya, karena kesal Sanghyang Tunggal membanting telur sehingga pecah menjadi tiga bagian, cangkang, putih,dan kuning telur. Namun ketiganya menjelma menjadi laki-laki, yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, putih telur diberi nama Ismaya, dan yang berasal darui kuning telur diberi nama Manikmaya.

Pada suatu hari, Antaga dan Ismaya terlibat perselisihan karena sama-sama ingin menjadi pewaris tahta. Kemudian keduanya mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung dengan satu kali telan namun mengalami kecelakaan,mulutnya robek dan matanya melebar. Sedangkan Ismaya memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit, setelah beberapa hari seluruh bagian gunung berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak bisa dikeluarkan. Karena keserakahan keduanya, Sanghyang Tunggal menghukum mereka menjadi pengasuh keturunan Manikmaya yang diangkat sebagai pewaris tahta dan bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya turun ke dunia dan memakai nama Togog dan Semar.

Semar memiliki bentuk fisik yang unik, bentuk fisiknya seolah-olah merupakan symbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya bulat merupakan symbol bumi, yaitu tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar selalu tersenyum tetapi matanya sembab, ini sebagai symbol suka duka. Rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil tetapi wajahnya tua, ini merupakan symbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki tetapi memiliki payudara seperti perempuan, ini jelas menyimbolkan pria dan wanita. Semar merupakan penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat biasa, ini menyimbolkann atasan dan bawahan.

Wayang  Kulit Semar

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply