Shinta Melahirkan Dalam Pembuangan

0

Meskipun Dewi Sinta sudah membuktikan kesuciannya dengan menceburkan diri ke dalam api, namun ternyata rakyat Ayodya masih menyangsikan akan kesuciannya, karena mereka tidak menyaksikan sendiri saat Shinta menjalani hukum bakar tersebut. Kesangsian rakyat Ayodya akan kesucian Sinta membuat Sri Rama memutuskan untuk membuangnya ke hutan. Padahal saat itu, Shinta sedang mengandung calon anaknya.

Laksmana yang mendapat tugas tersebut sebenarnya sangat berat hati untuk melaksanakannya. Namun ia juga tidak mau membantah perintah kakaknya yang sebenarnya juga berat untuk melakukan hal itu.
Laksmana membawa Dewi Sinta ke hutan, di tepi sungai Gangga seperti yang dititahkan Sri Rama.

“ Yunda Dewi, mohon berimbu ampun, kini telah sampai di tempat tujuan. Dan atas titah kakanda Rama, kini Yunda Dewi dibuang di sini, karena rakyat Ayodya mencurigai dan menyangsikan atas kesucian Yunda.”
Dewi Sinta yang tak kuasa menahan perasaannya yang sudah tidak karuan menjerit dan menangis. Saat itu badai, guntur dan hujan deras mengiringi jeritan tangis Dewi Sinta. Laksmana tidak kuasa melihat penderitaan Sinta, maka ia segera menaiki kudanya dan menggiring kudanya agar lari sekencang-kencangnya menghilang kembali ke Ayodya.

Sepeninggal Laksmana datanglah Resi Walmiki yang datang bermaksud menjemput Dewi Sinta yang sedang tertimpa musibah itu. Melihat kedatangan Resi Walmiki, Sinta terkejut karena ia tahu bahwa resi Walmikiadalah guru Sri Rama, suaminya. Sinta kemudian ditolong dan diasuh Resi Walmiki sebagai anaknya sendiri.

Enam bulan kemudian Sinta melahirkan dua anak laki-laki kembar. Mereka diberi nama Lawa dan Kusya. Kedua putera Sinta tersebut kemudian diasuh oleh Sinta dan Resi Walmiki. Mereka dididik oleh Resi Walmiki agar menjadi pemuda yang gagah berani, bertanggung jawab, susila anuraga, dan tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa.

Resi Walmiki juga selalu mengajarkan ilmu lahir dan batin dan juga sejarah Sri Rama sejak lahir sampai ia mengusir permaisurinya sendiri Shinta, dari Ayodya. Namun mereka tidak tahu bahwa Sri Rama dan Sinta itu adalah ayah dan ibunya sendiri.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply