Tuah dan Perlambang Pamor

0

Di kalangan penggemar keris, timbul istilah “membaca pamor” untuk mengetahui sebuah keris atau tombak itu baik atau tidak tuahnya. Mereka menganggap, bahwa tuah keris dapat dibaca dari pamornya.

Anggapan ini memang tidak bisa disalahkan. Soalnya, seandainya pamor itu termasuk jenis pamor tiban, gambaran yang muncul dianggap sebagai pratanda dari Tuhan mengenai isi dari tuah keris itu. Jadi, motif atau pola yang tergambar pada pamor itu dianggap sebagai petunjuk untuk memperkirakan tuah apa yang terkandung di dalamnya.

Jika pamor itu tergolong pamor rekan, pamor itu direka oleh sang empu sedemikian rupa sehingga bentuk gambarannya sesuai niat si empu, yang dirupakan dalam doa atau mantera yang diucapkannya. Misalnya, jika sang empu menginginkan keris buatannya mempermudah si pemilik untuk mencari rezeki, ia akan membuat pamor Udan Mas, Pancuran Mas, Tumpuk dan Mrutu Sewu.

Jika si empu ingin agar keris buatannya bisa menambah kewibawaan pemiliknya, empu akan membuat keris dengan pamor Naga Rangsang, Ri Wader, Raja Abala Raja, dan yang sejenis dengan itu.

Gambaran motif pamor adalah perlambang harapan sang empu, sekaligus juga harapan si pemilik keris, kira-kira sama halnya dengan gambaran rajah penolak bala.

Dalam budaya Jawa, mungkin juga dibilang budaya Indonesia, bentuk-bentuk tertentu membawa perlambang maksud dan harapan tertentu pula.

Bentuk bulatan, lingkaran, garis lengkung atau gambaran yang memberikan kesan lumer, kental, tidak kaku, melambangkan kadonyan atau kemakmuran duniawi, kekayaan rejeki, keberuntungan, pangkat dan yang semacam dengan itu.

Bentuk gambaran garis menyudut, segi, patahan, seperti segi tiga, segi empat dan yang serupa dengan itu dianggap sebagai lambang harapan akan ketahanan atau daya tangkal terhadap godaan, gangguan,serangan, baik secara fisik maupun non fisik. Jika gambaran itu dirupakan dalam bentuk pamor, itu melambangkan harapan akan kesaktian dan kadigdayaan.

Bentuk garis lurus yang membujur atau melintang, atau diagonal, dipercaya sebagai lambang harapan segala sesuatu yang tidak diharapakan. Pamor serupa itu dianggap dapat diharapkan kegunaannya untuk menolak bala,menangkal guna-guna dan gangguan makhluk halus, menghindarkan bahaya angin ribut dan badai, terhindar dari gangguan binatang buas dan binatang berbisa. Misalnya pamor Adeg.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply