Wayang Banjar

0

Wayang Banjar adalah wayang kulit yang berkembang dalam suku Banjar, Kalimantan Selatan. Wayang kulit sudah dikenal oleh masyarakat Banjar sejak awal abad ke XIV, hal ini diperkuat karena pada kisaran tahun 1300 sampai 1400 kerajaan Majapahit telah mengusai sebagian wilayah Kalimantan dan juga menyebarkan pengaruh agama Hindu dengan jalan pertunjukkan wayang kulit.

Konon pasukan Majapahit dibawah pimpinan Andayaningrat membawa seorang dalang wayang kulit bernama R.  Sakar Sungsang lengkap dengan pengrawitnya, pagelaran dimainkan dengan pakem tradisi Jawa, namun sayangnya kurang bisa dinikmati oleh masyarakat Banjar karena lebih banyak menggunakan repertoar dan ideom-ideom Jawa, sehingga sulit untuk dimengerti masyarakat Banjar.

Saat kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran dan mulai berdiri kerajaan Islam, pertunjukkan wayang kulit di Banjar mulai diadaptasi dengan muatan-muatan lokal yang dipelopori oleh Datuk Toya, penyesuaian itu terus berlangsung sampai abad ke XVI, dan perlahan-lahan wayang kulit itu berubah dan sesuai dengan citarasa dan estetika masyarakat Banjar.

Wayang Kulit Banjar memiliki ciri-ciri spesifik yang membedakan jenis wayang kulit ini dengan wayang kulit jenis lainnya, baik dari segi bentuk, music/gamelan pengiring, warna maupun tata cara memainkan, namun tokoh-tokoh pewayangannya masih mengikuti pakem pewayangan yang dikembangkan dari tokoh dan perlambang masyarakat Banjarseperti terdapat gunungan/kayon, Batara Narada, Arjunawijaya, jambu Leta Petruk, Sarawita/Bilung, Subali, Hanoman, Prabu Rama, Kedakit Klawu atau Raksasa dan lainnya.

Wayang kulit di Banjar sedikit berbeda dengan wayang kulit di Jawa. Wayang kulit Banjar berasal dari kulit sapi bahkan dan kulit kambing. Bentuk dan postur wayang kulit banjar juga lebih kecil dibandingkan dengan wayang kulit Jawa. Selain itu penatahan dan pengecatan wayang juga lebih sederhana karena pagelaran wayang kulit Banjar lebih mengutamakan bayangan wayang berdasarkan penglihatan dari belakang layar, sehingga ornament, detail dan warna kurang terlihat oleh penonton.

Dalam pertunjukkan wayang kulit Banjar cerita yang diangkat bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Selain itu, dalang wayang kulit Banjar sering pula menampilkan cerita karangan/gubahan sendiri yang biasa disebut lakon Carang, dan lakon Carang inilah yang kemudian menjadi primadona masyarakat Banjar. Selain lakon Carang, di Kalimantan juga berkembang pertunjukkan “Wayang Sampir”, yang merupakan ritual yang dipimpin oleh dalang untuk mengusir roh-roh jahat yang menggangu kehidupan manusia.

Pertunjukkanwayang kulit Banjar biasanya diselenggarakan untuk acara hajatan seperti khitanan, upacara perkawinan adat, hari-hari besar nasional atau untuk memenuhi nadzar seseorang. Pertunjukkan Wayang Kulit Banjar juga dilengkapi dengan layar dan alat penerangan “blencong” (lampu dengan sumbu api dengan bahan bakar minyak kelapa). Saat wayang dimainkan oleh dalang, blencong dipasang di belakanh layar, sehingga jatuhnya bayangan dari wayang tepat pada layar. Seperti pagelaran wayang Jawa, di sisi kiri dan kanan dalang juga dipasang barisan wayang kulit, sementara penabuh gamelan (niaga) duduk di belakang dalang yang memainkan alat musiknya masing-masing.

Untuk menjadi dalang Wayang Kulit Banjar, calon dalang harus melewati tata cara tertentu. Awalnya diserahkan piduduk (semacam sesajen) kepada guru dalang untuk belajar. Bila murid sudah mengetahui pakem, tahu tentang tembang dan mengetahui tentang gamelan maka ia betamat dengan cara upacara mandi yang disebut bedudus kemudian melakukan upacara pernapasan yang disebut bajumbang. Dalam kondisi ini, calon dalang kawin dengan Arjuna. Sebelum memainkan wayang, calon dalang harus mampu mengucapkan Bisik Semar (mantera sebelum mendalang ) dan menyarung diri (menitis) dengan Arjuna sebagai dalang sejati.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply