Yamadipati

0

Batara Yamadipati atau Sang hyang Yamadipati adalah dewa pencabut nyawa. Dalam pewayangan, Batara Yamadipati adalah putera Batara Ismaya alias Semar dengan Dewi Kanastri atau Dewi Kanastren. Namun dalam kitab Mahabarata, Batara Yamadipati adalah putera Batara Surya.

Ia juga disebut Batara Petraraja atau Yamakingkarapati. Petra artinya adalah neraka atau raja neraka dan Kingkara berarti makhluk penjaga neraka.

Istrinya bernama Dewi Mumpuni, seorang bidadari cantik pemberian batara Guru. Dewi Mumpuni sebenarnya tidak  mencintai Batara Yamadipati. Ia pun tidak merasa bahagia bersuamikan dewa yang berwajah buruk dan menakutkan. Oleh karena itu, Dewi Mumpuni menjalin cinta dengan Bambang Nagatatmala, putra Sang Hyang Antaboga. Akibat skandal itu, terjadilah keonaran di kahyangan. Akhirnya, Bathara Yamadipati rela melepaskan Dewi Mumpuni untuk diperistri Nagatatmala.

Dengan kepergian isterinya, membuat Batara Yamadipati sedih. Karenanya saat berjumpa dengan Dewi Sawitri yang amat mencintai dan setia dengan suaminya, Setiawan, ia sangat kagum dan hormat.

Karena kagum dengan kesetian wanita itu, Yamadipati dengan kewenangannya membatalkan tugasnya untuk mencabut nyawa Setiawan, suami Sawitri.  Bahkan Batara Yamadipati memeberi berkah pada pasangan Sawitri-setiawan sehingga mereka berumur panjang dan memiliki 40 orang anak.

Berbeda dengan dewa yang lain, kahyangan Batara yamadipati tidak tetap. Kahyangan itu dibangung oleh Batara Wismakarma, bisa berpindah-pindah sesuai kehendak pemiliknya.

Suatu ketika, Batara yamadipati pernah bertempur melawan dasamuka, raja Alengka. Untuk mengukur kesaktiannya setelah berguru kepada Resi Subali, Dasamuka menaiki Wimana Puspaka membawa pasukannya ke Yamaloka, yakni neraka bagi orang-orang yang selama hidupnya berbuat kejahatan.

Dalam perjalanan, Batara Narada berusaha mencegqah niat Dasamuka. Namun nasihat itu hanya dianggap angin lalu saja oleh Rahwana.

Pertempuran terjadi antara pasukan Alengka dengan para Yamakingkara, makhluk penjaga neraka. Ternyata anak buah Yamadipati tak sangguop menahan serangan pasukan raksasa dari Alengka. Akibatnya, banyak para penghuni neraka yang membantu para raksasa memerangi para Yamakingkara.

Akhirnya, Batara Yamadipati turun ke gelanggang, para raksasa kalang kabut lari pulang ke Alengka. Kini tinggal Dasamuka berhadapan dengan Batara Yamadipati. Perang tanding antara keduanya berlangsung imbang. Karena tidak dapat menahan amarahnya, Batara Yama lalu menyiapkan senjata pamungkas bernama Kaladenda.

Betara Brama yang menyaksikan perang tanding itu buru-buru mencegah, karena jika Kaladenda dilepaskan, bukan hanya dunia yang akan hancur lebur karena kiamat, kahyangan pun akan porak-poranda dibuatnya. Sebagai gantinya, Batara Brama menyerahkan senjata Hamoga untuk digunakan.

Dengan senjata Hamoga itu Batara Yamadipati berhasil mengusir Dasamuka.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply