Yudistira (Puntadewa) I

0

Yudhistira alias Puntadewa, resminya adalah putra sulung Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Kunti. Namun sesungguhnya, Yudhistira adalah putera Batara Darma, dewa kebenaran dan keadilan.

Dikisahkan, karena kutukan dari Begawan Kimindama, Prabu Pandu tidak dapat menggauli istri-istrinya, yaitu Dewi kunti dan Dewi Madrim. Akibatnya, Pandu tidak mungkin akan mendapatkan keturunan yang akan melanjutkan takhta Kerajaan Astina.

Namun untunglah Dewi Kunti menguasai ilmu yang dapat mendatangkan dewa siapa saja yang dikehendakinya untuk mendapatkan keturunan. Ilmu itu bernama Aji Adityarhedaya yang dipelajarinya dari Resi Druwasa, ketika Kunti masih gadis.

Dengan tujuan untuk mendapatkan keturunan, Pandu mengizinkan Dewi Kunti menggunakan ilmunya. Mereka sepakat mendatangkan Batara Darma, karena Pandu menginginkan seorang anak yang memiliki sifat adil dan selalu bertindak dalam garis kebenaran. Sifat semacam itulah yang harus dimiliki oleh seorang raja.

Kedatangan Batara Darma pada Dewi Kunti membuahkan anak, dan setelah lahir diberi nama Puntadewa.  Karena pada hakekatnya Puntadewa adalah putra Batara Darma, maka ia pun disebut Darmaputra .

Puntadewa mempunyai sifat serupa dengan Batara Darma, adil dan jujur. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah memusuhi dan dimusuhi orang. Itulah sebabnya, ia dijuluki Ajatasatru, orang yang tidak mempunyai musuh.

Dalam pewayangan diceritakan, sebagai penghargaan para dewa atas kejujuran dan keadilannya, Puntadewa “tidak pantas” menapak ke tanah. Demikian pula kalau ia berkendaraan, roda keretanya pun mengambang, tidak menjejak permukaan tanah.

Meskipun Yudhistira dikenal sebagai manusia yang tidak pernah suka marah, bukan berarti ia tidak bisa marah. Dalam lakon Dewa Amral dan Pancawala Rabi, Puntadewa marah besar dan melakukan tiwikrama, sehingga menjelma menjadi raksasa Brahala yang luar biasa besar.

Seperti saudaranya yang lain, ketika kecil Yudistira dididik oleh Resi Drona dan Resi Krepa. Namun ia tidak begitu berminat dalam ilmu keprajuritan. Ia lebih suka mempelajari ilmu ketatanegaraan, sejarah dan ilmu hokum.

Jika berhadapan dengan Kurawa, Puntadewa sebenarnya selalu mengalah. Ia tidak pernah melawan dan selalu menghindari perselisihan, tetapi adik-adiknya lah yang selalu membelanya, terutama Bima dan Arjuna.

Saat Prabu Pandu wafat, Yudistira masih belum dewasa, sehingga ia belum dapat dinobatkan sebagai raja Astina. Para tetua kerajaan itu kemudian mengangkat Drestarastra, kakak Pandu yang tunanetra, sebagai wali. Drestarastra memegang tampuk pemerintahan di Astina, sementara Puntadewa belum dewasa.

Namun karena termakan bujukan istrinya, Dewi Gendari dan iparnya, Patih Sengkuni, Drestarastra justru mengangkat Duryudana, putera sulungnya sebagai putera mahkota. Peristiwa itu terjadi setelah Pandawa mengalami percobaan pembunuhan di Bale Sigala-gala, sehingga terpaksa berkelana dari hutan ke hutan.

Sementara itu, setelah peristiwa Bale Sigala-gala, para Pandawa dan Dewi Kunti pergi berkelana dan singgah ke Kahyangan Saptapretala, tempat kediaman Sang Hyang Antaboga. Di tempat inilah Bima bertemu dengan Dewi Nagagini dan akhirnya menikah.

Setelah dari kahyangan Saptapretala, Pandawa dan Dewi Kunti melanjutkan perjalanan mereka dengan menyamar menjadi brahmana. Mereka untuk sementara waktu tinggal di suatu desa yang terbilang masih wilayah Kerajaan Cempala. Di tempat inilah, Puntadewa mendapatkan istri yang bernama Dewi Drupadi.

Untuk mencarikan suami untuk puterinya,Prabu Drupada, raja Cempalaradya mengadakan sayembara. Barang siapa yang berhasil mengalahkan Patih Gandamana, ia berhak memboyong Dewi Drupadi. Banyak peserta yang ikut dalam sayembara itu, termasuk Bima. Dari semua perserta, hanya Bima lah yang berhasil mengalahkan Patih Kerajaan Cempala itu. Bima berhak membawa pulang Dewi Drupadi dan memberikannya kepada Puntadewa. Dari perkawinannya dengan Drupadi, Puntadewa dikaruniai seorang putera yang bernama Pancawala.

Namun, menurut kitab Mahabarata, Dewi Drupadi dimenangkan oleh Arjuna sebagai . Untuk mencarikan jodoh untuk puterinya, raja Pancala mengadakan sayembara, barang siapa yang bisa mengangkat Gandewa, ia berhak mendapatkan puterinya. Saat  itu Arjuna mengikuti sayembara itu dan berhasil memenangkannya. Dalam Mahabarata, Drupadi bukan hanya istri Yudhistira, melainkan istri kelima Pandawa.

Berita pernikahan Puntadewa dengan dewi Drupadi akhirnya terdengar ke Istana Astina. Para pinisepuh astina, terutama Resi Bisma, Yamawidura, Rei Krepa an Resi Drona menyarankan agar Pandawa dan ibunya segera diundang pulang ke Astina. Yamawidura pun ditugasi menjemput mereka.

Resi Bisma kemudian mengusulkan agar Pandawa diberi sebagian dari wilayah Astina yang memang menjadi hak mereka. Demi menghindari perselisihan antara Kurawa dan Pandawa, Prabu Drestarastra pun menyetujui usul itu. Para Pandawa diberi Hutan Wanamarta.

Puntadewa dan adik-adiknya kemudian membabar Hutan Wanamarta dan mendirikan Kerajaan Amarta. Semula, hutan lebar itu merupakan kerajaan jin dan makhluk halus. Penghuni asli hutan itu dikalahkan para Pandawa. Puntadewa berhasil mengalahkan raja jin bernama Yudistira. Makhluk halus yang dikalahkan itu kemudian menyatu dalam dirinya, sehingga nama Yudistira pun dipakai Puntadewa sebagai namanya sendiri.

Kerajaan Amarta atau Indraprasta tumbuh dengan cepat menjadi kerajaan yang makmur, aman dan sentosa. Satu demi satu, kerajaan kecil di sekitarnya berhasil ditakhlukkan. Wibawa dan pengaruh Kerajaan Amarta dari hari ke hari semakin bertambah.

Sebagai pernyataan syukur terhadap Sang Pencipta, Yudistira mengadakan Sesaji Rajasuya. Banyak raja yang diundang, termasuk Prabu Anom Duryudana dan beberapa adiknya.

Wayang Kulit Yudhistira

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply