Yudistira (Puntadewa) III

0

Sepulangnya dari menghadiri acara Rajasuya di istana Indraprastha, Doryudana menjadi murung dan memikirkan bagaimana cara untuk mengambil kerajaan itu dari Yudhistira dan Pandawa. Sangkuni yang melihat kemurungan keponakannya, menanyakan apa yang sedang dipikirkan keponakannya tersebut. Doryudana kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya saat menghadiri upacara Rajasuya di Indraprastha. Muncullah ide Sangkuni bagaimana cara untuk mengambil Indrapastha dari tangan para Pandawa.

Sangkuni meminta agar Duryudana mengundang Yudhistira untuk bermain dadu sesuai dengan kegemaran Yudhistira. Undangan Duryudana diterima Yudhistira dengan baik, dan permainan dadu diadakan di istana Hastinapura. Pada awalnya hanya bertaruh kecil-kecilan, dan Yudhistira menang, namun semakin lama berkat kelicikan dan kecerdikan Sangkuni , permainan selalu dimenangkan pihak Korawa.

Taruhan pun juga semakin besar, dan dengan kelicikan Sangkuni pula, Yudhistira mau mempertaruhkan semua hartanya, indraprastha bahkan saudara dan istrinya. Akhirnya Indraprastha jatuh ke tangan Korawa . Namun permainan tidak berhenti di situ saja, setelah harta dan kerajaan jatuh ke tangan lawan, Yudhistira  mempertaruhkan keempat adiknya secara berurutan. Semuanya jatuh ke tangan, namun Duryudana tetap memaksa Yudhistira untuk melanjutkan permainan dan mempertaruhkan Dropadi. Dropadi pun bernasib sama, ia dipermalukan di depan umum.

Saat itu Gandari mendengar ratapan Dropadi yang dipermalukan di depan umum. Ia kemudian memerintahkan puteranya gar menghentikan permainan dan mengembalikan semuanya kepada Pandawa. Meski dengan berat hati, Duryudana mematuhi perintah ibunya. Namun, Duryudana kembali menantang Yudhistira beberapa waktu kemudian. Sekarang peraturannya diganti, barang siapa yang kalah harus menyerahkan negara beserta isinya, dan menjalani masa pengasingan di hutan selama 12 tahun serta penyamaran selama satu tahun. Jika dalam masa penyamaran mereka diketahui/penyamarannya terbongkar, maka wajib mengulangi lagi pembuangan selama 12 tahun dan menyamar selama satu tahun lagi. Dengan kelicikan dan kecerdikan Sangkuni, pihak Pandawa pun mengalami kekalahan dan kerajaan beserta isinya diserahkan kepada Korawa. Sedangkan Pandawa dan Dropadi menjalani masa pembuangan selama 12 tahun dan masa penyamaran selama satu tahun.

Suatu saat para Korawa datang ke dalam hutan untuk menghina para Pandawa. Namun, mereka justru berselisih dengan kaum Gandharwa yang dipimpin oleh Citrasena. Duryodana tertangkap oleh Cirasena. Yudhistira yang tidak pernah mempunyai rasa dendam meski kepada orang yang telah mengambil harta,kerajaan dan harga dirinya, mengirim Bima dan Arjuna untuk menolong Duryodana.

Bima dan Arjuna menjalankan perintah kakaknya meskipun dengan berat hati. Akhirnya Duryudana berhasil dibebaskan. Niat Duryodana untuk menghina dan menghancurkan perasaan Pandawa pun berubah menjadi perasaan malu yang ia rasakan.

Saat Dropadi diculik oleh jayadrata, adik ipar Duryodana, Bima dan Arjuna berhasil menangkap Jayadrata dan hampir membunuhnya. Tetapi Yudhistira muncul dan memaafkan Jayadrata, raja kerajaan Sindu.

Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudhistira dan keempat adiknya berniat membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Para Pandawa bersama-sama mengejar rusa itu. Namun di tengah pengejaran mereka, kelima Pandawa merasa haus. Yudhistira kemudian menyuruh Sadewa untuk mencari air minu, karena lama tidak kembali, Nakula disuruhnya untuk menyusul Sadewa. Namun keduanya juga tidak kunjung kembali, Arjuna kemudian menyusul kedua putera Dewi Madrim tersebut dan akhirnya Bima menyusul. Namun keempat adiknya justru tidak ada yang kembali, Yudhistira pun kemudian menyusul keempat Pandawa tersebut.

Yudhistira sampai di sebuah telaga dan menjumpai keempat adiknya telah tewas. Ada seekor bangau (Baka) yang kemudian mengaku menjadi pemilik telaga tersebut, ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas karena keracunan air telaga karena mereka menolak menjawab pertanyaan darinya. Yudhistira kemudian mempersilakan sang bangau untuk mengajukan pertanyaan yang ditolak oleh keempat adiknya.

Sang bangau kemudian berubah wujud menjadi Yaksa. Satu persatu pertanyaan dia ajukan kepada Yudhistira dan satu-persatu pertanyaa itu pun dijawab Yudhistira dengan benar. Sebagian  pertanyaan yang diajukan oleh yaksa kepada Yudhistira adalah sebagai berikut:

Yaksa: Apa yang lebih berat daripada Bumi, lebih luhur daripada langit, lebih cepat daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami?

Yudhisthira: Sang Ibu lebih berat daripada Bumi, Sang Ayah lebih luhur daripada langit, Pikiran lebih cepat daripada angin dan kekhawatiran kita lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami.

Yaksa: Siapakah kawan dari seorang musafir? Siapakah kawan dari seorang pesakitan dan seorang sekarat?

Yudhistira: Kawan dari seorang musafir adalah pendampingnya. Tabib adalah kawan seorang yang sakit dan kawan seorang sekarat adalah amal.
Yaksa: Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat seseorang dicintai, bahagia dan kaya?

Yudhistira: Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat seseorang dicintai. Hasrat, bila ditinggalkan membuat seseorang kaya dan keserakahan, bila ditinggalkan membuat seseorang bahagia.

Yaksa: Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan hina?

Yudhistira: Kemarahan adalah musuh yang tidak terlihat. Ketidakpuasan adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan.

Yaksa: Siapakah yang benar-benar berbahagia? Apakah keajaiban terbesar? Apa jalannya? Dan apa beritanya?

Yudhistira: Seorang yang tidak punya hutang adalah benar-benar berbahagia. Hari demi hari tak terhitung orang meninggal. Namun yang masih hidup berharap untuk hidup selamanya. Ya Tuhan, keajaiban apa yang lebih besar? Perbedaan pendapat membawa pada kesimpulan yang tidak pasti, Antara Śruti saling berbeda satu sama lain, bahkan tidak ada seorang Resi yang pemikirannya bisa diterima oleh semua. Kebenaran Dharma dan tugas, tersembunyi dalam gua-gua hati kita. Karena itu kesendirian adalah jalan dimana terdapat yang besar dan kecil. Dunia yang dipenuhi kebodohan ini layaknya sebuah wajan. Matahari adalah apinya, hari dan malam adalah bahan bakarnya. Bulan-bulan dan musim-musim merupakan sendok kayunya. Waktu adalah Koki yang memasak semua makhluk dalam wajan itu (dengan berbagai bantuan seperti itu). Inilah beritanya.

Akhirnya, Yaksa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dan untuk hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Yaksa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madri, yaitu Nakula.

Yaksa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun menunjukkan wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan yaksa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.

Setelah selesai menjalani masa pembuangan selama 12 tahun di hutan, saatnya Pandawa dan Dopadi menjalani masa penyamaran selama satu tahun. Mereka memilih kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Wirata sebagai tempat persembunyian mereka.

Yudhistira menyamar menjadi kusir kereta dengan nama Kanka. Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak, Arjuna sebagai banci guru tari dengan nama Wrihanala, Nakula menjadi tukang kuda dengan nama Damagranti, sedangkan Sadewa menjadi Tantripala sebagai penggembala sapi. Sementara Dropadi menjadi dayang istana dengan nama Sailandri.

Pada akhir penyamaran mereka, Wirata mendapat serangan dari kerajaan Kuru. Seluruh kekuasaan kerajaan Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan Trigarth, sekutu Duryodana. Istana Matsya menjadi kosong dan dalam ancaman serangan pasukan Hastinapura. Utara, putera Wirata yang mendapat tugas untuk menjaga istana, berangkat ditemani Wrihanala (Arjuna) sebagai kusir. Wrihanala membuka samara dan tampil mnghadapi Duryodana doi medan perang. Arjuna berhasil memukul mundur pasukan Duryodana. Sementara pasukan Wirata juga berhasil memetik kemenangan dari pasukan Trigartha.

Dalam pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan, bukan nama orang, sedangkan nama rajanya adalah Matsyapati. Yudhistira menyamar menjadi pengelola pasar ibu kota bernama Dwijakangka di kerajaan tersebut.

Setelah genap satu tahun masa penyamaran kelima Pandawa dan Dropadi pun membuka penyamaran mereka. Wirata merasa menyesal setelah mengetahui bahwa mereka adalah putera Pandu dan telah memperlakukan mereka dengan buruk. Wirata kemudian berjanji akan menjadi sekutu Pandadwa dalam usaha mendapatkan kembali takhta Indraprastha.

Setelah mas apembuangan dan penyamaran mereka selesai, para Pandawa dan Dropadi kembali ke Hastinapura untuk menuntut hak mereka. Namun Duryodana justru menolak dan tidak mau menyerahkan kembali Indraprastha kepada para Pandawa. Yudhistira kemudian hanya meminta lima desa saja untuknya dan keempat adiknya. Namun Duryodana tetap menolak, hingga akhirnya pihak Pandawa mengirim Kresna sebagai duta perdamaian, namun Duryodana tetap menolak penawaran damai yang diajukan Pandawa. Bharatayudha pun tidak bisa dihindarkan lagi.

Sebelum perang hari pertama dimulai, Yudhistira turun dari keretanya dan berjalan menuju pasukan Korawa. Duryodana mengejeknya sebagai pengecut yang ia kira, Yudhistira akan menyerah begitu saja begitu melihat kekuatan Korawa dan sekutu mereka. Namun, kedatangan Yudhistira bukan untuk menyerah, melainkan untuk meminta doa restu kepada empat sesepuh Hastinapura, yaitu Bisma, Krepa, Drona dan Salya. Keempat sesepuh Hastinapura mendoakan semoga pihak Pandawa menang.

Drona menggantikan resi Bisma setelah tumbang oleh Arjuna dengan bantuan Srikandi. Drona mendapat amanat untuk menangkap Yudhistira hidup-hidup sebagai sandera. Namun, berbagai cara telah dilakukan untuk menangkap Yudhistira, sudah tidak terhitung lagi pasukan Pandawa yang tewas di tangan Drona, termasuk Drupada dan Wirata.

Pada hari ke-15, Kresna menemukan cara bagaimana untuk melumpuhkan Drona. Kresna memerintahkan Bima untuk membunuh gajah yang bernama Aswatama. Aswatama adalah nama putera tunggal Drona. Bima membunuh gajah tersebut dan berteriak mengumumkan bahwa Aswatama telah tewas.

Berita itu sampai ke telinga Drona, ia menjadi cemas dan segera mendatangi Yudhistira yang dianggapnya sebagai manusia paling jujur untuk menanyakan kebenaran berita tersebut. Yudhistira menjawab, benar bahwa Aswatama telah tewas, namun ia tidak bisa memastikan apakah yang mati gajah atau manusia. Saat Yudhistira mengucapkan kalimat yang kedua, bahwa ia tidak bisa memastikan bahwa yang mati adalah gajah atau putera Drona, pihak Pandawa sengaja membuat keramaian, sehingga Drona tidak mendengar kalimat kedua yang Yudhistira ucapkan.

Mendengar jawaban Yudhistira, Drona menjadi kehilangan semangat hidup dan membuang semua senjatanya dan duduk bermeditasi. Datanglah Drestadyumna, putera Dropada mendatangi Drona dan memenggal kepalanya. Drona pun tewas seketika.

Pada hari ke-18, Salya diangkat menjadi panglima perang Korawa. Salya adalah kakak ipar Pandu yang terpaksa memihak Korawa karena jebakan mereka.

Hari itu Salya maju dengan menggunakan senjata Rudrarohastra. Senjata itu hanya bisa ditahklukan oleh jiwa yang suci. Oleh karena itu, Yudhistia diminta oleh Kresna untuk maju menghadapi Salya. Awalnya Yudhistira menolak, namun akhirnya ia bersedia maju ke medan perang menghadapi Salya.

Yudhistira memakai senjata Kalimahosaddha, pusaka yang berupa kitab tersebut dileparkannya dan berubah menjadi tombak yang menembus dada Salya.

Namun dalam versi lain disebutkan bahwa Salya mengerahkan ilmu Candrabirawa berupa raksasa kerdil yang mengerikan dan apabila dilukai jumlahnya justru bertambah banyak. Yudhistira kemudian mengheningkan cipta dan  Candrabirawa lumpuh seketika karena Yudhistira sudah dirasuki arwah Resi Bagasoati, pemilik asli ilmu tersebut. Selanjutnya, Puntadewa melepaskan Jamus Kalimasada yang menghantam dada Salya.
Setelah Korawa kehabisan pasukan, Duryodana hanya tinggal sendiri. Ia menantang untuk menghadapi kelima Pandawa secara bersamaan. Namun, Yudhistira menolak tantangan Duryodana karena mereka tidak mau berbuat pengecut seperti yang para Korawa lakukan saat membunuh Abimanyu. Duryodana diminta untuk memilih salah satu dari kelima Pandawa sebagai lawannya. Yudhistira mengatakan, jika Duryodana kalah maka kerajaan jarus dikembalikan kepada Pandawa, dan sebaliknya, jika Duryodana menang, Yudhistira bersedia kembali hidup di hutan dan menyerahkan kerajaan kepada Duryodana.

Duryodana memilih Bima sebagai lawannya, karena mereka mempunyai kemampuan yang sama dalam memainkan senjata gada. Keduanya memiliki kekuatan yang sama, hingga akhirnya Kresna mengingatkan Bima akan sumpahnya saat Dropadi dipermalukan oleh Duryodana dan Para Korawa. Bima kemudian memukulkan gadanya ke paha Duryodana yang merupakan titik lemahnya karena saat ia mendapat kekuatan dari Gendari, bagian itu ia tutupi sehingga tidak kebal terhadap senjata. Duryodana pun akhirnya tewas secara perlahan karena luka yang dideritanya.


Setelah perang berakhir, Yudhistira kemudian melaksanakan upacara Tarpana untuk memuliakan mereka yang telah tewas. Ia kemudian diangkat menjadi raja Hastinapura sekaligus raja Indraprastha.

Share.

About Author

Hadisukirno adalah produsen Kerajinan Kulit yang berdiri sejak tahun 1972. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan 45 sub pengrajin yang melibatkan 650 karyawan. Gallery kami beralamat di Jl S Parman 35 Yogyakarta. Produk utama kami adalah wayang kulit dan souvenir. Kami menyediakan wayang kulit baik untuk kebutuhan pentas dalang, koleksi maupun souvenir. Kami selalu berusaha melakukan pengembangan dan inovasi untuk produk kami sesuai dengan selera konsumen namun tetap menjaga kelestarian budaya dan karya bangsa Indonesia. Dan atas anugerah Yang Maha Kuasa, pada tahun 1987 Hadisukirno mendapat penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja Bapak Sudomo untuk Produktivitas Dalam Bidang Eksport Industri Kerajinan Kulit, dengan surat tertanggal 29 Agustus 1987 dengan NOMOR KEP - 1286/MEN/1987.

Leave A Reply