<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Hadisukirno</title>
	<atom:link href="https://blog.hadisukirno.co.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://blog.hadisukirno.co.id</link>
	<description>Kumpulan Informasi Seputar Kerajinan, Souvenir dan Wayang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Jul 2014 02:45:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=3.9.34</generator>
	<item>
		<title>Wayang Kulit Gaya Surakarta</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-gaya-surakarta/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-gaya-surakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2013 01:11:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Promo]]></category>
		<category><![CDATA[jual wayang]]></category>
		<category><![CDATA[souvenir Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[souvenir pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=346</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta merupakan salah satu wayang yang terkenal di Indonesia. Wayang Kulit Gaya Surakarta memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan dengan wayang dari daerah lain. Wayang Kulit Surakarta memiliki detail tatahan dan sunggingan yang sangat halus. Hadisukirno juga menerima pesanan wayang kulit gaya Surakarta ukuran standar pedalangan. Wayang kami buat dari kulit
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-gaya-surakarta/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-gaya-surakarta/">Wayang Kulit Gaya Surakarta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta merupakan salah satu wayang yang terkenal di Indonesia. Wayang Kulit Gaya Surakarta memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan dengan wayang dari daerah lain. Wayang Kulit Surakarta memiliki detail tatahan dan sunggingan yang sangat halus.</span></span></p>
<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Hadisukirno juga menerima pesanan wayang kulit gaya Surakarta ukuran standar pedalangan. Wayang kami buat dari kulit kerbau dan gapit dari tanduk kerbau asli.</span></span></p>
<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Pemesanan bisa melalui email ke hadisukirno1@yahoo.com, telp (0274) 373427 atau mengisi form di halaman Contact us.</span></span></p>
<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Waktu pembuatan wayang kulit sekitar 5-7 hari, tergantung tokoh wayang yang dipesan.</span></span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-gaya-surakarta/">Wayang Kulit Gaya Surakarta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-gaya-surakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahwana (Dasamuka ) Bag. II</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/rahwana-dasamuka-bag-ii/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/rahwana-dasamuka-bag-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Apr 2013 09:07:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh-tokoh wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=345</guid>
		<description><![CDATA[<p>Suatu ketika Prabu Dasamuka mendengar berita tentang pernikahan Dewi Citrawati dengan Prabu Arjunasasrabahu, raja Maespati. Karena tahu bahwa Dewi Citrawati adalah titisan Widawati, sesuai tekadnya, Dasamuka tetap ingin memperistri putri cantik itu. Dasamuka mengerahkan pasukannya menyerbu Maespati. Namun sesampainya di tapal batas Kerajaan Maespati, Dasamuka dan pasukannya terhalang oleh banjir besar, karena sungai Gangga meluap.
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/rahwana-dasamuka-bag-ii/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/rahwana-dasamuka-bag-ii/">Rahwana (Dasamuka ) Bag. II</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Suatu ketika <strong>Prabu Dasamuka</strong> mendengar berita tentang pernikahan Dewi Citrawati dengan Prabu Arjunasasrabahu, raja Maespati. Karena tahu bahwa Dewi Citrawati adalah titisan Widawati, sesuai tekadnya, Dasamuka tetap ingin memperistri putri cantik itu. Dasamuka mengerahkan pasukannya menyerbu Maespati.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Namun sesampainya di tapal batas Kerajaan Maespati, Dasamuka dan pasukannya terhalang oleh banjir besar, karena sungai Gangga meluap. Kala Marica yang diperintahkan menyelidiki sebab banjir mendadak itu melaporkan bahwa di hilir sungai ada raksasa sebesar gunung berbaring melintang sungai sehingga membendung airnya.</span></span></p>
<p>Dengan murka Dasamuka memerintahkan pasukannya menyerang raksasa itu. Namun , sebelum tiba di tempat itu mereka dihadang ksatria yang mengaku bernama Patih Suwanda. Bala tentara Alengka porak poranda, tidak sanggup melawan kesaktian Sang Patih. Prabu Dasamuka terpaksa turun tangan sendiri, dan dengan kesaktian yang dimilikinya ia membunuh patih Suwanda. Kematian patih Maespati itu menyebabkan sang  Raksasa, yakni Prabu Arjusasrabahu yang sedang tiwikrama murka.</p>
<p>Perang tanding terjadi di antara kedua raja itu. Dasamuka tidak dapat terbunuh, karena memiliki Aji Pancasona. Namun dengan anak panah sakti Kalamanggaseta , akhirnya Dasamuka dapat ditawan. Ia kemudian dibawa ke Maespati di alun-alun kerajaan.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, Dewi Sarpakenaka melaporkan tentang Dewi Sinta yang mengikuti Rama berkelana di hutan Dandaka. Sarpakenaka menceritakan tentang kecantikan Dewi Sinta itu kepada kakaknya.</p>
<p>Mendengar cerita dan laporan adiknya itu Prabu Dasamuka ingat akan petunjuk Begawan Maryuta yang menyebutkan bahwa salah seorang titisan Dewi Widawati adalah fdewi Sinta. Karena itu, raja Alengka itu segera berangkat ke hutan Dandaka. Ia mengajak seorang prajurit sakti kepercayaannya, Kala Marica. Dengan tipu muslihat,  akhirnya Dasamuka berhasil menculik Dewi Shinta. Jatayu, seekor burung garuda, yang mencoba mencegah kejahatan Dasamuka, dibunuhnya dengan pedang Candrasa.</p>
<p>Di Istana Alengka, Dewi Sinta disekap di Taman Argasoka. Hampir setiap hari, selama hampir dua belas tahun Sinta dibujuk dan dirayu oleh Dasamuka, namun Dasamuka tidak pernah berhasil. Wanita Cantik itu mengancam akan bunuh diri bilamana raja raksasa itu mencoba menjamah tubuhnya.</p>
<p>Keponakan Dasamuka, puteri Gunawan Wibisana yang bernama Dewi Trijata, ditugasi untuk melayani sekaligus mengawasi Dewi Sinta di taman Argasoka. Namun, karena kemudian Trijata dianggap memihak Dewi Sinta, Dasamuka lalu mengutuk keponakannya itu, kelak akan kawin dengan seorang monyet tua. Kelak terbukti, kutukan Dasamuka atas Dewi Trijata itu.</p>
<p>Peculikan atas Dewi Sinta ini membuat Prabu Dasamuka ditentang oleh dua orang adiknya, yaitu Kumbakarna dan Gunawan Wibisana. Karena dianggap merongrong kewibawaannya. Gunawan Wibisana kemudian diusir keluar dari kerajaan. Sedangkan Kumbakarna yang tidak setuju dengan perbuatan kakaknya, segera meninggalkan istana dan pulang ke ksatriannya di Pangleburgangsa lalu tidur, tidak mau tahu urusan kenegaraan lagi.</p>
<p>Suatu saat, Raja Alengka itu mendapat laporan bahwa Ramawijaya mengutus Anoman untuk menjumpai Dewi Sinta.  Prabu Dasamuka langsung menugasi salah seorang istrinya, yaitu Dewi Sayempraba untuk merancang rekayasa guna menggagalkan perjalanan Anoman.</p>
<p>Tugas ini dijalankan dengan baik. Dewi Sayempraba berhasil mencegat dan merayu Anoman, ketika kera putih itu sedang dalam perjalanan menuju Alengka. Anoman terpikat rayuan wanita cantik itu. Dewi Sayempraba memberinya makanan beracun, sehingga Anoman menjadi buta. Namun Anoman kemudian ditolong seekor garuda sakti bernama Sempati. Sempati membantu menyembuhkan Anoman dari kebutaan dan membantu menerbangkannya ke Alengka.</p>
<p>Setelah Anoman berhasil menjumpai Dewi Sinta, ia tertangkap oleh Indrajid dan dibawa ke hadapan Prabu Dasamuka. Dengan penuh geram, raja Alengka itu memerintahkan agar Anoman dibakar hidup-hidup. Namun, kesempatan itu justru digunakan Anoman untuk membakar dan memporakporandakan Istana Alengka dan setelah itu kabur.</p>
<p>Kekesalan Dasamuka terhadap Anoman sebenarnya belum reda manakala seekor kera berbulu merah bernama Anggada  datang menghadap. Anggada mengaku utusan Rama dan menyampaikan ultimatum agar Dasamuka membebaskan Sinta, kalau tidak, Alengka akan diserang. Walaupun ultimatum itu sempat membuat merah telinganya, raja Alengka itu berpikir cerdik. Dengan ramah disambutnya Anggada dan dikatakannya bahwa sesungguhnya Anggada adalah keponakannya.</p>
<p>Prabu Dasamuka mengingatkan, bahwa Anggada adalah anak Dewi Tara dari Resi Subali. Padahal Dewi Tara adalah adik Dewi Tari, istri Dasamuka. Dengan begitu, jelas bahwa Anggada adalah keponakannya. Selain itu Dasamuka juga mengingatkan bahwa yang membunuh Resi Subali adalah Ramawijaya.</p>
<p>Kecerdikan Dasamuka ternyata membuahkan hasil. Dengan penuh kemarahan, Anggada kembali ke Suwelagiri dengan tekad membunuh Ramawijaya sebagai pelampiasan dendam atas kematian ayahnya.</p>
<p>Namun, kepuasan Dasamuka tidak berlangsung lama. Beberapa waktu kemudian Anggada telah muncul kembali di Istana Alengka sambil memaki-maki Dasamuka dengan penuh kemarahan. Rupanya Anoman telah berhasil menyadarkan Anggada, bahwa sesungguhnya Prabu Dasamuka lah yang telah menghasut dan mengadu domba Resi Subali dengan Prabu Sugriwa. Karenanya, begitu mereka berhadapan Anggada langsung menyerang Dasamuka.</p>
<p>Sewaktu raja Alengka sedang berusaha melindungi diri dari serangan kera berbulu mrah itu, Anggada sempat menyambar mahkotanya sehingga lepas dari kepalanya. Bagi Dasanuka ini adalah penghinaan yang luas biasa. Bersama Indrajid dan sekalian anaknya yang ain, Dasamuka berusaha memburu Anggada, tetpi anak Resi Subali itu berhasil lolos dan kembali ke Suwelagiri, tempat Ramawijaya dan anak buahnya bermukim.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia<br />
</span></span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/rahwana-dasamuka-bag-ii/">Rahwana (Dasamuka ) Bag. II</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/rahwana-dasamuka-bag-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hastabrata</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Mar 2013 11:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=344</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hastabrata dalam pewayangan adalah pedoman ilmu pemerintahan yang merupakan wejangan Ramawijaya kepada adik tirinya, Barata, agar dapat memerintah kerajaan Ayodya dengan baik. Hastabrata juga diulang diwejangkan kepada Gunawan Wibisana, ketika adik bungsu Prabu Dasamuka itu hendak dinobatkan menjadi raja. Isi dari Hastabrata adalah : &#160; Meneladani Batara Endra (Indra) yang menurunkan hujan, membuat segar dunia.
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/">Hastabrata</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Hastabrata dalam pewayangan adalah pedoman ilmu pemerintahan yang merupakan wejangan Ramawijaya kepada adik tirinya, Barata, agar dapat memerintah kerajaan Ayodya dengan baik. Hastabrata juga diulang diwejangkan kepada Gunawan Wibisana, ketika adik bungsu Prabu Dasamuka itu hendak dinobatkan menjadi raja.<br />
Isi dari Hastabrata adalah :</span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Endra (Indra) yang menurunkan hujan, membuat segar dunia. Maksudnya seorang raja harus banyak memberi pada rakyatnya, sebagai turunnya hujan membasahi bumi.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Yama, yang menghukum manusia berdosa. Maksudnya, seorang raja harus berani dan tegas dalam member hukuman kepada siapapun yang melanggar aturan dan berbuat kesalahan; walaupun yang bersalah itu orang tua atau gurunya sendiri.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Candra, yang selalu tampil dengan ceria, menyenangkan orang yang memandangnya. Maksudnya, seorang raja harus selalu bersikap manis, menyenangkan dan simpatik terhadap rakyatnya.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Surya, yang memanasi bumi dengan cahayanya secara sabar dan tanpa bosan, sehingga air dapat menguap. Maksudnya, seorang raja harus memiliki kesabaran lebih besar dari orang lain pada umumnya.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Bayu, yang bagai angin dapat menyelinap diantara pepohonan tanpa kerasa. Maksudnya, seorang raja harus dapat menyatu dan berbaur dengan rakyatnya sehingga ia mengetahui keadaan rakyat yang sebenarnya.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Baruna, yang bersenjatakan pusaka sakti memerangi segala yang jahat. Maksudnya, seorang raja harus berkemampuan membinasakan musuh  negara dan segala jenis kejahatan.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Agni yang memberantas musuh tanpa pilih-pilih. Maksudnya, seorang raja harus bersikap tega dan tanpa pandang bulu dalam menghancurkan musuh; walaupun musuhnya itu masih keluarganya sendiri.</span></span></li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/">Hastabrata</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senjata Cakra</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 03:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=343</guid>
		<description><![CDATA[<p>Lengkapnya Cakra Sudarsana, atau Cakra Baskara adalah senjata andalan Batara Wisnu. Senjata itu juga dimiliki para titisannya, termasuk Prabu Kresna, raja Dwarawati. Sebagai senjata milik dewa, Cakra bukan hanya ampuh, tetapi juga mempunyai bermacam kegunaa. Kebanyakan makhluk di dunia ini tidak ada yang sanggup mengelak dan menangkal dari serangan senjata Cakra kecuali tokoh tertentu yang
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/">Senjata Cakra</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Lengkapnya Cakra Sudarsana, atau Cakra Baskara adalah senjata andalan Batara Wisnu. Senjata itu juga dimiliki para titisannya, termasuk Prabu Kresna, raja Dwarawati. Sebagai senjata milik dewa, Cakra bukan hanya ampuh, tetapi juga mempunyai bermacam kegunaa. Kebanyakan makhluk di dunia ini tidak ada yang sanggup mengelak dan menangkal dari serangan senjata Cakra kecuali tokoh tertentu yang berpihak pada kebajikan.</span></span></p>
<p>Dalam pewayangan senjata Cakra digambarkan berbentuk roda dengan gigi-gigi yang menyerupai  mata tombak. Pada Wayang Kulit Purwa dan Wayang Orang, senjata Cakra dirupakan sebagai mata panah (nyenyep, Bhs. Jawa), sedangkan dalam penggambarannya di beberapa dinding candi serta di komik-komik yang diterbitkan di Jawa Barat, Cakra dilukiskan berbentuk semacam cakram yang tepinya bergerigi.</p>
<p>Sewaktu pecah perang antara Keluarga Pandawa dan Kurawa, Cakra digunakan untuk menghalangi sinar matahari. Prabu Kresna berbuat begitu agar semua orang mengira hari telah senja. Waktu itu, sehari sebelumnya Arjuna bersumpah, “ Jika besok, sebelum matahari terbenam aku tidak dapat membunuh Jayadrata, lebih baik aku mati”. Sumpah Arjuna itu karena dendamnya atas kematian putera kesayangannya Abimanyu yang terjebak dalam formasi Cakrawyuha.</p>
<p>Setelah mendengar sumpahnya itu, Kurawa segera menyembunyikan Jayadrata, dengan harapan, jika Jayadrata berhasil selamat hari itu, tentu Arjuna akan bunuh diri.</p>
<p>Karena senjata Cakra menghalangi matahari, suasana di bumi, saat itu tampak seperti senja hari. Jayadrata yang merasa dirinya aman karena mengirinya batas waktu telah lewat , segera keluar dari persembunyiannya. Ia ingin menonton bagaimana Arjuna bunuh diri melaksanakan sumpahnya. Namun ketika Arjuna melihatnya, ksatria Pandawa itu langsung membunuh Jayadrata dengan anak panahnya. Leher Jayadrata putus tertebas anak panah Arjuna. Sesudah Jayadrata mati, barulah Prabu kresna menarik kembali Cakra dan dunia kembali terang benderang.</p>
<p>Prabu Kresna pernah menggunakan senjata Cakra itu untuk membunuh saudara sepupunya, Sisupala, karena raja Cedi itu telah menghinanya di depan umum. Peristiwa ini terjadi pada saat Prabu Yudhistira mengadakan upacara Sesaji Rajasuya. Selain itu, Cakra juga digunakan Kresna untuk membunuh Bomanarakusuma, anaknya sendiri, karena Boma berani melawan para dewa dengan menyerbu kahyangan, lagi pula Boma juga membunuh Samba, anak kesayangan Prabu Kresna.</p>
<p>Meskipun pada dasarnya Cakra adalah senjata andalan bagi tokoh wyang titisan Batara Wisnu, tetapi pada zaman Prabu Arjuna Sasrabahu senjata ini merupakan milik Patih Suwanda alias Bambang Sumantri.</p>
<p>Dalam pewayangan gagrak Jawa Timur diceritakan, senjata Cakra Baskara tercipta dalam lakon Wisnusraya. Suatu ketika, Prabu Mangliawan dari Kerajaan Selagringging menyerbu kahyangan, karena pinangannya terhadap Dewi Sri Pujayanti ditolak. Bala tentara dewa kewalahan menghadapinya. Sang Hyang Narada menugasi Batara Wisnu untuk menghadapi Prabu Mangliawan.</p>
<p>Sebelum berangkat ke medan laga Batara Wisnu menyuruh istrinya memohon restu pada batara Guru.</p>
<p>Namun pemuka dewa itu tidak berkenan karena ia masih sakit hati pada Wisnu dan Dewi Sri, karena mereka kawin, padahal Batara Guru juga berminat memperistri Dewi Sri. Batara Guru bahkan membuang ludah dahaknya sehingga menodai kain yang dikenakan Dewi Sri.</p>
<p>Dewi Sri kemudian melaporkan segala kejadian itu pada suaminya. Oleh Wisnu dahak Batara Guru yang menempel di kain istrinya dipuja menjadi sebuah senjata sakti berbentuk bulat, dengan delapan runcingan di sekeliling sisinya. Senjata itu dinamakan Cakra Baskara atau Riak Kumala.</p>
<p>Menurut versi yang ini, kisah terjadinya senjata Cakra dimulai dari niat Batara Guru untuk berolah asmara dengan Dewi Sri Widawati. Sang Dewi menolak dan memohon perlindungan Batara Wisnu. Ketika batara Wisnu hendak menyadarkan Batara Guru bahwa perbuatannya tidak pantas, pemuka dewa itu malah marah, lalu melakukan tiwikrama. Keempat tangannya menjadi besar dan panjang hendak mencengkeram Wisnu.</p>
<p>Karena takut sekaligus marah, Batara Wisnu melakukan tiwikrama, berubah ujud menjadi Kalamercu. Batara Guru kewalahan dan menghentikan serangannya, tetapi rasa kesalnya belum reda. Batara Wisnu diludahi . Kemudian bersama Batari Sri Widawati dan Batara Basuki, Wishnu diusir dari kahyangan. Sebelum meninggalkan kahyangan, Batara Wisnu memuja ludah Batara Guru menjadi senjata Cakra.</p>
<p>Mulai saat itulah mereka menitis pada manusia yang dipilihnya.</p>
<p>Pertama kali senjata Cakra digunakan oleh batara Wisnu memenggal leher Rembuculung atau Kala Rudra. Sewaktu mendapat laporan dari Batara Candra bahwa Rembuculung mencuri air kehidupan Tirta Amerta. Batara Wisnu segera memburunya. Dengan Senjata Cakra, dewa Pemelihara Alam itu memenggal leher Rembuculung hingga putus. Namun, karena raksasa gandarwa itu sempat meneguk Tirta Amerta. Sebelum sempat tertalan, kepala Rembuculung tidak mati, sedangkan badannya menjadi lesung.</p>
<p>Kala Cakra dalam bahasa Sansekerta mengandung arti bulatan atau lingkaran, piringan, roda atau sejenis dengan itu.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/">Senjata Cakra</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Golek Papak</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Mar 2013 07:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=342</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wayang golek cepak atau Wayang Golek Papak, disebut demikian karena bentuk bagian kepala (mahkota, irah-irahan),wayang-wayangnya rata. Namun pada dasarnya bentuk seni kriya wayang itu amat mirip dengan Wayang Golek Purwa Sunda. Lakon –lakon yang digunakan dalam wayang cepak pada umumnya diambil dari cerita para leluhur Jawa Barat dan ada juga yang diambil dari Mahabharata. Wayang
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/">Wayang Golek Papak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Wayang golek cepak atau Wayang Golek Papak, disebut demikian karena bentuk bagian kepala (mahkota, irah-irahan),wayang-wayangnya rata. Namun pada dasarnya bentuk seni kriya wayang itu amat mirip dengan Wayang Golek Purwa Sunda. Lakon –lakon yang digunakan dalam wayang cepak pada umumnya diambil dari cerita para leluhur Jawa Barat dan ada juga yang diambil dari Mahabharata.</span></p>
<p>Wayang Golek Cepak ini pada zaman dulu pernah berkembang di Cirebon dan daerah sekitarnya. Di daerah itu orang menyelenggarakan pergelaran wayang Cepak untuk menyambut orang yang baru memasuki agama Isalam, meramaikan upacara Khitanan dan pada upacara potong gigi atau pangur.</p>
<p>Wayang golek papak  mulai dikenal orang pada masa pemerintahan Gunung Jati (1479-1568). Menurut penuturan Ki Tanggal Gunawaijaya, salah seorang dalang Wayang Cepak di Desa Sumber, Kecamatan Babakan, Cirebon, Pangran Sutajaya yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Papak, pernah memberikan seperangkat Wayang Golek Cepak kepada Ki Prengut, dengan pesan untuk digunakan sebagai sarana dakwah agama Islam. Kini wayang itu tidak berkembang, mungkin karena bentuk wayang itu agak kaku, tidak seindah Wayang Golek Purwa Sunda.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/">Wayang Golek Papak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Jawatimuran</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Mar 2013 03:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=341</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wayang Kulit Purwa Jawatimuran memiliki corak sendiri. Seni kriyanya pada beberapa bagian cukup jauh bedanya dengan Wayang Kulit gagrak Surakarta maupun Yogyakarta. Demikian pula jalan cerintanya, terutama pada lakon-lakon carangan, punya perbedaan disana-sini. Tokoh Dewi Indradi misalnya, di pedalangan Jawatimuran dikenal dengan nama Dewi Cani. Resi Gotama, disebut Resi Wigutama. Anoman lebih dikenal dengan nama
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/">Wayang Jawatimuran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Wayang Kulit Purwa Jawatimuran memiliki corak sendiri. Seni kriyanya pada beberapa bagian cukup jauh bedanya dengan Wayang Kulit gagrak Surakarta maupun Yogyakarta.</span></p>
<p>Demikian pula jalan cerintanya, terutama pada lakon-lakon carangan, punya perbedaan disana-sini.<span style="font-size: small;"> Tokoh Dewi Indradi misalnya, di pedalangan Jawatimuran dikenal dengan nama Dewi Cani. Resi Gotama, disebut Resi Wigutama. Anoman lebih dikenal dengan nama Anjila.</span></p>
<p>Demikian pula tokoh-tokoh wayangnya. Jawa Timur memiliki nama tokoh wayang yang khas yang tidak terdapat pada daerah lain, misalnya Bubut Bris, anak Prabu Dasamuka. Menurut Pewayangan Jawatimuran, Bubut Bris dilahirkan oleh seekor burung betina, yang oleh Dasamuka dikira titisan Dewi Widawati.</p>
<p>Pada seni kriyanya, ciri khas yang mencolok pada gaya Jawatimuran adalah pemaduan bentuk irah-irahan dengan gelung sapit urang untuk beberapa tokoh wayang. Misalnya, seorang tokoh wayang yang memakai topong (mahkota), masih juga memakai gelung dibelakang kepalanya.</p>
<p>Pada pewarnaan sunggingannya, terkadang juga jauh bedanya. Gatotkaca dan Bima misalnya, yang pada seni kriya gagrak Surakarta dan Yogyakarta wajahnya selalu dicat dengan warna keemasan (prada) atau hitam, pada wayang Kulit Purwa Jawatimuran diberi warna merah menyala. Tokoh Antareja, wajahnya distilir dari bentuk muka naga, lengkap dengan moncong menganga dan lidahnya yang bercabang. Peraga wayang berwajah naga ini, dimaksudkan untuk Antareja ketika sedang tiwikrama.</p>
<p>Selain itu, wayang Jawatimuran hanya mengenal dua tokoh Panakawan utama, yaitu Semar dan Bagong Mangundiwangsa. kadang-kadang ditambahkan pula dengan tokoh punakawan yang lain, Besut alias Bestil, alias Besep. Bentuknya Bagong, tetapi ukurannya lebih kecil.</p>
<p>Salah seorang yang ahli mengenai pewayangan gagrak Jawatimuran ini adalah Soenarto Timoer, budawayan yang juga penulis banyak buku wayang.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/">Wayang Jawatimuran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Irah-Irahan Wayang</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2013 04:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=340</guid>
		<description><![CDATA[<p>Irah-irahan wayang dalam dunia pewayangan adalah sebutan bagi penutup kepala. bentuk-bentuk sanggul dan bentuk rambut. Istilah irah-irahan Wayang bukan hanya  digunakan dalam seni Kriya Wayang Kulit Purwa, Wayang golek Purwa, Wayang Madya, Wayang Wa-sana juga pada perlengkapan pakaian wayang Orang.Kata irah-irahan  berasal dari bahasa Jawa, kata &#8216;sirah&#8217; artinya adalah kepala. Bentuk irah-irahan wayang akan menentukan
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/">Irah-Irahan Wayang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Irah-irahan wayang dalam dunia pewayangan adalah sebutan bagi penutup kepala. bentuk-bentuk sanggul dan bentuk rambut. Istilah irah-irahan Wayang bukan hanya  digunakan dalam seni Kriya Wayang Kulit Purwa, Wayang golek Purwa, Wayang Madya, Wayang Wa-sana juga pada perlengkapan pakaian wayang Orang.Kata irah-irahan  berasal dari bahasa Jawa, kata &#8216;sirah&#8217; artinya adalah kepala.</span></p>
<p>Bentuk irah-irahan wayang akan menentukan golongan mana tokoh wayang itu termasuk. Irah-irahan wayang golongan raja, berbeda dengan kerabatnya dan juga dengan para punggawanya.</p>
<p>Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan juga wayang Orang, jenis irah-irahan wayang adalah sebagai berikut :</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><span style="font-size: small;"><em><strong>Makuta</strong></em>, yang artinya mahkota, adalah jenis irah-irahan wayang yang dikenakan oleh para raja. Makuta antar alain dikenakan oleh Prabu Kresna, Prabu Basudewa, Prabu Kresna Dwipayana, Prabu Baladewa dan Prabu Ramawijaya. Golongan Dewa dalam pewayangan yang mengenakan makuta diantaranya Batara Wisnu, Batara Bayu, batara Brama dan Batara Endra. selain itu, raja kera dan  raja raksasa pun ada yang mengenakan makuta, diantaranya Prabu Dasamuka dan Prabu Sugriwa.</span></li>
<li><span style="font-size: small;"><em><strong>Topan</strong></em> &#8211; sebenarnya juga semacam mahkota, tetapi tidak tinggi seperti makuta, melainkan pendek seperti setengah bulatan. Oleh karena itu, topong juga sering disebut topong makuta, atau makuta topong. Pemakai topong makuta diantaranya adalah Batara Guru, Sang Hyang Antaboga, adipati karna, Prabu Matswapati, Prabu Sentanu dan Prabu Dasarata.</span></li>
<li><span style="font-size: small;"><strong><em>Ketu</em></strong>, juga semacam mahkota dalam bentuk yang lebih sederhana. Pemakai irah-irahan wayang  berbentuk ketu diantaranya adalah Batara Narada, batara Yamadipati, Resi Drona dan Citraksi. selain bentuk ketu yang biasa, dalam pewayangan juga dikenal adanya ketu yang khas yang disebut ketu Udeng. Pemakai ketu udeng diantaranya adalah Patih Sengkuni, Patih Pragota, Aswatama, kapi Jembawan dan Patih Udawa. Ada lagi yang disebut ketu depak yang bentuknya bulat lonjong.</span></li>
<li><span style="font-size: small;"><strong><em>Sorban Mekena</em></strong> &#8211; merupakan bentuk stilir dari sorban, sehingga bentuknya menjadi seperti rumah keong. Itulah sebabnya, sorban mekena yang bentuknya benar &#8211; benar seperti keong juga disebut keong keyongan. Pemakai sorban mekena, diantaranya adalah Batara Kala, Batara Surya, Begawan Abiyasa dan Resi Bisma.</span></li>
<li><span style="font-size: small;"><em><strong>Pogok Blangkon</strong></em>, atau kopiyah &#8211; dipakai antara lain oleh tokoh wayang raksasa Cakil dan beberapa punggawa.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size: small;"><br />
Dalam seni Kriya wayang kulit maupun Orang, gelung rambut (sanggul), dan rambut ngore (rambut digerai lepas ) juga tergolong irah-irahan wayang, karena menyangkut soal kepala.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><span style="font-size: small;"><em>Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia</em><br />
</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/">Irah-Irahan Wayang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Cupak</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2013 04:25:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=339</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wayang Cupak adalah pertunjukkan Wayang Kulit Bali yang mengisahkan perjalanan hidup Cupak-Grantang. Perangkat iringannya sama dengan pertunjukkan Wayang Kulit Ramayana, yang terdiri dari empat buah gender wayang, dua buah kendang krumpungan lanang-wadon; sebuah kempul, kenong, ceng-ceng duduk, kelenang, ketuk dan beberapa Seruling besar dan kecil. Sejak akhir tahun 1970-an pertunjukkan diiringin dengan perangkat gamelan Pelegongan.
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/">Wayang Cupak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Wayang Cupak adalah pertunjukkan Wayang Kulit Bali yang mengisahkan perjalanan hidup Cupak-Grantang. Perangkat iringannya sama dengan pertunjukkan </span></p>
<p>Wayang Kulit Ramayana, yang terdiri dari empat buah gender wayang, dua buah kendang krumpungan lanang-wadon; sebuah kempul, kenong, ceng-ceng duduk, kelenang, ketuk dan beberapa Seruling besar dan kecil.</p>
<p>Sejak akhir tahun 1970-an pertunjukkan diiringin dengan perangkat gamelan Pelegongan. Dalang yang pernah melakukan hal ini adalah I NYoman Sumandi, M.A.</p>
<p>Pada tahun 1998, wayang Cupak sudah amat langka. Wayang itu hanya dapat dijumpaidi kabupaten Tabanan, Gianyar dan Denpasar.</p>
<p>Dalang-dalang Wayang Cupak yang cukup terkenal diantaranya, I Mahal dari Banjar Tohpati, Desa Sibang, Kabupaten Badung, dalang I Wayang Wetra dari Dukuh</p>
<p>Oulu, Desa Selamadeg, Kabupaten Tabanan, dalan Pan Raben dan dan I jangga dari Tabanan. Salah satu lakon terkenal yang sempat direkam di kaset, adalah Cupak Ka Swarga, diproduksi Aneka Record, Tabanan.</p>
<p>Untuk melestarikan Wayang Cupak, pada tahun 1995 diadakan festival Wayang Cupak Se-Bali. Acara itu diselenggarakan oleh Majelos Pertimbangan dan</p>
<p>Pembinaan Kebudayaan (ListiBiya) Bali, bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Bali.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/">Wayang Cupak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Pandawa-Punokawan Satu Set</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-pandawa-punokawan-satu-set/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-pandawa-punokawan-satu-set/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2013 06:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Promo]]></category>
		<category><![CDATA[jual wayang]]></category>
		<category><![CDATA[souvenir Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[souvenir pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=338</guid>
		<description><![CDATA[<p>Istilah sedulur papat lima pancer dalam dunia pewayangan disimbolkan Punokawan dan (Pandawa) para ksatria yang diikutinya. Pandawa lima menjadi para ksatria yang dalam perjalanannya selalu disertai oleh para Punokawan. Punokawan tidak hanya sebagai pengasuh para ksatria Pandawa, tapi juga sebagai penasihat mereka. Pandawa tidak pernah lepas dari para Punokawan. Kemanapun mereka pergi, para Punokawan selalu
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-pandawa-punokawan-satu-set/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-pandawa-punokawan-satu-set/">Wayang Pandawa-Punokawan Satu Set</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Istilah sedulur papat lima pancer dalam dunia pewayangan disimbolkan Punokawan dan (Pandawa) para ksatria yang diikutinya. Pandawa lima menjadi para ksatria yang dalam perjalanannya selalu disertai oleh para Punokawan. Punokawan tidak hanya sebagai pengasuh para ksatria Pandawa, tapi juga sebagai penasihat mereka.</span></p>
<p>Pandawa tidak pernah lepas dari para Punokawan. Kemanapun mereka pergi, para Punokawan selalu berada di belakang mereka.</p>
<p>Oleh karena itu, banyak para pecinta wayang terutama wayang kulit yang menginginkan bisa memiliki mereka (Pandawa dan Punokawan), baik dalam bentuk jejer wayang kulit asli, wayang pigura maupun wayang lukis. Untuk mendapatkan satu set wayang pandawa dan punokawan memang membutuhkan dana yang lebih. Namun Anda bisa mendapatkannya dengan harga yang cukup terjangkau.</p>
<p>Kami menerima dan menyediakan satu set wayang kulit Pandawa dan Punokawan dengan harga yang cukup terjangkau. Wayang kami buat dari kulit asli, pahatan dan sungging halus, hanya ukuran wayang lebih kecil, yakni ukuran kidangan (30-40 cm) dan wayang mini (20-25 cm).</p>
<p>Selain untuk koleksi,wayang dalam ukuran yang lebih kecil juga bagus untuk dijadikan souvenir maupun hadiah.</p>
<p><span style="font-size: small;">Untuk pemesanan bisa langsung menghungi kami melalui telp ke <strong>(0274) 373427</strong>, email ke <strong>hadisukirno1@yahoo.com</strong> atau  langsung chating dengan online service kami.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: small;"><strong>Wayang Pandawa-Punokawan</strong><br />
</span></p>
<p><img src=" http://www.hadisukirno.com/images/produk/Wayang%20Pandawa-Punokawan%20Mini.jpg" alt="Wayang Pandawa-Punokawan" width="810" height="307" /></p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://www.hadisukirno.com/images/produk/Wayang%20Pandawa%20Batik.jpg" alt="Wayang Pandawda batik" width="640" height="372" /></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-pandawa-punokawan-satu-set/">Wayang Pandawa-Punokawan Satu Set</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-pandawa-punokawan-satu-set/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Triwikrama</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2012 02:36:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=337</guid>
		<description><![CDATA[<p>Triwikrama atau sering disebut Tiwikrama adalah kemampuan titisan Wisnu dan beberapa makhluk lainnya untuk berubah ujud menjadi raksasa yang amat besar, bertangan seribu yang disebut  brahala. Dalam pewayangan, tokoh titisan Wisnu yang tergolong sering melakukan Tiwikrama adalah Arjuna Sasrabahu dan Kresna. Selain titisan Wisnu, Dasamuka juga bisa bertiwikrama. Dalam keadaan biasa, Dasamuka hanya berkepala satu.
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/">Triwikrama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Triwikrama atau sering disebut Tiwikrama adalah kemampuan titisan Wisnu dan beberapa makhluk lainnya untuk berubah ujud menjadi raksasa yang amat besar, bertangan seribu yang disebut  brahala.</span></p>
<p>Dalam pewayangan, tokoh titisan Wisnu yang tergolong sering melakukan Tiwikrama adalah Arjuna Sasrabahu dan Kresna.</p>
<p>Selain titisan Wisnu, Dasamuka juga bisa bertiwikrama. Dalam keadaan biasa, Dasamuka hanya berkepala satu. Namun, ketika bertiwikrama ia berkepala sepuluh dan tubuhnya menjadi jauh lebih besar.</p>
<p>Dalam pewayangan diceritakan, saat <strong>Kresna</strong> bertindak sebagai duta Pandawa, ia melakukan triwikrama karena Kurawa tidak mau memenuhi janjinya dan hendak mengeroyok Kresna. Karena tiwikrama Prabu Kresna, balairung istana Astina tidak mampu memuat tubuhnya sehingga jebol. Dinding-dindingnya roboh dan atapnya runtuh.  Para Kurawa dan dan penghuni istana Astina lari kalang kabut untuk menyelamatkan diri.</p>
<p>Dalam lakon carangan berjudul Dewa Amral. Prabu Yudhistira juga melakukan triwikrama. Begitu juga Anoman, beberapa buku pewayangan menyebutkan putra Dewi Anjani itu juga sanggup melakukan tiwikrama.  Misalnya ketika ia menjadi duta, waktu ia menyeberangi lautan, Anoman diterkam Wilkataksani dan ditelannya. Saat Anoman berada di dalam tenggorokan raksasa itu, ia melakukan tiwikrama sehingga leher raksasa itu bedah dan Wikataksani mati seketika.</p>
<p>Dalam seni kriya, khusus untuk Kresna, Arjuna dan Puntadewa, peraga wayang yang menggambarkan keadaan tiwikrama disebut brahala.</p>
<p>Pada pewayangan gagrak Jawatimuran, Antareja yang sedang tiwikrama dilukisakan berwajah ular naga dan badannya bersisik. Arjunasasrabahu dan Dasamuka, jika sedang tiwikrama digambarkan bertangan banyak. Tangan-tangan kecil ditambahkan pada bahu dan lengannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/">Triwikrama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
