<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Hadisukirno &#187; lakon wayang</title>
	<atom:link href="https://blog.hadisukirno.co.id/tag/lakon-wayang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://blog.hadisukirno.co.id</link>
	<description>Kumpulan Informasi Seputar Kerajinan, Souvenir dan Wayang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Jul 2014 02:45:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=3.9.34</generator>
	<item>
		<title>Mustakaweni</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/mustakaweni/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/mustakaweni/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Dec 2012 11:36:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[cerita wayang]]></category>
		<category><![CDATA[lakon wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang mahabharata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=334</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kekuasaan besar Prabu Yudhistira terletak pada jimat Kalimasada, maka sering musuh-musuh Pandawa berusaha mencurinya. Pada suatu ketika Dewi Mustakaweni adik Prabu Bumiloka dari Manimantaka datang ke Amarta untuk balas dendam kepada Pandawa.  Atas petunjuk pertapa Begawan Kala Pujangga dari Guwa Dumung, ia menyamar sebagai Gatotkaca untuk mendapatkan Kalimasada . Pada waktu itu Pandawa sedang sibuk
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/mustakaweni/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/mustakaweni/">Mustakaweni</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Kekuasaan besar Prabu Yudhistira terletak pada jimat Kalimasada, maka sering musuh-musuh Pandawa berusaha mencurinya. Pada suatu ketika Dewi Mustakaweni adik Prabu Bumiloka dari Manimantaka datang ke Amarta untuk balas dendam kepada Pandawa.  Atas petunjuk pertapa Begawan Kala Pujangga dari Guwa Dumung, ia menyamar sebagai Gatotkaca untuk mendapatkan Kalimasada . </span></span></p>
<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Pada waktu itu Pandawa sedang sibuk memugar Candi Saptarengga dan yang bertindak sebagai pengawas adalah Sadewa dan Gatotkaca, tetapi pagi hari dikerjakan, sore harinya candi menjadi berantakan. Oleh karena itu mereka akan meminta Prabu Kresna datang ke Saptarengga atau Saptaarga. Setelah Kresna datang di Amarta maka kedua raja itu menuju Pertapaan Sapta Arga.</span></span></p>
<p>Sementara Dewi Drupadi berada di Istana Amarta dihadap Dewi Subadra dan Srikandi. Tiba-tiba datang ‘Gatotkaca’ yang melapor bahwa ia diutus Prabu Yudhistira untuk mengambil Kalimasada. Tanpa menaruh curiga, Drupadi pun langsung memberikan jimat Kalimasada kepada ‘Gatotkaca’ yang kebetulan tanpa sepengetahuan Srikandi.</p>
<p>Setelah menerima Kalimasada, ‘Gatotkaca’ langsung pamit undur diri dan meninggalkan istana Amarta. Datanglah Srikandi memasuki ruangan dan menerima keterangan apa yang baru saja terjadi mengenai kedatangan ‘Gatotkaca’. Srikandi berpikir bahwa itu merupakan penipuan, maka ia langsung mengejar Gatotkaca palsu. Setelah bertemu dengan Gatotkaca palsu, terjadilah peperangan antara keduanya. Gatotkaca palsu kemudian berubah wujud menjadi Mustakaweni, lalu melarikan diri.</p>
<p>Dalam perjalanan Srikandi mengejar Mustakaweni, ia bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Priyambada dari pertapaan Glagahwengi. Ia diperintahkan kakeknya, Sidi Waspada untuk mencari ayahnya, yang bernama Arjuna. Srikandi sanggup membantunya, tetapi sebelumnya ia diminta mengejar Mustakaweni yang membawa jimat Kalimasada. Priyambada pun menyanggupinya.</p>
<p>Setelah tiba di Manimantaka, Mustakaweni segera menyerahkan Kalimasada kepada Prabu Bumiloka. Ternyata yang menyamar menjadi Prabu Bumiloka adalah Priyambada, dengan cara tipu muslihat itu ia dapat membawa dengan mudah Kalimasada dan segera pergi ke Saptaarga menyerahkan jimat itu kepada Prabu Kresna.</p>
<p>Namun giliran Priyambada yang tertipu, yang menyamar menjadi Prabu Kresna adalah Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Priyambada tidak tinggal diam, perang tanding antara keduanya pun terjadi. Priyambada melepaskan panahnya tepat pada sasaran dan menelanjangi Mustakaweni,maka ia takluk dan segera dibawa ke Amarta.</p>
<p>Setibanya di Amarta, Kalimasada diserahkan kepada Prabu Yudhistira, kemudian Mustakaweni dinikahkan dengan Priyambada. Prabu Bumiloka pun berhasil diusir para Pandawa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><em>Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia</em><br />
</span></span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/mustakaweni/">Mustakaweni</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/mustakaweni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalabendana Lena</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/kalabendana-lena/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/kalabendana-lena/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Aug 2012 12:09:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[cerita wayang]]></category>
		<category><![CDATA[lakon wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang mahabharata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=325</guid>
		<description><![CDATA[<p>Prabu Duryudana punya keinginan menyerang Kerajaan Wirata untuk melebarkan kekuasaannya. Untuk itu, ia meminta bantuan Prabu Baladewa dan Prabu Kresna. Prabu Baladewa menyanggupi permintaan Duryudana.  Bersama dengan Adipati Karna dan Kurawa, Prabu Baladewa mendatangi Kerajaan Dwarawati, tetapi Prabu Kresna tidak ada di tempat dan hanya dapat menemui Samba dan Setyaki. Kedua ksatria itu menolak ajakan
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/kalabendana-lena/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/kalabendana-lena/">Kalabendana Lena</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Prabu Duryudana punya keinginan menyerang Kerajaan Wirata untuk melebarkan kekuasaannya. Untuk itu, ia meminta bantuan Prabu Baladewa dan Prabu Kresna. Prabu Baladewa menyanggupi permintaan Duryudana.  Bersama dengan Adipati Karna dan Kurawa, Prabu Baladewa mendatangi Kerajaan Dwarawati, tetapi Prabu Kresna tidak ada di tempat dan hanya dapat menemui Samba dan Setyaki.</span></span></p>
<p>Kedua ksatria itu menolak ajakan Kurawa, maka keduanya dilucuti senjatanya serta ditawan. Sementara Angkawijaya yang sedang berada di Istana Dwarawati bersama Siti Sundari melihat kekacauan negeri itu, segera memutuskan meninggalkan istana.</p>
<p>Walaupun istrinya tidak setuju, Angkawijaya tetap pergi ke Wirata untuk melamar Dewi Utari, sebab puteri itu yang nantinya akan menjadi ibu dari raja-raja besar. Di perjalanan, Angkawijaya bertemu dengan raksasa brahala jelmaan Prabu Kresna yang membantu mengusir para Kurawa.</p>
<p>Setelah sampi di Wirata, Angkawijaya diterima dan dipekerjakan di taman bersama Gendreh Kemasan, yakni Arjuna yang sedang menyamar.</p>
<p>Setibanya di taman, Angkawijaya bertemu dengan Utari dan segera membawa sang dewi ke Bale Wewangunan. Tindakannya menimbulkan kecurigaan para dayang-dayang, sehingga silaporkan kepada raja.</p>
<p>Sang raja pun memerintahkan untuk membunuh Angkawijaya, namun setelah dijelaskan bahwa para ksatria yang menyamar adalah Arjuna dan Angkawijaya , Sang raja pun memberi ampun kepada Abimanyu dan mengangkatnya sebagai Pangeran Adipati dengan gelar Prabu Anom Wirabadana.</p>
<p>Sementara, Siti Sundari yang berada di istana Dwarawati, sangat cemask dan khawatir akan keselamatan suaminya. Maka ia memutuskan untuk pergi ke Pringgodani dan meminta bantuan Gatotkaca agar mencarikan Abimanyu.</p>
<p>Untuk memenuhi permintaan Siti Sundari, Gatotkaca meminta bantuan pamannya yakni Kalabendana untuk pergi ke Wirata dengan secara rahasia untuk menyelidiki keberadaan Abimanyu. Kalabendana pergi ke Wirata. Setibanya di Wirata, ia memang bertemu dengan Abimanyu yang saat itu sedang bersama dengan Dewi Utari. Ia pun langsung mengatakan bahwa Abimanyu ditunggu istrinya, Dewi Siti Sundari di Pringgodani. Mendengar ucapan raksasa itu, Abimanyu tersinggung dan marah. Ia pun melukai Kalabendana dan mengusirnya.</p>
<p>Setelah kepergian Kalabendana, Dewi Utari kemudian menanyakan kebenaran mengenai apa yang dikatakan raksasa itu kepaa suaminya, Angkawijaya. Abimanyu kesulitan menjawab pertanyaan istrinya itu, ia pun akhirnya bersumpah bahwa ia belum beristri dan bila berdusta, kelak dalam perang Baratayuda badannya akan terluka oleh berbagai macam senjata.</p>
<p>Kalabendana telah kembali ke Pringgodani dan melaporkan apa yang terjadi di Wirata. Siti Sundari meminta agar Kalabendana menjelaskannya sekali lagi agar lebih jelas, namun keinginan sang puteri bertentangan dengan keinginan Gatotkaca. Sebab, jika Siti Sundari mengetahui masalah yang sebenarnya, akibatnya bisa fatal. Maka ia member isyarat kepada Kalabendana agar tidak menjelaskan peristiwa itu sebenarnya.</p>
<p>Namun <a href="http://www.hadisukirno.com/produk?id=281&amp;kat=Wayang-Kulit" target="_blank"><strong>Kalabendana</strong></a> seorang ksatria yang jujur, ia menerangkan keadaan Angkawijaya yang sebenarnya di Wirata. Hal itu membuat marah Gatotkaca sehingga ia memukul pamannya hingga tewas.</p>
<p>Hati Dewi Siti Sundari sangat terkejut dan cemas. Maka ia meminta Gatotkaca untuk mengantarkannya pergi ke Wirata. Setelah sampai di Wirata, mereka bertemu dengan Angkawijaya dan Utari. Setelah melihat keduanya, Utari segera masuk ke istana dan menduga bencana akan datang.</p>
<p>Abimanyu yang melihat Gatotkaca membawa Siti Sundari, marah dan menusukkan kerisnya ke badan Gatotkaca. Perkelahian pun terjadi antara keduanya.</p>
<p>Melihat perkelahian itu, Semar bingung dan langsung mengadu kepada Arjuna. Arjuna yang mendengar berita itu, segera melerai kedua ksatria itu dan memberikan pernjelasan mengenai hal dan kewajibannya menjadi seorang ksatria.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/kalabendana-lena/">Kalabendana Lena</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/kalabendana-lena/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sridenta</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/sridenta/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/sridenta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2012 10:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[cerita wayang]]></category>
		<category><![CDATA[lakon wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang mahabharata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=324</guid>
		<description><![CDATA[<p>Suatu saat Prabu Yudhistira menerima kedatangan Ia datang Prabu Sridenta dari Kerajaan Jumapala yang menyaru sebagai Batara Narada.untuk meminjam jimat Kalimasada. Prabu Yudhistira tidak curiga dan langsung memberikan pusaka Amarta itu kepada Batara Narada (palsu). Setelah menerima jimat Kalimasada, Narada palsu segera meninggalkan Amarta. Baru saja Narada pergi, Prabu Kresna datang berkunjung di Amarta. Yudhistira
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/sridenta/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/sridenta/">Sridenta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Suatu saat Prabu Yudhistira menerima kedatangan Ia datang Prabu Sridenta dari Kerajaan Jumapala yang menyaru sebagai Batara Narada.untuk meminjam jimat Kalimasada. Prabu Yudhistira tidak curiga dan langsung memberikan pusaka Amarta itu kepada Batara Narada (palsu). Setelah menerima jimat Kalimasada, Narada palsu segera meninggalkan Amarta.</span></span></p>
<p>Baru saja Narada pergi, Prabu Kresna datang berkunjung di Amarta. Yudhistira kemudian menceritakan tentang kedatangan Batara Narada ke Amarta untuk meminjam jimat Kalimasada. Mendengar hal itu, Prabu Kresna curiga serta memerintahkan Bima, Nakula dan Sadewa untuk mengejarnya.</p>
<p>Akhirnya Narada palsu dapat ditangkap, tetapi Bima tidak kuat melawan kesaktian Sridenta, ia dibanting dan tertanam di dalam tanah dan tidak dapat bergerak.</p>
<p>Melihat kejadian itu, Nakula dan Sadewa segera meminta pertolongan Arjuna di Madukara. Seketika, Arjuna langsung berangkat dengan putranya yakn Jaya Windu, cucu dari Begawan Sidimulya dari Andong Wilis.</p>
<p>Sridenta sangat senang karena berhasil memiliki Kalimasada. Dalam perjalanan, ia singgah di tempat mertuanya yakni Begawan Ciptarasa di Pertapaan Ringin Putih.</p>
<p>Setelah mengetahui bahwa menantuanya berhasil membawa jimat sakti, sang Begawan ingin memegang pusaka itu. Tanpa curiga Sridenta memberikan Kalimasada kepada mertuanya. Namun seketika Ciptarasa berubah ujud menjadi Jaya Windu, dan perang tanding pun tidak dapat dihindarkan. Namun Jaya Windu tidak kuat melawannya, segera Arjuna memberi pertolongan dan Sridenta berhasil melarikan diri.</p>
<p>Gatotkaca yang saat itu sedang mencari keberadaan ayahnya, menemukan BIma yang tertanam dalam lumpur. Maka, ia segera menarikk tubuh ayahnya dari dalam tanah.</p>
<p>Setelah jimat Kalimasada berhasil didapatkan kembali dan Bima berhasil keluar dari dalam tanah, mereka kemudian pergi ke Jumapala. Setibanya di keraton, arjuna berhasil memikat Dewi Ciptawati istri Sridenta, sedangkan Sridenta dan Ciptarasa berhasil dibunuh oleh Bima.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/sridenta/">Sridenta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/sridenta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kilat Buwana</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/kilat-buwana/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/kilat-buwana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2012 01:32:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[cerita wayang]]></category>
		<category><![CDATA[lakon wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang mahabharata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=322</guid>
		<description><![CDATA[<p>Prabu Duryudana kedaatangan tamu seorang brahmana yang bernama Kilatbuwana. Pendeta itu mempunyai keinginan untuk menggagalkan perang Baratayuda antara Pandawa dan Kurawa dengan jalan mempersatukan kedua belah pihak. Sang Brahmana sanggup menyatukan, tetapi ada syarat yang harus dilakukan. Kilatbuwana menghendaki sesaji yang disertai tumbal orang bogasampir yaitu Kyai Semar. Duryudana menyetujui keinginan Kilatbuwana. Selanjutnya, Brahmangkara dan
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/kilat-buwana/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/kilat-buwana/">Kilat Buwana</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Prabu Duryudana kedaatangan tamu seorang brahmana yang bernama Kilatbuwana. Pendeta itu mempunyai keinginan untuk menggagalkan perang Baratayuda antara Pandawa dan Kurawa dengan jalan mempersatukan kedua belah pihak.</span></span></p>
<p>Sang Brahmana sanggup menyatukan, tetapi ada syarat yang harus dilakukan. Kilatbuwana menghendaki sesaji yang disertai tumbal orang bogasampir yaitu Kyai Semar. Duryudana menyetujui keinginan Kilatbuwana. Selanjutnya, Brahmangkara dan Indrasekti, putera Kilatbuwana diperintahkan untuk mencari dan membunuh Semar.</p>
<p>Sedangkan, Prabu Kresna yang hadir di Astina, menolak keinginan Kilatbuwana, sehingga terjadi perdebatan dan perkelahian.</p>
<p>Prabu Yudhistira yang menerima ajakan Kilatbuawana,, hatinya mangu-mangu. Maka, ia memerintahkan Abimanyu pergi ke Pertapaan Sapta Arga guna meminta nasihat Begawan Abiyasa. Sedangkan Arjuna diperintahkan Kilatbuwana untuk membunuh Semar .</p>
<p>Arjuna kemudian pergi ke Klampisireng. Setibanya disana, ternyata Semar sudah tahu maksud kedatangan Arjuna dan merelakan jiwanya demi majikannya. Arjuna segera membunuh Semar dengan cara dibakar dan abunya dibawa ke Astina.</p>
<p>Di pertapaan Tawangrukmi, ada seorang pendeta yang bernama Begawan Jatiwasesa atau Begawan Tunggulmanik sedang dihadap kedua anaknya, yakni Suryaseti dan Suryamangkara, menerima kedatangan Abimanyu yang ingin mengabdi.</p>
<p>Begawan Jatiwasesa kemudian memerintahkan anaknya, Suryamangkara, untuk menyampaikan surat penantang ke negeri Astina.</p>
<p>Pada waktu itu, Pandawa telah berada di Astina, begitu pula dengan Arjuna yang telah tiba dengan membawa abu jenazah Semar. Datanglah Suryamangkara yang menyampaikan surat tantangan. Kilatbuwana menerima tantangan itu dan segera menyiapkan perlawanan.</p>
<p>Jatiwasesa berhadapan dengan Kilatbuwana. Namun kemudian Kilatbuwana berubah menjadi Batara Guru. Bramangkara dan Indraseti berubah menjadi Brahma dan Indra. Sedangkan Jatiwasesa berubah menjadi Semar, Suryasekti dan Suryamangkara berubah ujud menjadi Gareng dan Petruk.</p>
<p>Batara Guru kemudian kembali ke kahyangan Suralaya. Baratayuda pun nyatanya tidak dapat dicegah dan tetap terjadi.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/kilat-buwana/">Kilat Buwana</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/kilat-buwana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sasikirana</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/sasikirana/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/sasikirana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Aug 2012 01:22:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[cerita wayang]]></category>
		<category><![CDATA[lakon wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang mahabharata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=321</guid>
		<description><![CDATA[<p>Lesmana Mandrakumara, putra mahkota kerajaan Astina mendengar bahwa Dewi Pregiwa telah melahirkan seorang putra. Berita itu membuatnya teringat lagi niatnya untuk mengawini puteri Arjuna itu. Karena cintanya sangat besar namun tidak terbalas, ia akhirnya jatuh sakit. Suyudana yang mengetahui kondisi puteranya seperti itu segera mengutus Adipati Karna diiringi para Kurawa lainnya untuk membawa Lesmana Mandrakumara
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/sasikirana/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/sasikirana/">Sasikirana</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Lesmana Mandrakumara, putra mahkota kerajaan Astina mendengar bahwa Dewi Pregiwa telah melahirkan seorang putra. Berita itu membuatnya teringat lagi niatnya untuk mengawini puteri Arjuna itu. Karena cintanya sangat besar namun tidak terbalas, ia akhirnya jatuh sakit.</span></span></p>
<p>Suyudana yang mengetahui kondisi puteranya seperti itu segera mengutus Adipati Karna diiringi para Kurawa lainnya untuk membawa Lesmana Mandrakumara dengan tandu ke Kerajaan Pringgadani, guna menjumpai Dewi Pregiwa.</p>
<p>Kebetulan, saat itu Gatotkaca, suami Dewi Pregiwa sedang beristirahat untuk memulihkan kesehatannya di Tunggul Pamenang, di tempat ibunya. Setibanya di Pringgodani, Adipati Karna dan Kurawa tidak mengalami kesukaran dan menguasai Dewi Pregiwa dan putranya Sasikirana.</p>
<p>Ki Lurah Semar dan anak-anaknya yang menyaksikan tindakan Kurawa itu segera pergi ke Tunggul Pamenang melaporkan apa yang terjadi.</p>
<p>Gatotkaca yang menerima laporan dari Semar segera mengejar para Kurawa, dan berusaha merebut anak istrinya kembali, tetapi ia kehabisan tenaga  dan jatuh ke tanah. Dengan segera para Kurawa menimbuni badan Gatotkaca dengan batu-batu besar. Semar, gareng dan Petruk, serta Bagong akhirnya terjun ke sungai dan hanyut.</p>
<p>Sementara Begawan Pramanasidi dari Pertapaan Gebangtinatar dihadap cucucunya yakni Nila Suwarna dan Dewi Nilawati yang menanyakan siapa sebenarnya ayah mereka. Sang Begawan menjelaskan bahwa ayahnya adalah Arjuna dari Kasatrian Madukara.</p>
<p>Selanjutnya Nila Suwarna dan Nilawati berusaha mencari ayahnya ditemani Wignyagati. Di tengah jalan Nila Suwarna dibunuh oleh Wignyagati karena ingin menguasai Nilawati. Namun niatnya tidak tercapai karena Dewi Nilawati berhasil melarikan diri.</p>
<p>Di Kerajaan Paranggumiwang, Prabu Janaka , suatu hari pergi ke tepi sungai untuk menyaksikan penangkapan ikan. Bahkan sang raja sendiri mencoba melemparkan jala dan beruntung mendapat tiga ikan besar, ternyata yang dijala adalah Semar dengan anak-anaknya.</p>
<p>Prabu Janaka mengharapkan mereka mengabdi kepadanya dan ketiganya sanggup serta diperintah untuk mencari bunga Pamuketingmanah dan Patih Jayasantika diutus mencari bunga Sumarsana.</p>
<p>Dalam perjalanan Jayasantika menemukan Nilawati yang dikejar Wignyagati. Sedangkan Semar dan anak-anaknya bertemu dengan  Nila Suwarna dan dibawa menghadap Janaka. Keduanya diterima Janaka dan selanjutnya bersama-sama menuju ke Astina.</p>
<p>Setelah sampai di kedaton , Janaka bertemu dengan Banowati dan Nila Suwarna bertemu dengan putri raja yakni Lesmanawati.</p>
<p>Sementara Bima mendapat petunjuk dari Anoman untuk menolong Gatotkaca yang mati terbunuh di hutan. Setelah jenazah ditemukan segera dihidupkan kembali dan keduanya menuju Astina.</p>
<p>Di tengah perjalanan, Bima menemukan Sasikirana yang dapat lolos dari kepungan Kurawa, segera anak tersebut dimandikan dan menjadi tumbuh dewasa dan ketiganya menuju Astina.</p>
<p>Dewi Pergiwa yang berada di Astina selalu dirayu oleh Lesmana Mandrakumara, tetapi ia menolaknya. Lesmana terus mendesak, namun tiba-tiba Gatotkaca datang dan melempar Lesmana yang jatuh di depan Suyudana. Selanjutnya Dewi Pregiwa dibawa kembali ke Pringgadani bersama Pandawa.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/sasikirana/">Sasikirana</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/sasikirana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batara Surya Krama</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/batara-surya-krama/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/batara-surya-krama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Aug 2012 01:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[cerita wayang]]></category>
		<category><![CDATA[lakon wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang mahabharata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=320</guid>
		<description><![CDATA[<p>Batara Surya yang bertempat tinggal di Kahyangan Ekacakra menerima dua bidadari kakak beradik sebagai istrinya yang bernama Dewi Ngruna dan Dewi Ngruni. Sementara puteri Batara Wisnu yang  bernama Dewi Kastapi dalam perkawinannya dengan burung Brihawan membuahkan dua telur. Kemudian atas perintah Bathara Guru, dua telur itu diberikan kepada Dewa Ngruna dan Dewi Ngruni. Telur milik
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/batara-surya-krama/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/batara-surya-krama/">Batara Surya Krama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Batara Surya yang bertempat tinggal di Kahyangan Ekacakra menerima dua bidadari kakak beradik sebagai istrinya yang bernama Dewi Ngruna dan Dewi Ngruni. Sementara puteri Batara Wisnu yang  bernama Dewi Kastapi dalam perkawinannya dengan burung Brihawan membuahkan dua telur. Kemudian atas perintah Bathara Guru, dua telur itu diberikan kepada Dewa Ngruna dan Dewi Ngruni.</span></span></p>
<p>Telur milik Dewa Ngruna setelah dierami seekor ular, menetas menjadi dua ekor burung yang diberi nama Sempati dan Jatayu. Sedangkan telur milik Dewi Ngruni menetas seekor ular besar yang diberi  nama Naga Gombang, dan yang kecil diberi nama Sawer Wisa.</p>
<p>Anak-anak yang berupa burung dan ular itu ternyata sangat sulit untuk diawasi. Mereka semua nakal. Kedua bidadari itu lalu mengadakan teka-teki ,barangsiapa yang kalah akan menjaga anak-anak itu, Dewi Ngruni memberikan pernyataan, “ Apakah yang terlihat di sana itu? Sapi jantan atau sapi betina?”.</p>
<p>Ternyata Dewi Ngruni tidak bisa menebaknya , dan ia merasa malu karena kebodohannya. Ketika itu juga, ular-ular datang dan membela ibunya dan segera burung itu mematuk ular-ular sampai mati.</p>
<p>Karena marah oleh peristiwa itu, Dewi Ngruna mengutuk Ngruni, katanya : “Dinda Ngruni bertindak seperti raseksi, jika akan menolong anak-anaknya”.</p>
<p>Seketika itu juga,ia berubah ujudnya menjadi raseksi dan setelah ia sadar apa yang terjadi, ia segera lari menemui Bathara Surya agar dapat mengatasi masalah yang dihadapinya itu. Atas saran suaminya,ia diminta menemui Bathara Wisnu yang merupakan kakeknya dari telur-telur tadi, agar dapat meruwatnya.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, Sempati yang disertai Jatayu pergi bertapa di Gunung Windu, sedangkan ular-ular sangat terkejut melihat ibunya menjadi raseksi, mereka melarikan diri terjun ke samudera.</p>
<p>Sementara di kahyangan, kehidupan para dewa tidak tentram karena menerima ancaman Prabu Sengkan Turunan dari Kerajaan Parangsari yang menginginkan Dewi Ngruna dan Ngruni untuk dijadikan permaisurinya. Prabu Sengkan Turunan dengan bala tentara raksasa menyerang Kahyangan Suralaya. Para dewa tidak dapat menandingi kesaktian para raksasa itu.</p>
<p>Dewi Ngruni atas saran suaminya menemui  Batara Wisnu. Batara Wisnu menyatakan bahwa ia bersedia meruwatnya. Tetapi syaratnya, ia harus menculik putri Prabu Sengkan Turunan yang bernama Retna Jatawati. Dibantu oleh garuda Jatayu, Dewi Ngruni akhirnya berhasil membawa Dewi Jatawati.</p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Sementara itu, Jatayu juga berhasil menghancurkan para tentara raksasa. Prabu Sengkan Turunan sangat marah setelah mengetahui bahwa pasukannya hancur. Ia segera menyerang Suralaya dengan membabi buta. Prabu Sengkan Turunan berhadapan dengan Jatayu. Pertempuran berlangsung sengit, namun akhirnya Jatayu berhasil mengalahkan Prabu Sengkan Turunan.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Batara Wisnu sangat gembira atas kemenangan Jatayu, sebagai pernyataan terimakasih, Batara Wisnu menganugerahkan Retna Jatawati sebagai istri Jatayu.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Sesuai dengan janjinya, Dewi Ngruni diruwat sehingga ujudnya berubah menjadi bidadari yang cantik seperti semula dan tetap tinggal di Nguntarasegara. Setelah melihat isterinya menjadi bidadari kembali, Batara Surya membujuk untuk kembali ke pangkuannya, tetapi Dewi Ngruni menolak. Ia bersedia kembali kepada Batara Surya setelah diperintahkan oleh raja para dewa, Batara Guru.<br />
</span></span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/batara-surya-krama/">Batara Surya Krama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/batara-surya-krama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batara Guru Krama</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/batara-guru-krama/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/batara-guru-krama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Aug 2012 04:50:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[cerita wayang]]></category>
		<category><![CDATA[lakon wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang mahabharata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=317</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seorang saudagar bernama Omaran (Umaran) , yang tidak punya tempat tingal tetap, karena selalu berkeliling dari kerajaan yang satu ke kerajaan lainnya. Isterinya bernama Dewi Nurweni, adalah anak raja Gandarwa (jin). Mereka mempunyai seorang puteri bernama Uma. Saat Uma lahir dari rahim ibunya, ia bukan berupa bayi biasa, melainkan berwujud segumpal cahaya merah yang saat
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/batara-guru-krama/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/batara-guru-krama/">Batara Guru Krama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Seorang saudagar bernama Omaran (Umaran) , yang tidak punya tempat tingal tetap, karena selalu berkeliling dari kerajaan yang satu ke kerajaan lainnya. Isterinya bernama Dewi Nurweni, adalah anak raja Gandarwa (jin). Mereka mempunyai seorang puteri bernama Uma.</span></span></p>
<p>Saat Uma lahir dari rahim ibunya, ia bukan berupa bayi biasa, melainkan berwujud segumpal cahaya merah yang saat lahir segera melesat ke angkasa. Cahaya itu melayang kesana-kemari. Sang ayah segera mengejarnya dan mencoba menangkapnya, namun selalu gagal.</p>
<p>Akhirnya, cahaya itu hinggap di puncak Gunung Tengguru, suatu tempat yang dikuasai para gandarwa. Di tempat itu, Umaran lalu bersemadi, mohon pada Yang Maha Kuasa agar anaknya yang berwujud cahaya itu dapat diwujudkan menjadi bayi biasa.</p>
<p>Do’anya terkabul, cahaya ajaib itu menjelma menjadi seorang bayi, tetapi memiliki kelainan. Bayi itu berkelamin  ganda. Setelah berujud bayi, Umaran membawa anaknya ke Kerajaan Merut dan memberi nama bayi itu, Umayi. Umaran dan istrinya memelihara anaknya  dengan penuh kasih sayang.</p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Umayi ternyata tumbuh menjadi seorang gadis yang amat cantik, walaupun ia tetap berkelamin ganda. Sejak remaja, Umayi  atau Uma, gemar menuntut ilmu, gemar bertapa, sehingga akhirnya ia memiliki kesaktian yang sulit dicari tandingannya. </span></span></p>
<p>Berita dan cerita mengenai kesaktian dan kecantikan Dewi Uma terdengar oleh Batara Guru, penguasa kahyangan. Pemuka dewa itu mendatangi Dewi Uma untuk menyaksikan sendiri gadis cantik yang didengarnya dari orang-orang. Namun, kedatangan Batara Guru ternyata sudah diketahui oleh Dewi Uma.</p>
<p>Untuk menguji kesaktian Batara Guru, gadis itu mengubah wujudnya menjadi seekor ikan turbah dan terjun ke dasar samudra. Pada awalnya, Batara Guru bingung karena tidak dapat segera menemukan gadis yang dicarinya. Namun setelah mengamalkan kesaktiannya, ia tahu bahwa Dewi Uma sengaja mempermainkan dirinya dengan mengubah ujudnya menjadi ikan di dasar samudra.</p>
<p>Batara Guru segera memburu ikan jelmaan Dewi Uma itu di lautan, saat nyaris tertangkap, ikan itu menjelma kembali menjadi seorang gadis yang segera melesat ke angkasa. Batara Guru menyusulnya, terjadi kejar-menegjar di angkasa. Namun, setiap kali hendak tertangkap, Dewi Uma selalu saja dapat meloloskan diri. Dengan begitu, usaha Batara Guru untuk meringkus gadis cantik yang lincah dan sakti itu selalu gagal.</p>
<p>Karena kesal dan penasaran, Batara Guru lalu memohon kepada Sang Hyang Wenang, agar diberi tambahan sepasang tangan supaya dapat menangkap Dewi Uma. Permohonannya terkabul. Seketika itu juga tumbuh dua tangan baru di bahu Batara Guru, sehingga sejak itu, dewa itu bertangan empat. Setelah bertangan empat, barulah Dewi Uma dapat ditangkap.</p>
<p>Sebagai hukuman, karena merasa kesal, Batara Guru mencabut semua kesaktian yang dimiliki Dewi Uma. Batara Guru kemudian meruwat Uma sehingga alat kelamin prianya hilang. Sesudah menjadi wanita yang sempurna, Batara Guru kemudian memperistrinya.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/batara-guru-krama/">Batara Guru Krama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/batara-guru-krama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semar Gugat</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/semar-gugat/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/semar-gugat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Aug 2012 03:09:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[cerita wayang]]></category>
		<category><![CDATA[lakon wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang mahabharata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=316</guid>
		<description><![CDATA[<p>Semar merasa sakit hati atas perlakukan Arjuna yang berani memegang dan mengelus-elus kuncungnya. Ia lalu meninggalkan Amarta dengan diikuti Bagong menuju pertapaan Wukiratawu guna mengadukan perlakuan Arjuna kepada Begawan Abiyasa, Kakek Arjuna. Mendengar pengaduan Semar, atas nama cucunya,Begawan Abiyasa meminta maaf. Tetapi Semar belum puas dan pergi mengembara entah kemana. Hal itu membuat Begawan Abiyasa
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/semar-gugat/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/semar-gugat/">Semar Gugat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Semar merasa sakit hati atas perlakukan Arjuna yang berani memegang dan mengelus-elus kuncungnya. Ia lalu meninggalkan Amarta dengan diikuti Bagong menuju pertapaan Wukiratawu guna mengadukan perlakuan Arjuna kepada Begawan Abiyasa, Kakek Arjuna.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Mendengar pengaduan Semar, atas nama cucunya,Begawan Abiyasa meminta maaf. Tetapi Semar belum puas dan pergi mengembara entah kemana.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Hal itu membuat Begawan Abiyasa Khwatir, karena ia tahu benar jika Semar meninggalkan Amarta, berarti kerajaan itu akan mendapat mara bahaya.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Semar ternyata pergi ke Jonggring Kalasa untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Ia juga menuntut agar dikembalikan ke wujud aslinya, yang tampan dan gagah. Betara Guru dan Betara Narada berusaha menyadarkan Semar,bahwa takdir memang sudah menggariskan Semar berwajah demikian.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Namun, Semar tidak peduli dengan penjelasan Batara Guru dan Batara Narada, ia tetap bersikeras agar dikembalikan ke ujud semula. Para dewa pun berusaha membantu mengubah ujud Semar menjadi ksatria perkasa. Ia kemudian menamakan dirinya, Bambang Dewalelana, sedangkan Bagong yang juga menjadi tampan dinamakan Bambang Lengkara.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Mereka berdua kemudian turun ke dunia, menaklukan Prabu Setiwijaya dan mengambil alih Kerajaan Pudaksategal. Prabu Dewalelana kemudian memerintahkan patihnya, Dasapada mencuri Jamus Kalimasada, pusaka Amarta.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Patih Dasapada berhasil mengambil pusaka Amarta itu dan dibawa ke Pudaksategal untuk diberikan kepada Prabu Dewalelana.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Pandawa tentu kebingungan karena pusaka kerajaan hilang. Dengan petunjuk Kresna, para Pandawa lalu datang ke Pudaksategal, mohon maaf pada Dewalelana. Prabu Dewalelana kemudian mengubah ujudnya kembali menjadi Semra dan dengan senang hati Semar menyerahkan Jamus Kalimasada pada Prabu Puntadewa.</span></span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/semar-gugat/">Semar Gugat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/semar-gugat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pandawa Pitu</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/pandawa-pitu/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/pandawa-pitu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2012 01:33:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[cerita wayang]]></category>
		<category><![CDATA[lakon wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang mahabharata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=315</guid>
		<description><![CDATA[<p>Prabu Duryudana kecewa, karena Prabu Baladewa akhir-akhir ini lebih sering menyatu dengan para Pandawa, seperti juga Prabu Kresna. Dengan demikian, pandawa bukan hanya lima tetapi menjadi tujuh (pitu-Bhs.Jawa). Di keraton Amarta, Prabu Baladewa, Prabu Kresna dan kelima Pandawa memang sedang berkumpul. Mereka mendengarkan wejangan Bima, mengenai ilmu Kawruh Manunggal. Penyebaran ilmu itu membuat para dewa
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/pandawa-pitu/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/pandawa-pitu/">Pandawa Pitu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Prabu Duryudana kecewa, karena Prabu Baladewa akhir-akhir ini lebih sering menyatu dengan para Pandawa, seperti juga Prabu Kresna. Dengan demikian, pandawa bukan hanya lima tetapi menjadi tujuh (pitu-Bhs.Jawa).</span></span></p>
<p>Di keraton Amarta, Prabu Baladewa, Prabu Kresna dan kelima Pandawa memang sedang berkumpul. Mereka mendengarkan wejangan Bima, mengenai ilmu Kawruh Manunggal.</p>
<p>Penyebaran ilmu itu membuat para dewa marah, sehingga Batara Guru menugasi Batara Narada untuk memanggil BIma ke kahyangan untuk dijatuhi hukuman. Bima bersedia dihukum, namun Pandawa lainnya dan Prabu Baladewa serta Prabu Kresna setia kawan. Mereka juga ikut ke kahyangan untuk menerima hukuman.</p>
<p>Sementara di Kerajaan Tunggulmalaya, Batari Durga memberitahu puteranya, Dewasrani , tentang Pandawa yang menerima hukuman di kahyangan. Ia menyuruh Dewasrani menaklukkan Amarta, agar DEwasrani dapat menjadi jagoning dewa menggantikan Arjuna. Namun, serbuan Dewasrani berhasil ditumpas para putra Pandawa.</p>
<p>Di Kasatrian Madukara, Dewi Subadra dan Dewi Srikandi sangat sedih dan marah karena para Pandawa akan mendapat hukuman dari dewa. Mereka lalu tiwikrama, berubah ujud menjadi brahala Badrayaksa dan Kandiyaksa. Kedua raseksi itu pergi ke kahyangan, untuk menuntut dipulangkannya para Pandawa.</p>
<p>Di kahyangan, Pandawa berbantah dengan Batara Guru. Karena murka, oleh Batara Guru, para Pandawa akan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka. Semntara itu, ketika Arjuna akan masuk ke Kawah Candradimuka, semua bidadari akan ikut mencebur pula.</p>
<p>Pada saat itu, Badrayaksa dan Kandiyaksa telah sampai di kahyangan dan langsung mengamuk. Para dewa tak ada yang sanggup menandingi kedua raseksi itu.</p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Atas seizin Batara Guru, Batara Narada lalu meminta bantuan agar Pandawa menghadapi kedua brahala yang sedang mengamuk. Jika berhasil, Pandawa akan dibebaskan dari hukuman. </span></span></p>
<p>Bima tidak mau. Dia dan saudara-saudaranya baru akan turun ke gelanggang menghadapi dua raseksi itu, jika Pandu Dewanata dan Dewi Madrim dikeluarkan dari neraka dan dipindahkan ke sorga. Tuntutan itu dipenuhi.</p>
<p>Setelah para Pandawa berperang tanding dengan Badrayaksa dan Kandiyaksa,kedua brahala itu beralih ujud kembali menjadi Dewi Subadra dan Srikandi.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/pandawa-pitu/">Pandawa Pitu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/pandawa-pitu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Babad Wanamarta</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/babad-wanamarta/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/babad-wanamarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jul 2012 01:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[cerita wayang]]></category>
		<category><![CDATA[lakon wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang mahabharata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=299</guid>
		<description><![CDATA[<p>Prabu Matswapati duduk di Pancaniti, dihadap oleh Seta, Untara, Wratsangka, Surata dan Patih Nirbata. Raja membicarakan rencana pemberian hutan Wanamarta kepada Pandawa. Raja mengutus Patih Nirbata supaya memberitahu kepada Bagawan Abyasa, bahwa Pandawa akan diberi tanah Wanamarta. Sang Patih segera minta diri, berangkat ke Wukir Retawu. Perundingan selesai, raja Matswapati masuk ke istana menemui permaisuri
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/babad-wanamarta/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/babad-wanamarta/">Babad Wanamarta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Prabu Matswapati duduk di Pancaniti, dihadap oleh Seta, Untara, Wratsangka, Surata dan Patih Nirbata. Raja membicarakan rencana pemberian hutan Wanamarta kepada Pandawa. Raja mengutus Patih Nirbata supaya memberitahu kepada Bagawan Abyasa, bahwa Pandawa akan diberi tanah Wanamarta. Sang Patih segera minta diri, berangkat ke Wukir Retawu. Perundingan selesai, raja Matswapati masuk ke istana menemui permaisuri dan Untari. Raja bercerita tentang rencana pemberian tanah kepada Pandawa, kemudian raja bersemedi.</span></span></p>
<p>Setelah berunding dengan Seta, Untara dan Wratsangka, mereka kemudian berangkat ke Wukir Retawu.</p>
<p>Prabu Kalasambawa, raja Nuswakambangan menerima kedatangan Patih Saramba yang memberitahu tentang keturunan Parasara yang pernah membunuh ayah raja. Patih mengusulkan agar keturunan Parasara yang sedang mendirikan Negara di Wanamarta dibunuhnya. Raja menyetujui, sang patih disuruh mengangkat utusan para ditya yang hebat. Setelah siap, mereka berangkat ke Wanamarta.</p>
<p>Dalam perjalanan, barisan raksasa Nuswakambangan bertemu dengan barisan Wiratha. Pertempuran tidak dapat dihindarkan, masing-masing menyimpang jalan.</p>
<p>Bagawan Abyasa dihadap oleh Yudisthira, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Sang Bagawan membicarakan Bima yang akan membuka hutan Wanamarta. Arjuna disuruh untuk membantu kakaknya. Arjuna minta diri dengan diikuti oleh Punokawan.</p>
<p>Sepeninggal Arjuna dari Wukir Retawu, datanglah Patih Nirbita dan Seta. Mereka berdua menyampaikan rencana raja Wirata yang akan memberi hutan Wanamarta kepada Pandawa. Kabar itu pun disambut baik oleh pihak Pandawa. Patih Nirbita dan Seta pun segera minta diri setelah menyampaikan kabar dari rajanya.</p>
<p>Sementara, di tengah perjalanan, Arjuna dihadang oleh barisan raksasa. Terjadilah perkelahian diantara mereka, yang akhirnya dimenangkan oleh Arjuna. Para raksasa itu mati di tangan Arjuna.</p>
<p>Kombang Aliali yang tinggal di Randu Gumbala mendapat ilham supaya bersekutu dengan Arjuna. Ia bersama raja raksasa masuk hutan Wanamarta.</p>
<p>Ketika bertemu dengan Bima, terjadi perselihan antara raja raksasa dengan Bima. Hampir saja Bima membunuh raja raksasa tersebut, namun tiba-tiba raja raksasa itu  musnah kemudian bersatu dengan Bima.</p>
<p>Sementara, Arjuna dikeroyok oleh jin anak-anak Kombang Aliali. Jin berhasil diusir oleh Arjuna. Datanglah Kombang Aliali yang ingin bersatu dengan Arjuna. Namun Arjuna menolak niat Kombang Aliali.</p>
<p>Sang Hyang Narada pun datang, Kombang Aliali disuruh merasuk kepada Arjuna. Setelah dirasuki Kombang Aliali, Arjuna bertambah sakti. Sang Hyang Narada kemudian meminta kepada Arjuna agar mau menggunakan nama Kombang Aliali.</p>
<p>Partawati anak Prabu Partakusuma raja Cintakapura menceritakan mimpinya kepada ayahnya. Ia bermimpi kawin dengan Arjuna, ia pun meminta dicarikan kesatria bernama Arjuna itu. Prabu Partakusuma menyanggupi keinginan puterinya.</p>
<p>Prabu Partakusuma berjumpa dengan Arjuna yang diikuti oleh Punakwan. Raja jin itu meminta agar Arjuna bersedia diambil menjadi menantunya. Arjuna marah, dengan geram mengusir raja jin itu. Namun, akhirnya raja jin itu berhasil memboyong Arjuna, lalu dipertemukan dengan puterinya, Partawati. Arjuna pun tertarik dengan Partawati dan bersedua memperistri Partawati.</p>
<p>Setelah puterinya diperistri oleh Arjuna, Prabu Partakusuma ingin melihat keris Pulanggeni, pusaka milik Arjuna. Arjuna pun memberikan pusaka nya itu kepada mertuanya. Namun, keris itu ternyata digunakan Prabu Partakusuma untuk bunuh diri, seketika ia musnah dan bersatu dengan Arjuna. Sejak saat itu, Arjuna menggunakan nama sebutan Parta.</p>
<p>Prabu Matswapati dihadap Seta, Untara dan Wratsangka sedang membicarakan Negara Ngamarta yang telah selesai dibangun oleh Pandawa. Sang raja berniat berkunjung ke Ngamarta.</p>
<p>Sementara, Prabu Kalasamba menanti kedatangan utusan yang disuruh ke hutan Wanamarta. Tiba-tiba Togog datang, memberitahu tentang kematian para utusan. Sang raja marah, kemudian pergi menyerang Ngamarta bersama prajuritnya.</p>
<p>Begawan Abyasa datang ke Ngamarta, Raja Matswapati pun tiba di Ngamarta. Warga Pandawa dan Wirata lengkap berkumpul di Ngamarta. Prabu Matswapati mewisuda Yudhistira menjadi raja di Ngamarta.</p>
<p>Patih Nirbita datang, memberitahu bahwa ada musuh datang menyerang kerajaan Ngamarta. Bima dan Arjuna pun ditugaskan melawan kedatangan musuh. Raja Kalasambawa dan perajurit raksasa musnah karena amukan Bima dan Arjuna. Kerajaan Ngamarta telah aman dan tenteram.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/babad-wanamarta/">Babad Wanamarta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/babad-wanamarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
