Batara Guru adalah dewa yang merajai kayangan (rajanya para dewa). Ia memiliki istri bernama Dewi Uma. Batara Guru memiliki hewan kendaraan yaitu Lembu Nandini.
Dalam naskah Paramayoga dikisahkan Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rakti, Putri raja jin kepiting yang bernama Sanghyang Yuyut. Dewi Rakti melahirkan sebutir telur mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Manikmaya mewarisi tahta kayangan dan bergelar Batara Guru, sedangkan Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri (tempat tinggal golongan makhluk halus).
Batara Guru merasa bahwa ia merasa paling sempurna dan tiada cacatnya. Sang Hyang Tunggal mengetahui perasaan Manikmaya, lalu ia bersabda bahwa Manikmaya akan memiliki cacat yaitu lemah kaki, belang di leher, bercaling dan berlengan empat. Dan sabda Hyang Tunggal benar-benar terjadi.
Suatu saat, Manikmaya merasa sangat haus, dan kebetulan ia menemukan sebuah telaga. Ia langsung meminum air dalam telaga itu, namun ternyata air itu beracun, maka ia langsung memuntahkan air telaga tersebut. Seketika ia mendapat cacat belang di leher.
Dalam pewayangan Jawa, dikisahkan pula bahwa Batara Manikmaya hadir ketika Nabi Isa dilahirkan. Ia memperhatikan bahwa manusia ketika lahir amatlah lemah kakinya. Seketikan, kakinya terkena tulah dan kaki kirinya pun menjadi lemah.
Suatu saat Batara Guru bertengkar dengan istrinya Dewi Uma. Karena marah, mereka berdua saling mengutuk, Dewi Uma mengutuk Batara Guru agar ia bercaling seperti raksasa, maka seketikan bercalinglag Manikmaya.
Saat Batara Guru menyaksikan manusia yang sedang sembahyang yang bajunya menutupi tubuhnya, maka Batara Guru tertawa karena ia mengira bahwa orang itu berlengan empat. Maka Manikmaya pun menjadi berlengan empat.
Putera Batara Guru menurut tradisi wayang Jawa adalah Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, Batara Wisnu, Batara Ganesha, Batara Kala dan Hanoman.