<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Hadisukirno &#187; tentang wayang</title>
	<atom:link href="https://blog.hadisukirno.co.id/tag/tentang-wayang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://blog.hadisukirno.co.id</link>
	<description>Kumpulan Informasi Seputar Kerajinan, Souvenir dan Wayang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Jul 2014 02:45:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=3.9.34</generator>
	<item>
		<title>Hastabrata</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Mar 2013 11:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=344</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hastabrata dalam pewayangan adalah pedoman ilmu pemerintahan yang merupakan wejangan Ramawijaya kepada adik tirinya, Barata, agar dapat memerintah kerajaan Ayodya dengan baik. Hastabrata juga diulang diwejangkan kepada Gunawan Wibisana, ketika adik bungsu Prabu Dasamuka itu hendak dinobatkan menjadi raja. Isi dari Hastabrata adalah : &#160; Meneladani Batara Endra (Indra) yang menurunkan hujan, membuat segar dunia.
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/">Hastabrata</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Hastabrata dalam pewayangan adalah pedoman ilmu pemerintahan yang merupakan wejangan Ramawijaya kepada adik tirinya, Barata, agar dapat memerintah kerajaan Ayodya dengan baik. Hastabrata juga diulang diwejangkan kepada Gunawan Wibisana, ketika adik bungsu Prabu Dasamuka itu hendak dinobatkan menjadi raja.<br />
Isi dari Hastabrata adalah :</span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Endra (Indra) yang menurunkan hujan, membuat segar dunia. Maksudnya seorang raja harus banyak memberi pada rakyatnya, sebagai turunnya hujan membasahi bumi.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Yama, yang menghukum manusia berdosa. Maksudnya, seorang raja harus berani dan tegas dalam member hukuman kepada siapapun yang melanggar aturan dan berbuat kesalahan; walaupun yang bersalah itu orang tua atau gurunya sendiri.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Candra, yang selalu tampil dengan ceria, menyenangkan orang yang memandangnya. Maksudnya, seorang raja harus selalu bersikap manis, menyenangkan dan simpatik terhadap rakyatnya.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Surya, yang memanasi bumi dengan cahayanya secara sabar dan tanpa bosan, sehingga air dapat menguap. Maksudnya, seorang raja harus memiliki kesabaran lebih besar dari orang lain pada umumnya.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Bayu, yang bagai angin dapat menyelinap diantara pepohonan tanpa kerasa. Maksudnya, seorang raja harus dapat menyatu dan berbaur dengan rakyatnya sehingga ia mengetahui keadaan rakyat yang sebenarnya.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Baruna, yang bersenjatakan pusaka sakti memerangi segala yang jahat. Maksudnya, seorang raja harus berkemampuan membinasakan musuh  negara dan segala jenis kejahatan.</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Meneladani Batara Agni yang memberantas musuh tanpa pilih-pilih. Maksudnya, seorang raja harus bersikap tega dan tanpa pandang bulu dalam menghancurkan musuh; walaupun musuhnya itu masih keluarganya sendiri.</span></span></li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/">Hastabrata</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/hastabrata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senjata Cakra</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 03:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=343</guid>
		<description><![CDATA[<p>Lengkapnya Cakra Sudarsana, atau Cakra Baskara adalah senjata andalan Batara Wisnu. Senjata itu juga dimiliki para titisannya, termasuk Prabu Kresna, raja Dwarawati. Sebagai senjata milik dewa, Cakra bukan hanya ampuh, tetapi juga mempunyai bermacam kegunaa. Kebanyakan makhluk di dunia ini tidak ada yang sanggup mengelak dan menangkal dari serangan senjata Cakra kecuali tokoh tertentu yang
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/">Senjata Cakra</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Lengkapnya Cakra Sudarsana, atau Cakra Baskara adalah senjata andalan Batara Wisnu. Senjata itu juga dimiliki para titisannya, termasuk Prabu Kresna, raja Dwarawati. Sebagai senjata milik dewa, Cakra bukan hanya ampuh, tetapi juga mempunyai bermacam kegunaa. Kebanyakan makhluk di dunia ini tidak ada yang sanggup mengelak dan menangkal dari serangan senjata Cakra kecuali tokoh tertentu yang berpihak pada kebajikan.</span></span></p>
<p>Dalam pewayangan senjata Cakra digambarkan berbentuk roda dengan gigi-gigi yang menyerupai  mata tombak. Pada Wayang Kulit Purwa dan Wayang Orang, senjata Cakra dirupakan sebagai mata panah (nyenyep, Bhs. Jawa), sedangkan dalam penggambarannya di beberapa dinding candi serta di komik-komik yang diterbitkan di Jawa Barat, Cakra dilukiskan berbentuk semacam cakram yang tepinya bergerigi.</p>
<p>Sewaktu pecah perang antara Keluarga Pandawa dan Kurawa, Cakra digunakan untuk menghalangi sinar matahari. Prabu Kresna berbuat begitu agar semua orang mengira hari telah senja. Waktu itu, sehari sebelumnya Arjuna bersumpah, “ Jika besok, sebelum matahari terbenam aku tidak dapat membunuh Jayadrata, lebih baik aku mati”. Sumpah Arjuna itu karena dendamnya atas kematian putera kesayangannya Abimanyu yang terjebak dalam formasi Cakrawyuha.</p>
<p>Setelah mendengar sumpahnya itu, Kurawa segera menyembunyikan Jayadrata, dengan harapan, jika Jayadrata berhasil selamat hari itu, tentu Arjuna akan bunuh diri.</p>
<p>Karena senjata Cakra menghalangi matahari, suasana di bumi, saat itu tampak seperti senja hari. Jayadrata yang merasa dirinya aman karena mengirinya batas waktu telah lewat , segera keluar dari persembunyiannya. Ia ingin menonton bagaimana Arjuna bunuh diri melaksanakan sumpahnya. Namun ketika Arjuna melihatnya, ksatria Pandawa itu langsung membunuh Jayadrata dengan anak panahnya. Leher Jayadrata putus tertebas anak panah Arjuna. Sesudah Jayadrata mati, barulah Prabu kresna menarik kembali Cakra dan dunia kembali terang benderang.</p>
<p>Prabu Kresna pernah menggunakan senjata Cakra itu untuk membunuh saudara sepupunya, Sisupala, karena raja Cedi itu telah menghinanya di depan umum. Peristiwa ini terjadi pada saat Prabu Yudhistira mengadakan upacara Sesaji Rajasuya. Selain itu, Cakra juga digunakan Kresna untuk membunuh Bomanarakusuma, anaknya sendiri, karena Boma berani melawan para dewa dengan menyerbu kahyangan, lagi pula Boma juga membunuh Samba, anak kesayangan Prabu Kresna.</p>
<p>Meskipun pada dasarnya Cakra adalah senjata andalan bagi tokoh wyang titisan Batara Wisnu, tetapi pada zaman Prabu Arjuna Sasrabahu senjata ini merupakan milik Patih Suwanda alias Bambang Sumantri.</p>
<p>Dalam pewayangan gagrak Jawa Timur diceritakan, senjata Cakra Baskara tercipta dalam lakon Wisnusraya. Suatu ketika, Prabu Mangliawan dari Kerajaan Selagringging menyerbu kahyangan, karena pinangannya terhadap Dewi Sri Pujayanti ditolak. Bala tentara dewa kewalahan menghadapinya. Sang Hyang Narada menugasi Batara Wisnu untuk menghadapi Prabu Mangliawan.</p>
<p>Sebelum berangkat ke medan laga Batara Wisnu menyuruh istrinya memohon restu pada batara Guru.</p>
<p>Namun pemuka dewa itu tidak berkenan karena ia masih sakit hati pada Wisnu dan Dewi Sri, karena mereka kawin, padahal Batara Guru juga berminat memperistri Dewi Sri. Batara Guru bahkan membuang ludah dahaknya sehingga menodai kain yang dikenakan Dewi Sri.</p>
<p>Dewi Sri kemudian melaporkan segala kejadian itu pada suaminya. Oleh Wisnu dahak Batara Guru yang menempel di kain istrinya dipuja menjadi sebuah senjata sakti berbentuk bulat, dengan delapan runcingan di sekeliling sisinya. Senjata itu dinamakan Cakra Baskara atau Riak Kumala.</p>
<p>Menurut versi yang ini, kisah terjadinya senjata Cakra dimulai dari niat Batara Guru untuk berolah asmara dengan Dewi Sri Widawati. Sang Dewi menolak dan memohon perlindungan Batara Wisnu. Ketika batara Wisnu hendak menyadarkan Batara Guru bahwa perbuatannya tidak pantas, pemuka dewa itu malah marah, lalu melakukan tiwikrama. Keempat tangannya menjadi besar dan panjang hendak mencengkeram Wisnu.</p>
<p>Karena takut sekaligus marah, Batara Wisnu melakukan tiwikrama, berubah ujud menjadi Kalamercu. Batara Guru kewalahan dan menghentikan serangannya, tetapi rasa kesalnya belum reda. Batara Wisnu diludahi . Kemudian bersama Batari Sri Widawati dan Batara Basuki, Wishnu diusir dari kahyangan. Sebelum meninggalkan kahyangan, Batara Wisnu memuja ludah Batara Guru menjadi senjata Cakra.</p>
<p>Mulai saat itulah mereka menitis pada manusia yang dipilihnya.</p>
<p>Pertama kali senjata Cakra digunakan oleh batara Wisnu memenggal leher Rembuculung atau Kala Rudra. Sewaktu mendapat laporan dari Batara Candra bahwa Rembuculung mencuri air kehidupan Tirta Amerta. Batara Wisnu segera memburunya. Dengan Senjata Cakra, dewa Pemelihara Alam itu memenggal leher Rembuculung hingga putus. Namun, karena raksasa gandarwa itu sempat meneguk Tirta Amerta. Sebelum sempat tertalan, kepala Rembuculung tidak mati, sedangkan badannya menjadi lesung.</p>
<p>Kala Cakra dalam bahasa Sansekerta mengandung arti bulatan atau lingkaran, piringan, roda atau sejenis dengan itu.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/">Senjata Cakra</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/senjata-cakra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Golek Papak</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Mar 2013 07:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=342</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wayang golek cepak atau Wayang Golek Papak, disebut demikian karena bentuk bagian kepala (mahkota, irah-irahan),wayang-wayangnya rata. Namun pada dasarnya bentuk seni kriya wayang itu amat mirip dengan Wayang Golek Purwa Sunda. Lakon –lakon yang digunakan dalam wayang cepak pada umumnya diambil dari cerita para leluhur Jawa Barat dan ada juga yang diambil dari Mahabharata. Wayang
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/">Wayang Golek Papak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Wayang golek cepak atau Wayang Golek Papak, disebut demikian karena bentuk bagian kepala (mahkota, irah-irahan),wayang-wayangnya rata. Namun pada dasarnya bentuk seni kriya wayang itu amat mirip dengan Wayang Golek Purwa Sunda. Lakon –lakon yang digunakan dalam wayang cepak pada umumnya diambil dari cerita para leluhur Jawa Barat dan ada juga yang diambil dari Mahabharata.</span></p>
<p>Wayang Golek Cepak ini pada zaman dulu pernah berkembang di Cirebon dan daerah sekitarnya. Di daerah itu orang menyelenggarakan pergelaran wayang Cepak untuk menyambut orang yang baru memasuki agama Isalam, meramaikan upacara Khitanan dan pada upacara potong gigi atau pangur.</p>
<p>Wayang golek papak  mulai dikenal orang pada masa pemerintahan Gunung Jati (1479-1568). Menurut penuturan Ki Tanggal Gunawaijaya, salah seorang dalang Wayang Cepak di Desa Sumber, Kecamatan Babakan, Cirebon, Pangran Sutajaya yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Papak, pernah memberikan seperangkat Wayang Golek Cepak kepada Ki Prengut, dengan pesan untuk digunakan sebagai sarana dakwah agama Islam. Kini wayang itu tidak berkembang, mungkin karena bentuk wayang itu agak kaku, tidak seindah Wayang Golek Purwa Sunda.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/">Wayang Golek Papak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-golek-papak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Jawatimuran</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Mar 2013 03:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=341</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wayang Kulit Purwa Jawatimuran memiliki corak sendiri. Seni kriyanya pada beberapa bagian cukup jauh bedanya dengan Wayang Kulit gagrak Surakarta maupun Yogyakarta. Demikian pula jalan cerintanya, terutama pada lakon-lakon carangan, punya perbedaan disana-sini. Tokoh Dewi Indradi misalnya, di pedalangan Jawatimuran dikenal dengan nama Dewi Cani. Resi Gotama, disebut Resi Wigutama. Anoman lebih dikenal dengan nama
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/">Wayang Jawatimuran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Wayang Kulit Purwa Jawatimuran memiliki corak sendiri. Seni kriyanya pada beberapa bagian cukup jauh bedanya dengan Wayang Kulit gagrak Surakarta maupun Yogyakarta.</span></p>
<p>Demikian pula jalan cerintanya, terutama pada lakon-lakon carangan, punya perbedaan disana-sini.<span style="font-size: small;"> Tokoh Dewi Indradi misalnya, di pedalangan Jawatimuran dikenal dengan nama Dewi Cani. Resi Gotama, disebut Resi Wigutama. Anoman lebih dikenal dengan nama Anjila.</span></p>
<p>Demikian pula tokoh-tokoh wayangnya. Jawa Timur memiliki nama tokoh wayang yang khas yang tidak terdapat pada daerah lain, misalnya Bubut Bris, anak Prabu Dasamuka. Menurut Pewayangan Jawatimuran, Bubut Bris dilahirkan oleh seekor burung betina, yang oleh Dasamuka dikira titisan Dewi Widawati.</p>
<p>Pada seni kriyanya, ciri khas yang mencolok pada gaya Jawatimuran adalah pemaduan bentuk irah-irahan dengan gelung sapit urang untuk beberapa tokoh wayang. Misalnya, seorang tokoh wayang yang memakai topong (mahkota), masih juga memakai gelung dibelakang kepalanya.</p>
<p>Pada pewarnaan sunggingannya, terkadang juga jauh bedanya. Gatotkaca dan Bima misalnya, yang pada seni kriya gagrak Surakarta dan Yogyakarta wajahnya selalu dicat dengan warna keemasan (prada) atau hitam, pada wayang Kulit Purwa Jawatimuran diberi warna merah menyala. Tokoh Antareja, wajahnya distilir dari bentuk muka naga, lengkap dengan moncong menganga dan lidahnya yang bercabang. Peraga wayang berwajah naga ini, dimaksudkan untuk Antareja ketika sedang tiwikrama.</p>
<p>Selain itu, wayang Jawatimuran hanya mengenal dua tokoh Panakawan utama, yaitu Semar dan Bagong Mangundiwangsa. kadang-kadang ditambahkan pula dengan tokoh punakawan yang lain, Besut alias Bestil, alias Besep. Bentuknya Bagong, tetapi ukurannya lebih kecil.</p>
<p>Salah seorang yang ahli mengenai pewayangan gagrak Jawatimuran ini adalah Soenarto Timoer, budawayan yang juga penulis banyak buku wayang.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/">Wayang Jawatimuran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-jawatimuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Irah-Irahan Wayang</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2013 04:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=340</guid>
		<description><![CDATA[<p>Irah-irahan wayang dalam dunia pewayangan adalah sebutan bagi penutup kepala. bentuk-bentuk sanggul dan bentuk rambut. Istilah irah-irahan Wayang bukan hanya  digunakan dalam seni Kriya Wayang Kulit Purwa, Wayang golek Purwa, Wayang Madya, Wayang Wa-sana juga pada perlengkapan pakaian wayang Orang.Kata irah-irahan  berasal dari bahasa Jawa, kata &#8216;sirah&#8217; artinya adalah kepala. Bentuk irah-irahan wayang akan menentukan
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/">Irah-Irahan Wayang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Irah-irahan wayang dalam dunia pewayangan adalah sebutan bagi penutup kepala. bentuk-bentuk sanggul dan bentuk rambut. Istilah irah-irahan Wayang bukan hanya  digunakan dalam seni Kriya Wayang Kulit Purwa, Wayang golek Purwa, Wayang Madya, Wayang Wa-sana juga pada perlengkapan pakaian wayang Orang.Kata irah-irahan  berasal dari bahasa Jawa, kata &#8216;sirah&#8217; artinya adalah kepala.</span></p>
<p>Bentuk irah-irahan wayang akan menentukan golongan mana tokoh wayang itu termasuk. Irah-irahan wayang golongan raja, berbeda dengan kerabatnya dan juga dengan para punggawanya.</p>
<p>Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan juga wayang Orang, jenis irah-irahan wayang adalah sebagai berikut :</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><span style="font-size: small;"><em><strong>Makuta</strong></em>, yang artinya mahkota, adalah jenis irah-irahan wayang yang dikenakan oleh para raja. Makuta antar alain dikenakan oleh Prabu Kresna, Prabu Basudewa, Prabu Kresna Dwipayana, Prabu Baladewa dan Prabu Ramawijaya. Golongan Dewa dalam pewayangan yang mengenakan makuta diantaranya Batara Wisnu, Batara Bayu, batara Brama dan Batara Endra. selain itu, raja kera dan  raja raksasa pun ada yang mengenakan makuta, diantaranya Prabu Dasamuka dan Prabu Sugriwa.</span></li>
<li><span style="font-size: small;"><em><strong>Topan</strong></em> &#8211; sebenarnya juga semacam mahkota, tetapi tidak tinggi seperti makuta, melainkan pendek seperti setengah bulatan. Oleh karena itu, topong juga sering disebut topong makuta, atau makuta topong. Pemakai topong makuta diantaranya adalah Batara Guru, Sang Hyang Antaboga, adipati karna, Prabu Matswapati, Prabu Sentanu dan Prabu Dasarata.</span></li>
<li><span style="font-size: small;"><strong><em>Ketu</em></strong>, juga semacam mahkota dalam bentuk yang lebih sederhana. Pemakai irah-irahan wayang  berbentuk ketu diantaranya adalah Batara Narada, batara Yamadipati, Resi Drona dan Citraksi. selain bentuk ketu yang biasa, dalam pewayangan juga dikenal adanya ketu yang khas yang disebut ketu Udeng. Pemakai ketu udeng diantaranya adalah Patih Sengkuni, Patih Pragota, Aswatama, kapi Jembawan dan Patih Udawa. Ada lagi yang disebut ketu depak yang bentuknya bulat lonjong.</span></li>
<li><span style="font-size: small;"><strong><em>Sorban Mekena</em></strong> &#8211; merupakan bentuk stilir dari sorban, sehingga bentuknya menjadi seperti rumah keong. Itulah sebabnya, sorban mekena yang bentuknya benar &#8211; benar seperti keong juga disebut keong keyongan. Pemakai sorban mekena, diantaranya adalah Batara Kala, Batara Surya, Begawan Abiyasa dan Resi Bisma.</span></li>
<li><span style="font-size: small;"><em><strong>Pogok Blangkon</strong></em>, atau kopiyah &#8211; dipakai antara lain oleh tokoh wayang raksasa Cakil dan beberapa punggawa.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size: small;"><br />
Dalam seni Kriya wayang kulit maupun Orang, gelung rambut (sanggul), dan rambut ngore (rambut digerai lepas ) juga tergolong irah-irahan wayang, karena menyangkut soal kepala.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><span style="font-size: small;"><em>Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia</em><br />
</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/">Irah-Irahan Wayang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/irah-irahan-wayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Cupak</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2013 04:25:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=339</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wayang Cupak adalah pertunjukkan Wayang Kulit Bali yang mengisahkan perjalanan hidup Cupak-Grantang. Perangkat iringannya sama dengan pertunjukkan Wayang Kulit Ramayana, yang terdiri dari empat buah gender wayang, dua buah kendang krumpungan lanang-wadon; sebuah kempul, kenong, ceng-ceng duduk, kelenang, ketuk dan beberapa Seruling besar dan kecil. Sejak akhir tahun 1970-an pertunjukkan diiringin dengan perangkat gamelan Pelegongan.
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/">Wayang Cupak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Wayang Cupak adalah pertunjukkan Wayang Kulit Bali yang mengisahkan perjalanan hidup Cupak-Grantang. Perangkat iringannya sama dengan pertunjukkan </span></p>
<p>Wayang Kulit Ramayana, yang terdiri dari empat buah gender wayang, dua buah kendang krumpungan lanang-wadon; sebuah kempul, kenong, ceng-ceng duduk, kelenang, ketuk dan beberapa Seruling besar dan kecil.</p>
<p>Sejak akhir tahun 1970-an pertunjukkan diiringin dengan perangkat gamelan Pelegongan. Dalang yang pernah melakukan hal ini adalah I NYoman Sumandi, M.A.</p>
<p>Pada tahun 1998, wayang Cupak sudah amat langka. Wayang itu hanya dapat dijumpaidi kabupaten Tabanan, Gianyar dan Denpasar.</p>
<p>Dalang-dalang Wayang Cupak yang cukup terkenal diantaranya, I Mahal dari Banjar Tohpati, Desa Sibang, Kabupaten Badung, dalang I Wayang Wetra dari Dukuh</p>
<p>Oulu, Desa Selamadeg, Kabupaten Tabanan, dalan Pan Raben dan dan I jangga dari Tabanan. Salah satu lakon terkenal yang sempat direkam di kaset, adalah Cupak Ka Swarga, diproduksi Aneka Record, Tabanan.</p>
<p>Untuk melestarikan Wayang Cupak, pada tahun 1995 diadakan festival Wayang Cupak Se-Bali. Acara itu diselenggarakan oleh Majelos Pertimbangan dan</p>
<p>Pembinaan Kebudayaan (ListiBiya) Bali, bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Bali.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/">Wayang Cupak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-cupak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Triwikrama</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2012 02:36:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=337</guid>
		<description><![CDATA[<p>Triwikrama atau sering disebut Tiwikrama adalah kemampuan titisan Wisnu dan beberapa makhluk lainnya untuk berubah ujud menjadi raksasa yang amat besar, bertangan seribu yang disebut  brahala. Dalam pewayangan, tokoh titisan Wisnu yang tergolong sering melakukan Tiwikrama adalah Arjuna Sasrabahu dan Kresna. Selain titisan Wisnu, Dasamuka juga bisa bertiwikrama. Dalam keadaan biasa, Dasamuka hanya berkepala satu.
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/">Triwikrama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Triwikrama atau sering disebut Tiwikrama adalah kemampuan titisan Wisnu dan beberapa makhluk lainnya untuk berubah ujud menjadi raksasa yang amat besar, bertangan seribu yang disebut  brahala.</span></p>
<p>Dalam pewayangan, tokoh titisan Wisnu yang tergolong sering melakukan Tiwikrama adalah Arjuna Sasrabahu dan Kresna.</p>
<p>Selain titisan Wisnu, Dasamuka juga bisa bertiwikrama. Dalam keadaan biasa, Dasamuka hanya berkepala satu. Namun, ketika bertiwikrama ia berkepala sepuluh dan tubuhnya menjadi jauh lebih besar.</p>
<p>Dalam pewayangan diceritakan, saat <strong>Kresna</strong> bertindak sebagai duta Pandawa, ia melakukan triwikrama karena Kurawa tidak mau memenuhi janjinya dan hendak mengeroyok Kresna. Karena tiwikrama Prabu Kresna, balairung istana Astina tidak mampu memuat tubuhnya sehingga jebol. Dinding-dindingnya roboh dan atapnya runtuh.  Para Kurawa dan dan penghuni istana Astina lari kalang kabut untuk menyelamatkan diri.</p>
<p>Dalam lakon carangan berjudul Dewa Amral. Prabu Yudhistira juga melakukan triwikrama. Begitu juga Anoman, beberapa buku pewayangan menyebutkan putra Dewi Anjani itu juga sanggup melakukan tiwikrama.  Misalnya ketika ia menjadi duta, waktu ia menyeberangi lautan, Anoman diterkam Wilkataksani dan ditelannya. Saat Anoman berada di dalam tenggorokan raksasa itu, ia melakukan tiwikrama sehingga leher raksasa itu bedah dan Wikataksani mati seketika.</p>
<p>Dalam seni kriya, khusus untuk Kresna, Arjuna dan Puntadewa, peraga wayang yang menggambarkan keadaan tiwikrama disebut brahala.</p>
<p>Pada pewayangan gagrak Jawatimuran, Antareja yang sedang tiwikrama dilukisakan berwajah ular naga dan badannya bersisik. Arjunasasrabahu dan Dasamuka, jika sedang tiwikrama digambarkan bertangan banyak. Tangan-tangan kecil ditambahkan pada bahu dan lengannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/">Triwikrama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/triwikrama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jenis Tatahan Wayang Kulit Purwa</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/jenis-tatahan-wayang-kulit-purwa/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/jenis-tatahan-wayang-kulit-purwa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Dec 2012 03:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=335</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 16 jenis macam jenis tatahan. Masing-masing jenis tatahan  itu diperuntukkan bagi pembuatan ornament tertentu, pada bagian tubuh wayang tertentu pula. Berikut adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/jenis-tatahan-wayang-kulit-purwa/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/jenis-tatahan-wayang-kulit-purwa/">Jenis Tatahan Wayang Kulit Purwa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 16 jenis macam jenis tatahan. Masing-masing jenis tatahan  itu diperuntukkan bagi pembuatan ornament tertentu, pada bagian tubuh wayang tertentu pula.</span></p>
<p>Berikut adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :</p>
<p><strong>1. Tatahan Tratasan</strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Tatahan jenis ini adalah untuk membuat pola semacam garis, baik garis lurus maupun yang melengkung lebar dan menyudut. <em>Tatahan Tratasan</em> hampir selalu diselang-seling dengan <em>tatahan Bubukan</em>, dengan maksud agar kulit di bagian yang ditatah itu tidak mudah patah atau robek.</span></p>
<p><strong>2. Tatahan Bubukan</strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Jenis tatahan ini adalah berupa lubang-lubang kecil berderet, yang digunakan untuk membuat kesan gambaran garis. Biasanya <em>tatahan Bubukan</em> diseling dengan <em>tatahan Tratasan</em>. Tatahan berseling antara Tratasan dan Bubukan ini juga disebut <em>tatahan lajuran</em> atau <em>tatahan lajur</em>.</span></p>
<p><strong>3. Tatahan Untu Walang</strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Tatahan jenis ini berupa garis-garis terputus. <em>Tatahan Untu Walang</em> lebih lembut dari hasil <em>tatahan tratasan</em>. Alat yang digunakan untuk membuat tatahan untuk walang adalah tatah trentenan. Di daerah Yogyakarta dan sekitarnya, tatahan Untu Walang disebut <em>tatahan semut ulur</em>.</span></p>
<p><strong>4. Tatahan Bubuk Iring atau Buk Iring</strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Berupa lubang-lubang yang membentuk deretan seperti huruf U. Biasanya tatahan ini digunakan untuk mengerjakan bagian wayang yang disebut ulur-ulur dan uncal kencana. Tatahan ini juga sering disebut <em>bubuk ring</em> atau <em>bubukan iring</em>.</span></p>
<p><strong>5. Tatahan Kawatan</strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Biasa juga disebut <em>tatahan Gubahan</em>. Tatahan jenis ini digunakan untuk ‘mengisi’ sumping, bagian praba dan gruda mungkur.</span></p>
<p><strong>6. Tatahan Mas-Masan</strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Bentuknya berupa deretan selang-seling antara titik dan koma. Biasanya digunakan untuk mengerjakan bagian uncal kencana, sumping, gruda mungkur, kalung dan jamang.</span></p>
<p><strong>7. Tatahan Sumbulan</strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Biasanya dikombinasikan dengan tatahan mas-masan, digunakan untuk mengerjakan bagian kalung, jamang dsb.</span></p>
<p><strong>8. Tatahan Intan-intan</strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Biasa juga disebut <em>tatahan intan-intanan</em>. Digunakan untuk ‘mengisi’ bagian sumping, berselang-seling dengan <em>tatahan kawatan</em>. Bentuk tatahan ini seperti bunga mekar, tetapi hanya separuh. </span></p>
<p>Tatahan peraga <strong>Wayang Kulit Purwa</strong> dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim <em>Mawo Serekuh</em>, yakni <em>Mapan, Wijang, Semu, Resik</em> dan <em>Kukuh</em>. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, <em>Padang, Wijang, Ngukel, Semu</em> dan <em>Wulet</em>.</p>
<p><span style="font-size: small;"><em>Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia</em><br />
</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/jenis-tatahan-wayang-kulit-purwa/">Jenis Tatahan Wayang Kulit Purwa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/jenis-tatahan-wayang-kulit-purwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Kulit Sasak</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-sasak/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-sasak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Nov 2012 08:17:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=332</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wayang kulit Sasak adalah wayang yang berkembang di daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Wayang kulit Sasak dibuat dari kulit kerbau dan tanduk kerbau. Disebut wayang Sasak karena pembuatannya berasal dari etnis Sasak. Bentuknya mirip dengan wayang kulit Gedog. Kisah utama atau pakem yang dipentaskan dalam wayang kulit Sasak ialah “Srat Menak”, saduran dari hikayat Amir
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-sasak/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-sasak/">Wayang Kulit Sasak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><strong>Wayang kulit</strong> Sasak adalah wayang yang berkembang di daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Wayang kulit Sasak dibuat dari kulit kerbau dan tanduk kerbau. Disebut wayang Sasak karena pembuatannya berasal dari etnis Sasak. Bentuknya mirip dengan wayang kulit Gedog.</span></p>
<p>Kisah utama atau pakem yang dipentaskan dalam wayang kulit Sasak ialah “Srat Menak”, saduran dari hikayat Amir Hamzah (Paman Nabi Muhammad SAW) dari negeri Persia yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa Kawi oleh Yosodipura II di zaman kerajaan Mataram Islam. Kisahnya tentang perjalanan Nabi Muhamad SAW menyiarkan agama Islam.</p>
<p>Dalam <strong>wayang kulit Sasak</strong>, nama Amir Hamzah diganti dengan nama Indonesia yaitu Wong Agung Menak Jayengrana. Cerita ini masuk ke Indonesia melalui tanah Melayu kemudian masuk ke Jawa dan tersebar sampai ke Lombok. Cerita menak tersebut ditulis di daun lontar dalam bahasa Jawa dengan huruf Sasak.</p>
<p>Gamelan yang mengiringi pertunjukkan Wayang Sasak terdiri dari ceng-ceng, suling, tawa-tawa, kendang, pleret dan kempul. Pertunjukkan wayang sasak hanya membutuhkan sekitar 10 orang, yang terdiri dari seorang dalang, dua orang pembantu dalang untuk menata wayang (pengabih atau pengawit) dan 7 orang penabuh gamelan.</p>
<p>Pementasan wayang Sasak biasanya dimulai dengan munculnya tokoh Punokawan. Empat tokoh wayang Sasak yang berhasil mengundang gelak tawa penontonnya ini adalah Amaq Ocong, Amaq Amet, Amaq Baok dan Inaq Itet.</p>
<p>Dalang <strong>wayang kulit Sasak</strong> yang terkenal adalah Lalu Nasip. Selain sebagai dalang pertama di Lombok yang menggagas gubahan bahasa wayang dari bahasa Jawa Kawi ke bahasa Sasak Lombok dan Indonesia, Lalu Nasip juga mendapat tempat di hati masyarakat karena humor-humor khasnya lewat tokoh-tokoh lucu dalam wayang.</p>
<p><span style="font-size: small;">Jumlah wayang Sasak tidak kurang dari 400 lembar, yang semuanya terbuat dari kulit binatang.</span></p>
<p>Di masa lampau, wayang Sasak dipentaskan sebagai media dakwah dan hiburan. Namun dalam perkembangannya, selain sebagai media hiburan juga sebagai sarana penyuluhan/sosialisasi program pemerintahan.</p>
<p><span style="font-size: small;">Melalui tokoh Punokawan, Lalu Nasip juga bisa menyampaikan kritik dan pesan moral. Misalnya mengkritik pemerintah atau oknum pejabat yang kurang baik kinerjanya, tentunya masih dalam kode etik yaitu tanpa menyebut nama dan jabatan. </span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-sasak/">Wayang Kulit Sasak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/wayang-kulit-sasak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanda Wayang</title>
		<link>https://blog.hadisukirno.co.id/wanda-wayang/</link>
		<comments>https://blog.hadisukirno.co.id/wanda-wayang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2012 01:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang Golek]]></category>
		<category><![CDATA[wayang kulit]]></category>
		<category><![CDATA[wayang orang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.hadisukirno.co.id/p=323</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, Wanda adalah penampilan karakter khusus seorang tokoh peraga wayang pada suatu suasana tertentu. Seperangkat Wayang Kulit Purwa, biasanya memiliki beberapa buah peraga wayang, misalnya saja tokoh Arjuna, Bima, Kresna, Gatotkaca, Dasamuka, Baladewa,dll. Sebagai contoh, peraga wayang Arjuna yang digunakan kalau sedang merayu seorang wanita berbeda dengan peraga wayang Arjuna
<div class="read-more"><a href="https://blog.hadisukirno.co.id/wanda-wayang/" title="Read More">Read More</a></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wanda-wayang/">Wanda Wayang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, Wanda adalah penampilan karakter khusus seorang tokoh peraga wayang pada suatu suasana tertentu. Seperangkat Wayang Kulit Purwa, biasanya memiliki beberapa buah peraga wayang, misalnya saja tokoh Arjuna, Bima, Kresna, Gatotkaca, Dasamuka, Baladewa,dll.</span></p>
<p>Sebagai contoh, peraga wayang Arjuna yang digunakan kalau sedang merayu seorang wanita berbeda dengan peraga wayang Arjuna saat berperang tanding.Peraga wayang yang berbeda akan memudahkan dalang dalam membawakan suasana cerita serta karakter tokoh yang sedang dimainkannya.</p>
<p>Perbedaan karakter sebuah tokoh wayang pada wanda yang berbeda, meliputi perbedaan seni tatah (pahatan), sikap peraga wayangnya dan juga warna-warna dalam sunggingannya.</p>
<p><span style="font-size: small;">Berikut adalah daftar wanda sebagian tokoh wayang :</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Gatotkaca :  Guntur, Guntur Prahara, Guntur Geni, Guntur Samudra, Kilat, Tatit, Tatit Sepuh, Mendung dan Mega.    </span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Subadra : Lentereng, Parem dan Rangkung.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Srikandi : Patrem dan Goleng.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Abimanyu : Rangkung dan Bontit.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Bambangan : Miling dan Padasih.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Nakula dan Sadewa : Bontit dan Banjet.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Kakasrana : Kilat, Sembada dan Bangbang wetan</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Baladewa : Geger, kaget, Sembada, Paripeksa dan Rayung.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Narayana : Sembada dan Geblag.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Udawa : Jaran dan Tandang</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Samba : Bontit, Sembada dan Banjet.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Pragota : Bundel dan Pacel</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Prabawa : Bundel dan Pacel</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Puntadewa : matasih dan Penganten.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Yudhistira : Lare, Jimat, Deres, Putut dan Manuksma</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Setyaki : Mimis, Wisnu dan Kakek</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Kresna : Gendreh, Mawur dan Rondon</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Narayana : Geblag, Sembada dan Jangkahan</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Semar : Mega, Watu, Ginuk, Brebes, Miling, Dunuk, Dukun dan Gilut.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Gareng : Kancil, Wregul, Bajang dan Janggleng</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Petruk : Jamblang, Jengglong dan Mesem</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Bagong: Gembor, Gilut, Roti dan Ngengkel</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Duryudana : Jangkung, Punggung dan Jaka</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Banowati : Golek dan Berok</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Basukarna : Bledru dan Lontang</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Dursasana : Belis, Dlomek dan Bujang</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Burisrawa : Cawet dan Bokong</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Dasamuka : Gonteng, Pamuk dan Sambada</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Sengkuni : Boreh, Tanggap, Mlenyokdan Climut</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Togog : Manuk dan Goprak</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Batara Durga : Gedrug, Surak, Belis dan Gidrah</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Batara Guru : Arca (Reca), Rama dan Karna</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Werkudara/Bima : Lindu Panon, Lindu Bambang,Kedu, Tatit, Mimis, Bedil,Krtug,Jagong,Bugis dan Gandu.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Bratasena : Mimis dan Gurnat</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Arjuna/Janaka : Jimat, Malatsih, Kanyut, Renteng, Mangu, Muntap, Kedu dan Kinanti.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Permadi L Pengawe, Pengasih, Linanti dan Kadung</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Dasamuka : Belis dan Bugis</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Kumbakarna : Macan dan Barong</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Kakasrana : Kilat dan Sembada</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Narayana : Geblag, Bontit dan Sembada</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Drona : Keton dan Enem</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Durmagati : Pocol dan Cawet</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small;">Indrajit : Bokong dan Cawet</span></li>
</ul>
<p><span style="font-size: small;"><br />
Meskipun penciptaan bentuk wana dialkukan oleh para seniman pewayangan, tetapi dalam budaya Jawa, penciptaan wanda wayang selalu dikaitkan dengan nama raja yang memerintah pada saat itu. </span></p>
<p>Contohnya, dalam buku-buku pewayangan disebutkan, Sultan Agung Anyakrakusuma adalah pencipta Arjuna wanda Mangu. Sunan Seda Krapyak adalah pencipta wanda Jimat. Sunan seda Tegalarum adalah pencipta Arjuna wanda Kanyut.</p>
<p>Pembuatan wanda baru dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa sebenarnya dilakukan dari zaman ke zaman oleh para seniman pewayangan. Namun hanya kreasi wanda yang bisa diterima masyarakat saja yang kemudian popular.</p>
<p>Diantara banyak wanda baru dalam Wayang Kulit Purwa, Ir, Sukarno, presiden pertama Ri memberikan sumbangan berupa Narayana wanda Jangkah serta tiga wanda baru untuk tokoh Gatotkaca, yakni wanda Guntur Geni, Guntur Prahara dan Guntur Samodra. Selain itu, Ir. Haryono Haryoguritno, seorang pecinta wayang yang mendalami seni kriya, menciptakan Bagong wanda Blo’on.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: small;"><em>sumber : Ensiklpedi Wayang Indonesia (Senawangi)</em><br />
</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id/wanda-wayang/">Wanda Wayang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://blog.hadisukirno.co.id">Blog Hadisukirno</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://blog.hadisukirno.co.id/wanda-wayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
