Batari Pratiwi adalah dewi yang menguasai bumi lapis pertama. Bumi lapis pertama sering disebut Ekapratala. Eka berarti satu dan pratala berarti bumi. Batari Pratiwi merupakan puteri Sang Hyang Nagaraja dengan Batari Dewi.
Dalam buku Bunga Rampai Wayang Purwa Beserta Penjelasannya, karangan Bondhan Harghana SW dan Muh Pamungkas Prasetya Bayu Aji, keluaran Cendrawasih dan Ensiklopedi Wayang Purwa, keluaran Balai Pustaka, Batari Pratiwi derajatnya sama dengan para dewa, karena ia menguasai bumi lapis pertama.
Bumi lapis kedua, sinebut Dwipratala, dikuasai oleh Bathara Kusika. Bumi lapis ketiga yang disebut Tribantala menjadi tempatnya Bathara Ganggang. Bumi lapis keempat atau Caturpratala dikuasai oleh Bathara Sindula dan bumi lapis kelima, disebut Pancapraptala, dikuasai oleh Bathara Darampalan.
Selanjutnya, Bumi lapis keenam adalah kahyangan Bathar Manikem dan Saptapratala atau bumi lapis ketujug adalah kahyangan Bathara Anantaboga.
Batari Pratiwi selama hidupnya ingin sekali memiliki kembang Wijayakusuma. Bunga tersebut dimiliki Resi Kesawasidi yang tinggal di Padepokan Argajati.
Suatu hari, Bathara Wisnu datang ke kahyangan Eka Pratala untuk melamar Batari Pratiwi. Bathara Wisnu ingin meminta Batari Pratiwi agar mau menjadi permaisurinya. Hal itu dimanfaatkan Batari Pratiwi untuk mewujudkan keinginannya memiliki kembang Wijayakusuma.
Kepada Bathara Wisnu, Batari Pratiwi mengungkapkan kesanggupannya menjadi isteri Bathara Wisnu asalkan ia bisa menyediakan kembang Wijayakusuma sebagai mas kawin. Bathara Wisnu pun menyanggupi permintaan Dewi Pratiwi.
Bathara Wisnu kemudian ke Padepokan Argajati, menemui Resi Kesawasidi untuk meminta kembang Wijayakusuma . Namun saat bertemu dengan Bathara Wisnu, puteri Resi Kesawasidi, Srisekar jatuh cinta dan ingin menjadi isteri Sang Hyang Wisnu.
Resi Kesawasidi pun menyatakan bahwa ia bersedia menyerahkan kembang Wijayakusuma apabila Bathara Wisunu mau menjadi menantunya dengan menikahi Srisekar. Akhirnya, Hyang Wisnu pun menikah dengan Srisekar.
Saat Resi Kesawasidi ingin menyerahkan kembang Wijayakusuma kepada Bathara Wisnu, dirinya terkejut karena bunga yang memiliki khasiat bisa menghidupkan orang yang sudah mati sebelum takdirnya itu layu.
Setelah diteliti, ternyata, cangkok kembang yang disebut Wijayamula dan gagangnya hilang. Namun Bathara Wisnu tetap mau menerima kembang Wijayakusuma yang sudah layu tersebut.
Setelah menerima kembang Wijayakusuma, Hyang Wisnu kembali ke kahyangan Ekapratala untuk menyerahkan kembang itu kepada Batari Pratiwi. Resi Kesawasidi dan Srisekar kemudian menyusul Hyang Wisnu ke kahyangan Ekapratala. Batari Pratiwi sendiri sedang menghadapi lamaran dari raja negara Garbapitu, Prabu Wisnudewa.
Terhadap Prabu Wisnudewa, Batari Pratiwi memiliki permintaan mas kawin yang sama yaitu kembang Wijayakusuma. Prabu Wisnudewa sanggup menyediakan kembang Wijayakusuma karena dia sudah memiliki gagang dari kembang Wijayakusuma, yang dibawa macan peliharaannya yang bernama Sardulamurti.
Sedangkan, perjalanan Bathara Wisnu ke kahyangan Ekapratala bertemu dengan banteng yang bisa berbicara. Banteng tersebut mengaku bernama Handaka Wisnuhata, ia ingin menjadi abdi Hyang Wisnu. Bathara Wisnu pun menyambut keinginan banteng Handaka Wisnuhata, selanjutnya, banteng tersebut mengiringi perjalanan Hyang Wisnu menuju kahyangan Ekapratala.
Bathara Wisnu yang berhasil membawa kembang Wijayakusuma kemudian menyerahkan bunga tersebut kepada Batari Pratiwi . Pada saat itu juga, Prabu Wisnudewa juga menyerahkan macan Sardulamurti kepada Batari Pratiwi, namun ditolak karena yang diminta adalah bunga. Prabu Wisnudewa menjadi marah dan menantang perang tanding Bathara Wisnu.
Macan Sardulamurti membantu Prabu Wisnudewa, sedangkan banteng Handaka Wisnuhata membantu Hyang Wisnu. Macan dan banteng yang memiliki kesaktian yang sama pun roboh, mati bersama dan kemudian berubah wujud menjadi gagang dan cangkok kembang.
Batari Pratiwi kemudian mengambil gagang dan cangkok kembang tersebut kemudian dijadikan satu dengan kembang Wijayakusuma pemberian Bathara Wisnu.
Akhirnya, Bathara Wisnu dan Batari Pratiwi menikah. Kembang Wijayakusuma kemudian dikembalikan kepada Sahyang Wisnu. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki dua orang putera kembar yaitu Sitija (Prabu Bomanarakasura) dan Siti Sundari (menjadi istri Arjuna yang melahirkan Abimanyu). Saat Bathara Wisnu menitis kepada Prabu Kresna, Batari Pratiwi kemudian menjadi isteri raja Dwarati tersebut.