Saat memakai pakaian adat, cara mengenakan keris antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya pun berbeda. Selain itu, dalam satu daerah, kadang-kadang cara pemakaian juga berbeda antara lapisan masyarakat yang satu dan lainnya, tergantung pada tingkat sosialnya.Selain ituh arus disesuaikan pada situasi apa keris itu akan dikenakan.
Misalnya, di Pulau Jawa, cara mengenakan keris pada suatu pesta tidak sama dengan kalau keris itu dikenakan untuk menghadiri suatu acara kematian atau penguburan.
Di Pulau Jawa, pada umumnya keris dikenakan dengan cara menyelipkan diantara stagen, sejenis ikat pinggang, di pinggang bagian belakang. Yang paling umum, keris itu diselipkan miring ke arah tangan kanan.
Pada saat situasi perang, kalau yang mengenakan keris seorang ulama, keris akan diselipkan di bagian dada, miring ke arah kanan.
Di Pulau Bali, keris dikenakan dengan cara menyelipkan pada lipatan kain, di punggung dengan posisi tegak atau miring ke kanan. Tetapi, pada situasi yang khusus, cara pemakiannya pun berbeda.
Di daerah Minangkabau, Bangkinang, Bengkulu, Palembang, Riau, Malaysia, Brunei Darussalam, Pontianak, Sambas, Kutai, Tenggarong, Banjar, Bugis, Goa, Makassar, Luwu, dan lain-lain, keris biasanya dikenakan dengan cara menyelipkannya pada lipatan kain sarung, di bagian dada atau perut si pemakai, dengan kedudukan serong ke arah tangan kanan.
Bagi sebagian besar suku bangsa Indonesia, mengenakan pakaian tanpa keris dirasa kurang lengkap.