Korawa atau Kaurawa adalah tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata yang merupakan musuh para Pandawa. Korawa dalam bahasa sansekerta memiliki arti “Keturunan (raja) Kuru”.
Dikisahkan dalam Mahabharata, bahwa Dewi Gendariyang merupakan istri dari Drestarastra hamil, namun kehamilan Gendari tidak wajar, sudah sekian lama Gendari mengandung , namun belum juga ada tanda-tanda kelahiran jabang bayi yang dikandungnya. Ia pun cemburu kepada Kunti, yang sudah memberikan tiga orang putera kepada Pandu. Karena kesal, Gendari memukul-mukul kandungannya, dan setelah melalui masa persalinan, akhirnya jabang bayi yang dikandungnya lahir. Namun ternyata yang keluar dari rahim Gendari bukanlah seorang bayi, tapi hanya segumpal daging.
Begawan Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi 100 bagian dan memasukkannya ke dalam guci. Guci-guci tersebut kemudian di tanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari setiap guci, munculah bayi laki-laki. Dan yang pertama muncul adalah Duryudana, kemudian Dursasana, dan saudara korawa yang lain.
Seratus putera Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah, namun mereka selalu cemburu dengan saudara sepupu mereka yaitu para Pandawa, terutama Duryodana. Dia iri kepada Yudhistira yang hendak dijadikan raja di Hastinapura. Berkat hasutan dan bantuan Pamannya, Sengkuni(adik Gendari), keinginan Duryudana untuk merebut takhta dan kekuasaan dari tangan Pandawa pun semakin menjadi. Perselisihan pun timbul, dan mencapai puncaknya pada pertempuran besar di Kurukhshetra yang biasa disebut perang Bharathayuddha.
Dalam pertempuran yang berlangsung selama delapan belas hari itu, semua putera Korawa gugur, termasuk cucu-cucunya, kecuali Yuyutsu, yang merupakan putera Drestarastra dari seorang dayang. Ia selamat karena ia berada di pihak Pandawa. Dan dari para Korawa, Doryudana adalah putera Drestarastra yang gugur paling akhir dalam pertempuran itu, dan sebelumnya adiknya Dursusana juga telah gugur di tangan Bima.