Wayang Golek adalah wayang yang bentuknya berupa boneka kayu. Wayang golek terkenal di wilayah tanah Pasundan.
Ada dua jenis wayang golek yang terkenal, yaitu wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda.
Wayang golek dimainkan oleh seorang dalang. Namun bedanya, wayang golek tidak dimainkan dengan kelir. Cerita yang diangkat adalah cerita Mahabharata dan Ramayana.
Pertunjukkan wayang golek diiringi gamelan Sunda (Salendro), yang terdiri dari dua buah saron, sebuah peking, sebuah salentem satu perangkat boning, satu perangkat boning rincik, satu perangkat kenong, sepasang gong, seperangkat kendang dan rebab. Selain itu juga diiringi oleh tembang yang dinyanyikan oleh Sinden.
Lakon yang sering dipertunjukan dalam pertunjukan wayang golek adalah lakon carangan. Dalang Wayang Golek yang terkenal diantaranya adalah Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi.
Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut:
1) Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara
2) Babak unjal, paseban, dan bebegalan
3) Nagara sejen
4) Patepah
5) Perang gagal
6) Panakawan/goro-goro
7) Perang kembang
8) Perang raket
9) Tutug
Selain sebagai media hiburan, pertunjukkan wayang golek juga memiliki fungsi lain yang sangat penting bagi masyarakat setempat, yakni ngaruat.
Ngaruat adalah membersihkan segala marabahaya. Beberapa orang atau anak yang diruwat antara lain adalah sebagai berikut :
1) Wunggal (anak tunggal)
2) Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia)
3) Suramba (empat orang putra)
4) Surambi (empat orang putri)
5) Pandawa (lima putra)
6) Pandawi (lima putri)
7) Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri)
8) Samudra hapit sindang (seorang putri dihapit dua orang putra), dan masih banyak yang lain.
Selain untuk kebutuhan spiritual, pertunjukan wayang untuk saat ini juga sering dipertunjukan dalam acara perayaan seperti khitanan, pernikahan, dan lain-lain.